Laman

Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juni 2014

Korupsi dan Darurat Pendidikan

Sumber gambar: http://www.notbeinggoverned.com
“Korupsi adalah unsur tunggal terbesar yang bisa dijumpai di India. Semua jalan, dari rumah sakit bersalin sampai ke tempat perabuan, berbau korupsi. Tidak seorang pun bebas dari padanya, tidak ada ruang tanpa korupsi sebagai upacara.” Demikian kesaksian Chetana Kohli tentang korupsi di India pasca perang dunia kedua sebagaimana dikutip Syed Hussein Alatas(1983) dalam bukunya Corruption, its nature, causes and functions.
            Demikian merajalelanya korupsi di India pada periode tersebut, hingga konon seorang siswa sekolah kerap dimintai upeti oleh gurunya berupa berbagai macam barang demi sebuah nilai. Pemberian upeti tersebut menggeser tradisi lama anak-anak India yang terbiasa memberikan bunga sebagai tanda penghargaan bagi gurunya. Pada periode yang sama, dikisahkan seorang suami yang mendapati istrinya bunuh diri, diperas oleh seorang agen polisi setempat untuk membayar sejumlah uang kepada pembantu inspektur polisi sebagai jaminan tidak dipersoalkannya kelalaian sang suami melaporkan insiden tersebut. Fenomena ini merupakan pucuk gunung es dari maraknya pemerasan oleh oknum aparatur Negara.(Alatas,1983)

Sabtu, 23 Februari 2013

Sintaksis dan Problem Rekonstruksinya: Sebuah Pengantar



Pertanyaan yang paling sering dimunculkan awak redaksi Majalah Sintaksis khususnya generasi angkatan 2006 ke bawah adalah, ke mana sebetulnya arah media tempat mereka berkiprah? Problem lain cenderung klise semisal masalah transformasi dari para pendahulunya yang dirasa minim, sistem pembinaan SDM yang belum baku serta pakem rubrikasi yang dirasa tidak begitu jelas batasannya. Selebihnya, keterampilan teknis seperti tulis-menulis dengan ragam jurnalistik, fotografi, layout, dan keahlian membuat proposal yang mampu menggerakkan calon pengiklan mungkin bisa dimasukkan dalam daftar persoalan.
            Tumpukan persoalan di atas memang menuntut jawaban jika ke depan media yang dirintis satu dekade lalu ini hendak melenggang maju. Sebabnya, nyaris problematika tersebut tidak mendapat respons memadai pada tiap periode kepengurusan hingga menyebabkan melemahnya arus transformasi di samping pewarisan masalah yang terus menumpuk. Oleh karena itu, tulisan ini dimaksudkan untuk merumuskan beberapa problem mendasar yang mungkin dibutuhkan oleh pegiat Sintaksis guna menyusun formulasi yang tepat mengenai apa itu Sintaksis dan ke mana sesungguhnya ia sebaiknya diarahkan. Karena itu pula tulisan ini menghindari sebisa mungkin paparan mengenai hal-hal yang bersifat teknis, namun lebih menekankan pada esensi problematika itu sendiri sebagai landasan memutuskan strategi maupun taktik untuk memecahkan problem-problem lain yang akan senantiasa muncul pada tiap zamannya.

Selasa, 24 Januari 2012

Bocah-bocah yang Merambat

tribunnews.com
Dan mereka merambat. Tepat pada saat fajar baru saja menyapa hari dan embun pagi masih berwujud selimut tipis dengan rujutan halus yang membaluti kulit-kulit mereka dengan lembut. Kaki mereka bergeser sedikit demi sedikit, terkadang ada getar mengejutkan dari tumpuan tempat berpijak. Tapi tak mengapa, kejutan adalah tanda kehidupan sedang berjalan meskipun harus ditempuh dalam langkah rambat yang menakutkan. Tapi tak mengapa, di usia dini mereka harus belajar cepat mengenal tantangan dan berjibaku dengan maut.
Keyakinan adalah harga mahal di negeri mereka setelah semuanya dihantam banjir bandang kebusukan. Tentu mudah menduganya, di mana ada manusia dengan mulut menganga, di situ juga tumpukan kotoran najis menggunung. Sebab kerakusan tidak pernah menghasilkan sistem metabolisme yang sehat bagi suatu masyarakat hingga nyaris tak ada nutrisi yang diserap. Maka kepercayaan pun larut barsama kotoran-kotoran itu. Tak ada yang mengendap apalagi menjadi energi hidup masyarakat negri bocah-bocah yang merambat.

Jumat, 02 Desember 2011

27 Tahun

livinginmycity.blogspot.com
Ahlan wa sahlan ya Wildan. Barakallahu fi umrik. Selamat datang kuucapkan di tapal usiamu yang makin mengabsahkan tuntutan kedewasaan baru. Kini kau seharusnya kian matang dan semakin tangguh menghadapi kehidupan. Maka bersiaplah. Akan banyak persoalan baru menanti di hadapanmu yang tak mungkin lagi kau sikapi dengan kepala batu apalagi sok tahu.
            Tersenyumlah wahai makhluk Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Semoga engkau senantiasa berada dalam lindungan-Nya. Dilingkupi rahmat-Nya. Dibukakan pintu pengetahuan-Nya. Dibimbing dalam petunjuk-Nya.  Diberi percik kekuatan-Nya. Dijauhkan dari murka-Nya. Dan kian dekat dengan jalan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Senin, 25 Juli 2011

Semacam Apologi


http://arinaforlife.blogspot.com
 Kembali menyapa pembaca blog ini setelah cukup lama saya tinggalkan bukanlah pekerjaan yang mudah ternyata. Ada keterputusan mood yang saya tidak tahu persis bagaimana menerangkannya. Semacam perasaan kehilangan sentuhan atau barangkali sekadar semangat mengalirkan tulisan.
           Kembali menyapa pembaca blog ini, saya dihinggapi pertanyaan. Adakah yang berkenan menyimaknya sebagai wujud pemakluman? Sebab jujur, ada rasa bersalah pada diri yang hinggap manakala dahulu sempat berkomitmen untuk mencoba menulis sebaik mungkin bagi siapapun yang hendak membaca goresan-goresan sederhana pada blog ini. Namun kesibukan mengerjakan skripsi yang mulai saya seriusi sejak awal bulan ini memang menuntut konsentrasi dan yang lebih berat lagi adalah fokus, fokus dan fokus.

Senin, 23 Mei 2011

Mengapa Perolehan Suara Parpol Agama Stagnan?

Tren menurunnya  perolehan suara parpol berbasis agama sebagaimana dilansir salah satu harian nasional kita beberapa minggu  lalu, sebenarnya hanya akan memantik diskusi lama mengenai relevansi politik aliran dalam tataran keindonesiaan kontemporer.  Sebagaimana bisa kita baca dalam catatan sejarah, politik aliran memang pernah mewarnai perjalanan sejarah percaturan negeri ini. Sebuah era di mana publik terfragmentasi berdasarkan kesadaran ideologi berbeda dengan menjadikan partai politik sebagai wadah aspirasi yang dilatari pandangan hidup masing-masing golongan.
        Namun seiring meningkatnya mobilitas manusia dan konvergensi pengetahuan yang dipicu perkembangan teknologi komunikasi, terjadi pergeseran identifikasi diri yang massif dalam diri masyarakat Indonesia. Pandangan hidup pun mengalami mekanisme sintesis maupun sinkretis sehingga corak ekspresi tidak lagi mudah untuk dijadikan penanda identitas. Begitu pula dalam wilayah politik.

Rabu, 04 Mei 2011

Euforia dari Negeri Dongeng

Pernikahan antara Pangeran William dan Kate Middleton pada Jumat(29/4) kemarin telah menyita perhatian dunia . Tidak hanya publik Inggris semata, bahkan masyarakat yang notabene berasal dari belahan bumi yang berjauhan sekalipun turut teralihkan sesaat dari isu-isu lain termasuk isu dalam negerinya sendiri
        Perhatian dan antusiasme yang begitu tinggi tersebut menarik untuk telaah. Sebab sejatinya prosesi pernikahan an sich bukanlah sebuah momentum yang teramat istimewa bagi suatu masyarakat. Ia memiliki derajat spesial hanya dalam lingkup individu hingga keluarga yang terlibat. Dalam lingkup individu, pernikahan merupakan momentum untuk membagi ruang privasi yang selama ini merupakan haknya semata kepada pihak lain. Pernikahan juga merupakan titik penyelarasan visi antar dua insan yang bersepakat mengarungi hidup bersama. Di sisi lain, keluarga dari individu-individu yang melangsungkan pernikahan terhubungkan oleh semacam ikatan baru. Itulah yang menyebabkan momentum tersebut menjadi khusus dan istimewa.

Selasa, 26 April 2011

Masyarakat Pengutang

Laporan yang diangkat Kompas dalam rubrik Fokus Jumat(15/4) agaknya perlu menjadi perhatian kita bersama. Khususnya dalam menilai perilaku konsumsi masyarakat terkait penggunaan kartu kredit yang beberapa hari ini kasusnya cukup ramai diperbincangkan publik. Di salah satu judul misalnya, bisa kita cermati bagaimana liputan promosi penggunaan kartu kredit begitu massif. Caranya pun terbilang variatif dan menggoda. Mulai dari iming-iming bonus, point, hingga discount di pusat-pusat perbelanjaan. Belum cukup sampai di situ, strategi menggandeng jaringan retail pun dilakukan. Maka tidak mengherankan apabila pihak bank selaku penerbit kartu plastik ini mampu meraih angka fantastis sejumlah 13,8 juta pemakai(Kompas,15/4)

Rabu, 13 April 2011

Budaya dalam Sebuah Bangsa Buta Harga

Sebuah media online nasional mencoba menghentakkan dengan berita, lagi, khasanah budaya kita diklaim negara tetangga. Satu persatu seperti sebelumnya, milik kita berpindah pada yang lebih menghargainya. 
Maka tidak perlu panik saudara. Biarkan saja karena marah pun percuma. Berang pada siapa dan untuk apa tiada seorang pun dari manusia negeri ini yang mampu menjawabnya dengan berwibawa. Budaya bagi negri ini tidak cukup penting untuk dibaca apalagi dipelihara. Karena toh kita tidak pernah peduli siapa dan akan jadi apa wujud diri di akhir cerita bangsa-bangsa dunia. Masyarakat negeri kita sudah pasrah diombang-ambingkan ombak zaman. Dan budaya hanya perangkat usang yang tidak menarik untuk diperbincangkan
Apa pentingnya budaya bagi kita? Bukankah sehari-hari kita biasa mengkonsumsinya tanpa peduli dari mana asalnya? Toh kita tetap baik-baik saja. Masyarakat pun lebih senang dengan keadaan ini. Hidup dalam kecairan identitas yang berganti setiap harinya. Hari ini bertingkah cengeng seperti lakon dalam sinetron, esok berlagak bak Rambo, lusa berganti menjadi pesolek belia ala Justin Beiber, untuk kemudian menyendukan tatapan layaknya artis-artis korea.

Selasa, 12 April 2011

Rabun

Ini adalah gejala gangguan paling umum yang diderita salah satu indra manusia bernama pengelihatan. Konon gejala tadi disebabkan turunnya kekuatan otot lensa mata untuk mencembung dan memipihkan diri. Sebabnya bisa bermacam-macam. Ada yang merupakan pemberian lahir, intensitas penggunaan yang berlebihan hingga alasan paling manusiawi bernama ketuaan. Namun, bisa juga karena penggunaan organ bernama mata yang tidak tepat sehingga terjadi kerusakan.
            Nah, berbicara tentang kerabunan dan pengelihatan, saya jadi teringat beberapa kejadian minggu-minggu ini di lingkungan yang masih menjadi bagian dari keseharian alam pengelihatan saya yakni, mahasiswa dan kemahasiswaan. Pertama, adalah berlangsungnya pemilwa di kampus saya sendiri dan yang kedua, pembekuan lembaga kemahasiswaan di kampus tetangga. Keduanya merupakan fenomena yang masih diikat oleh tema serumpun. Boleh jadi mahasiswa di kampus tetangga itu akan keberatan jika ada pembahasan yang menyamakannya kondisinya dengan keadaan kemahasiswaan kampus saya. Sebab memang kampus tetangga itu kerap kali merasa lebih superior baik dari segi kualitas mahasiswanya maupun gengsi almamaternya. Namun saya tetap berkeras menyamakan substansi dinamika keduanya dalam sebuah cerita bernama kerabunan.

Kamis, 31 Maret 2011

Kampanye Pluralisme yang Setengah Hati


Bagaimanakah relasi komunikasi dalam bingkai pluralisme itu sesungguhnya? Pertanyaan tersebut memang lebih layak dijawab oleh mereka yang memerjuangkannya. Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menerka apalagi sampai mencari pembenaran atas wacana yang bagi mayoritas muslim tampak absurd dan kerap kali tampil menyebalkan itu.
            Tulisan ini hanya mencoba merefleksikan pluralisme dalam tataran praktik sehari-hari saja. Lebih khusus lagi ketika wacana tadi secara intensif (bahkan ekspresif) tampil di jagat maya. Ruang cyber dalam hal ini coba penulis posisikan sebagai medan wacana tempat aneka rayuan, tarikan, dan model-model persuasi bertebaran. Pluralisme hanya salah satu di antara sekian banyak wacana yang mencoba bersaing guna memenangkan opini. Karenanya, membedah tawaran pluralisme yang nampak entah berbentuk artikel, publisitas, hingga perkara remeh semisal status Facebook dan celoteh Twitter menjadi menarik. Terutama jika kita coba mengukur tingkat kesungguhan dan konsistensi wacana tadi guna memenangkan penerimaan khalayak.

Senin, 27 Desember 2010

Obesitas Timnas


Setelah beberapa laga Timnas dalam kompetisi AFF terlewatkan, akhirnya kesempatan menyaksikan kiprah Firman Utina dkk datang juga. Itu pun bukan sekadar laga penyisihan grup semata melainkan final.
            Gegap gempita kompetisi ini memang sudah lama saya rasakan. Sebab meskipun tidak menyaksikan dari awal, alur cerita tetap saya ikuti melalui berita dan obrolan harian. Ada Okto yang mampu bergerak lincah sepanjang pertandingan tanpa kenal lelah. Ada Irfan Bachdim yang mendadak digandrungi kaum hawa dan melejit popularitasnya bak selebritas. Ada Gonzalaes, pemain naturalisasi selain bachdim yang beberapa kali menjadi pahlawan kemenangan. Dan Tidak kalah fenomenalnya penampilan Markus yang memukau lewat aksi-aksi heroiknya. Begitu pula sederetan pemain lain yang memiliki kontribusi tak kalah hebat dari nama-nama tadi.

Rabu, 22 Desember 2010

Berburu Buku


Minggu-minggu ini saya rasa-rasanya kembali dirasuki gairah memburu buku. Proses mencari jawaban atas pelbagai pertanyaan yang ingin segera dipecahkan agaknya memantik hobi lama yang sempat luntur karena keterbatasan kocek dan waktu. Namun bukan berarti saat ini kondisi keuangan saya tengah berlimpah dan waktu lapang tersedia. Semangat itu tumbuh tatkala membaca dan menyaksamai kiprah intelektual yang teramat sabar dalam menunda rasa puas terhadap olehan pengetahuan berikut sumber-sumber transformasinya yakni referensi.
            Tentu saja tidak mudah mendapatkan kesabaran semacam itu. Apalagi jika dihadapkan pada situasi di mana referensi yang dicari itu ternyata sudah menjadi barang langka lantas sulit didapatkan. Begitulah, akhirnya tidak saja dana dan waktu yang mesti disiapkan, tapi juga tenaga dan mental. Empat hari tempo yang saya habiskan guna mendapatkan buku yang diidamkan tak jua membawa hasil. Padahal nyaris semua toko dan lapak-lapak buku di Jogja telah saya datangi. Dari utara hingga selatan. Sementara cuaca kadang tak mendukung. Maklum bulan Desember. Hujan deras mau tidak mau berkali-kali memaksa saya untuk menunggu. Entah di tepi jalan atau berdiam di kamar kos. Terkadang karena hujan yang kucurannya belum juga menampakkan tanda-tanda akan reda, sementara hasrat mendapatkan buku telah membuncah, berbasah-basah pun menjadi tak masalah.

Senin, 20 Desember 2010

Tidak Menonton Bola Demi Agenda


“GOOOL…!”, dari balik kamar, teriakan tetangga-tetangga  kos saya  itu terdengar serempak diikuti riuh komentar yang tidak begitu jelas tertangkap di telinga. Dalam hati saya bersyukur. Tentulah teriakan tadi adalah ekspresi kegembiraan. Tim Garuda akhirnya bisa sedikit memberikan hiburan bagi rakyat negri ini yang sudah begitu jenuh oleh hingar bingar berita kebusukan politik dan hukum tanah air.
Sayangnya bergabung dengan euforia massa atas kebangkitan tim nasional belum sempat saya lakukan hari-hari ini mengingat begitu banyak agenda yang harus dikerjakan. Entah itu kembali menggeluti skripsi dan aneka literatur pendukungnya yang jauh-jauh hari sudah menumpuk, hingga memerhatikan perkembangan adik-adik angkatan yang sudah mulai memiliki kesadaran akan pentingnya budaya literasi, dan karenanya membutuhkan lebih banyak perhatian. Praktis menonton laga semifinal AFF kemarin malam tidak sempat saya lakukan. Saya hanya bisa sesekali membuka situs jejaring sosial guna memantau skor pertandingan dan aneka kejadian di Gelora Bung Karno sana yang dilaporkan spontan melalui status FB kawan-kawan hingga politisi yang katut dalam daftar pertemanan.

Senin, 25 Oktober 2010

Kuasa di antara Teror dan Harapan: Sebuah Pendekatan Retorika


Akhir-akhir ini ada fenomena yang menjadi atmosfer kehidupan bangsa kita. Yakni suatu keadaan di mana rasa takut diumbar (terorisme, radikalisme) bahkan dipaksakan hadir dalam pikiran kita selaku anak bangsa. Ketakutan sebagai sebuah perasaan, mengalir deras bagaikan air bah yang menerpa tiap-tiap sudut kehidupan lewat permainan citra dan rekayasa persepsi(liputan penggerebekan teroris, rekaman perampokan bersenjata, video latihan militer kelompok bersenjata tak dikenal). Ia dihadirkan bersama atraksi politik, ekonomi, hukum, budaya serta dikonsumsi massal untuk kemudian mengendap sebagai sistem keyakinan(baca: opini).
            Ketakutan yang awalnya adalah perasaan spontan mengalami proses produksi dan reproduksi sekaligus. Ia terbentuk melalui mekanisme generatif hingga mampu menghasilkan serangkaian variasi ketakutan baru tanpa akhir (instabilitas politik, guncangan ekonomi, ancaman kebhinekaan). Meskipun demikian, ia diterima sebagai sesuatu yang alami, dan wajar. Proses naturalisasi ketakutan artifisial bekerja sebagai supporting system bagi keberlangsungan reproduksinya sendiri. Ketakutan harus dimunculkan dan dipelihara karena ada pelbagai kepentingan yang melingkupinya. Motif politik, ekonomi, serta ambisi dominasi ideologi tertentu kerap memanfaatkan ketakutan sebagai instrumen yang efektif bagi keberlangsungan dan kebangkitan sebuah rezim atau tatanan.

Senin, 18 Oktober 2010

Problem Pendidikan: antara Standarisasi dan Fatalisme Institusinya


SAYA kira tidak sulit bagi kita untuk menyepakati derajat urgensi pendidikan bagi peradaban. Terlebih jika kita sering berinteraksi dengan pelbagai wacana menyangkut pendidikan itu sendiri. Setidaknya kita menyadari efeknya bagi pembentukan karakter, sikap, dan pola pikir. Karenanya tidak jarang pula muncul anggapan pendidikan adalah pangkal nasib kita hari ini. Maka ketika melihat kemiskinan, pertanyaan tentang pendidikan mengemuka, begitu pula ketika pelbagai masalah peradaban lainnya menjadi perbincangan.
Apa manfaat pendidikan? Mengapa pendidikan? Kedua pertanyaan tadi memang lebih mudah dijawab menggunakan fakta-fakta harian ketimbang pernyataan definitif yang memantik debat filosofis. Namun di balik fakta-fakta itu sejatinya terkandung makna-makna yang sangat kaya dan beragam. Begitu pula diskursus pendidikan akhirnya memiliki pelbagai asumsi yang berlainan. Sebagian ada yang beranggapan pendidikan sebagai alat bertahan dan karenanya kerap mengajukan retorika ‘menyesuaikan dengan nada zaman’, ada pula yang keukeuh berpegang pada asumsi-asumsi tertentu di mana pendidikan didudukkan sebagai pelayan tujuan transendental.

Selasa, 05 Oktober 2010

Mengaku Kalah


MEDAN pertempuran. Itulah imajinasi yang selalu saya bangun tentang kampus tempat saya belajar. Sejak semula demikianlah saya memandangnya. Sebagaimana medan pertempuran, di sana saya mengidentifikasi kawan dan lawan. Di sana juga saya mengatur strategi bertahan dan menyerang. Kampus itu memunculkan tantangan tersendiri untuk ditaklukkan. Peluang dan ancaman silih berganti datang. Begitu pula kekuatan dan kelemahan tampil beriringan di panggung institusi pendidikan tinggi Islam itu. Kesemuanya begitu menggairahkan waktu itu.
            Di medan pertempuran mana pun, para pelakunya tentu memiliki cita-cita untuk menang. Sebab di sanalah pintu masuk menuju tahta pencapaian. Kemenangan juga berarti tuas kendali yang amat menentukan arah masa depan. Karenanya kemenangan bagi saya teramat ideologis.Ia harus diperjuangkan seberat apa pun. Maka upaya demi upaya dilakukan. Saya harus menang berapa pun ongkosnya. Entah itu berarti masa studi yang menjadi lebih panjang, atau menangguhkan pelbagai rencana harian, bagi saya yang penting kampus itu takluk dengan parameter-parameter tertentu sebagai rujukannya. Walhasil, saya berusaha terlibat pada tiap-tiap dinamika kekampusan. Mulai dari propaganda di ajang Pemilwa, rancang bangun aliansi, mengonsep kesinambungan media komunitas, penguatan organisasi lewat manajemen konflik, pembentukan kelompok-kelompok kultural progresif, hingga debat-debat kecil di ruang perkuliahan coba dihadirkan demi sebuah warna yang begitu saya idamkan.

Sabtu, 18 September 2010

Manajemen Wacana Gerakan(1)


Pengantar
Pada tulisan sebelum ini sempat saya singgung secara singkat urgensi manajemen wacana bagi organisasi maupun harokah Islam. Kali ini akan coba saya uraikan lebih lanjut mengenai proses tersebut lebih dalam, meskipun mungkin nantinya akan ada beberapa pengulangan demi tercapainya kejelasan gagasan. Pertama-tama rasanya perlu saya sampaikan terlebih dahulu alasan-alasan yang melatari manajemen wacana perlu mendapat perhatian baik dari organisasi maupun harokah Islam.
Wacana sebagaimana diketahui melekat pada subyek ideologis. Sang subyek yang dalam kesehariannya dihadapkan pada realitas, memiliki kacamata ideologi manakala terlibat interaksi dengan suatu fenomena. Di sisi lain, subyek tersebut juga hadir dalam medan wacana yang terus bereproduksi di mana dirinya sendiri ikut terlibat. Ada kalanya subyek memikirkan dan menghasilkan suatu wacana, namun ia juga berpikir berdasarkan wacana tertentu. Maka wacana bagi subyek, adalah produk dan bahan baku sekaligus. Subyek ini tidak melulu diartikan sebagai individu, ia mungkin mengambil bentuk organisasi tidak terkecuali gerakan Islam.

Senin, 13 September 2010

Khutbah Ied, Liberalisme, dan Manajemen Wacana Kita

 
ENTAH gerangan apa yang memancing khatib Ied kemarin mengangkat tema liberalisme agama. Pagi itu saya cukup terkejut dengan apa yang disampaikannya. Beberapa jamaah lain juga tampak kurang nyaman dengan keseluruhan isi ceramah sang khatib. Tema yang tidak umumnya diangkat dalam momentum 1 Syawal tersebut terkesan terlalu dipaksakan meskipun diuraikan dengan baik.
            Saya menerka sang khatib mungkin tengah gusar dengan pertumbuhan liberalisme pemikiran di kalangan anak muda muslim. Ia yang berlatar belakang dosen sebuah sekolah tinggi agama boleh jadi prihatin menyaksikan penyebaran pemikiran tersebut justru massif di lingkungan almamaternya sendiri. Berkali-kali ia melontarkan kritik terhadap perguruan tinggi Islam yang rela dijadikan lahan persemaian bibit-bibit cacat moral dan akidah itu. Berkali-kali pula ia mengajak jamaah untuk ikut memerhatikan kondisi perguruan tinggi Islam yang seolah perlahan tapi pasti digerogoti oleh golongan pengagung ‘toleransi’, inklusivisme, dan pluralisme agama ini.

Jumat, 10 September 2010

Puasa Media


SUDAH lebih dari setengah tahun saya berhenti mengkonsumsi media konvensional. Sebut saja televisi, radio, dan surat kabar. Selama setengah tahun ini saya berusaha menghindar sambil menikmati kesunyian informasi yang sebelumnya terasa begitu bising. Arus informasi yang kata orang-orang musykil dibendung itu coba saya tangkis dengan satu langkah ekstrem: Menutup semua akses media konvensional dari kehidupan saya.
            Awalnya agak berat meninggalkan keramaian yang menawarkan banyak hiburan dan sensasi itu. Tapi menjadi lebih ringan saat saya coba membangun kesadaran bahwa informasi yang tampil di media massa kita tidak lagi sehat lantas mustahil mencerdaskan. Bagi saya media massa konvensional kita terlalu disesaki sampah-sampah berita, omong kosong politik, propaganda murahan, serta yang paling sulit saya maafkan adalah manipulasi fakta. Maka tidak ada ruginya menjauh. Pelan-pelan keyakinan itu terus saya bangun. Televisi mungil di kamar kost tidak lagi saya hidupkan. Tiga bulan kemudian giliran langganan surat kabar resmi saya hentikan.