ENTAH gerangan apa yang memancing khatib Ied kemarin mengangkat tema liberalisme agama. Pagi itu saya cukup terkejut dengan apa yang disampaikannya. Beberapa jamaah lain juga tampak kurang nyaman dengan keseluruhan isi ceramah sang khatib. Tema yang tidak umumnya diangkat dalam momentum 1 Syawal tersebut terkesan terlalu dipaksakan meskipun diuraikan dengan baik.
Saya menerka sang khatib mungkin tengah gusar dengan pertumbuhan liberalisme pemikiran di kalangan anak muda muslim. Ia yang berlatar belakang dosen sebuah sekolah tinggi agama boleh jadi prihatin menyaksikan penyebaran pemikiran tersebut justru massif di lingkungan almamaternya sendiri. Berkali-kali ia melontarkan kritik terhadap perguruan tinggi Islam yang rela dijadikan lahan persemaian bibit-bibit cacat moral dan akidah itu. Berkali-kali pula ia mengajak jamaah untuk ikut memerhatikan kondisi perguruan tinggi Islam yang seolah perlahan tapi pasti digerogoti oleh golongan pengagung ‘toleransi’, inklusivisme, dan pluralisme agama ini.
Ceramah sepanjang lebih kurang 45 menit tersebut memang mengaitkan problematika yang diajukan dengan semangat kembali pada fitrah. Pemikiran liberal bagi sang dosen adalah sebuah wacana yang bertentangan dengan kecenderungan manusia normal. Menurutnya manusia pada dasarnya selalu membutuhkan otoritas sebagai bukti entitas bernama makhluk. Itu salah satu fitrah manusia. Maka wacana relativitas kebenaran sejatinya memang absurd. Lebih menyerupai pembangkangan atas sesuatu yang tak terelakkan dan karenanya lebih dekat pada kedzoliman. Lebih lanjut menurutnya pengakuan atas kebenaran majemuk lebih mengarah pada keputusasaan dalam ikhtiar menggapai kebenaran itu sendiri.
Sebenarnya saya tercerahkan dengan khutbahnya. Terlebih argumentasinya cukup logis jika dibenturkan dengan nalar kaum liberal yang jadi seterunya itu. Hanya saja saya merasa kurang tepat jika pesan baik tersebut disampaikan pada kesempatan itu. Beberapa jamaah cenderung tidak begitu memerhatikan, sedang yang lain terlihat kesulitan memahami maksud dari wasiat khotbah Ied tersebut. Kenyataan itulah yang membuat saya menjadi kurang apresiatif. Saya percaya maksud baik dari sang khotib. Sayang ia agaknya kurang peka bahwa wacana liberalisme akademik sesungguhnya amat jauh dari pikiran masyarakat awam. Jauh berbeda dengan lingkungan tempatnya berkiprah.
Dari kejadian pagi itu saya jadi berpikir tentang sang dosen, tentang golongan liberal, dan tentang masyarakat umum sekaligus. Pikiran tersebut lantas bermuara pada persoalan penyikapan atas wacana. Tentang reaksi juga problem menerka pikiran khalayak.
Bagi dosen tersebut wacana liberalisme agama mungkin penting diangkat ke tengah-tengah khalayak guna menumbuhkan sikap waspada. Imunitas publik menjadi perlu untuk ditumbuhkan dengan mengajukan berbagai argumentasi tandingan yang solid. Saya teringat beberapa tokoh yang memang memberikan perhatian amat kuat pada bidang ini. Sebutlah kawan-kawan aktivis INSIST. Mereka tidak henti-hentinya mengajukan debat akademik yang bisa dijadikan rujukan umat Islam Indonesia dalam memandang diskursus serba-bebas itu. Ibarat pertempuran maka golongan tadi memilih menjadi lapis pemukul utama. Posisi yang tentu saja penting dalam pertarungan diskursus.
Namun demikian, pertempuran dengan kalangan liberal tidak seharusnya hanya berkutat di wilayah akademik an sich. Jauh-jauh hari wacana liberalisme agama sudah bermain di banyak lini. Meskipun tidak mengatasnamakan identitas sesungguhnya, wacana tersebut telah melakukan penetrasi dengan baju budaya populer.
Film merupakan salah satu media sosialisasi pemahaman yang belakangan semakin sering dijadikan ujung tombak propaganda. Sebutlah ‘Perempuan Berkalung Surban’, sebagai salah satu contohnya. Sebuah sinema yang mengusung tema kesetaraan jender. Bukan hanya ‘pembelaan’ terhadap perempuan semata yang menjadi titik tekan utama dalam film tersebut, beberap ulama geram dibuatnya lantaran institusi pesantren ditampilkan dengan begitu buruk: jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Dalam hal ini, sebuah wacana pembelaan akhirnya menuntut diskriminasi pula.
Terakhir film yang saya tonton berjudul ‘Cin(t)a’ malah dengan cukup vulgar mengkampanyekan pernikahan beda agama dengan dalih kerukunan dan toleransi. Film tersebut tanpa sengaja saya temukan dalam flashdisk yang dikembalikan oleh seorang kawan. Boleh jadi kawan saya itu terkecoh kala mengetahui muatan film tersebut meleset dari ekspektasinya semula. Ia memang saya kenal sebagai penggemar sinema ‘merah jambu’. Karenanya wajar jika judul film tadi memperdayainya. Kawan saya ini mengaku meng-copy begitu saja dari sebuah warnet yang berlokasi di wilayah sebuah perguruan tinggi Islam kota tempat kami berdomisili tanpa mengintip terlebih dahulu barang secuplik fragmen pun.
Tidak ada yang istemewa memang dari film tersebut. Pembuatannya yang terkesan tergesa-gesa dengan biaya yang saya taksir tidak begitu besar plus artis karbitan sebagai pemerannya menjadikannya jauh dari level mutu layak tayang. Mungkin itu yang menyebabkan penyampaian wacananya terkesan kasar (baca:vulgar). Namun ini juga merupakan bukti bahwa pertarungan ada di berbagai front (professional maupun amatiran) dan kian atraktif. Belum lagi jika kita membicarakan aneka fiksi versi cetak yang dilempar ke pasar; akan ada torehan jejak perusakan akidah pada banyak judul bisa dengan mudah ditemukan.
Dari kenyataan itu rasanya pemikiran mengenai pembagian peran sudah waktunya diwujudkan. Sebab energi ummat tidak seharusnya dihabiskan di satu lini. Lebih khusus lagi lini pertempuran dalam medan wacana. Selayaknya spesialisasi mulai dirancang dengan mengimajinasikan saluran-saluran komunikasi yang ada. Harapannya dengan upaya tadi, ummat memiliki pilihan ketika hendak mengetengahkan isu pada momentum yang tepat. Perlu ada penataan klasifikasi subyek, media, dan momentum dalam proyek-proyek diskursus.
Sebut saja itu manajemen wacana. Sebuah upaya mengelola pelbagai ide, gagasan, dan isu sekaligus agar tepat sasaran lagi efisien. Di tengah-tengah belantara problematika yang bertumpuk serta aneka konspirasi yang hadir silih berganti atas diri umat ini, sudah sepatutnya penyikapan kita bertransformasi menjadi lebih canggih. Optimalisasi potensi intelektual yang ada perlu dikelola agar kian berdaya. Begitu pula dengan penggalakan ijtihad-ijtihad baru berkenaan dengan pertahanan ummat.
Pada akhirnya manajemen wacana menuntut adanya jaringan. Bagi saya inilah syarat yang paling sulit. Sebab sebagaimana pernah dikatakan Eep Saifullah Fatah dalam satu kesempatan, umat Islam begitu mudah membuat organisasi namun lemah jika menyangkut pembangunan jaringan. Namun saya percaya pada tiap kesulitan ada potensi strategis terpendam menanti untuk digali. Ia hanya perlu disadari oleh tiap-tiap elemen umat ini agar upaya potensial tadi terasa lebih ringan untuk dikerjakan.
Untuk konteks pembangunan jaringan, perlu disadari tidak hanya sebagai bagian dari koordinasi dakwah semata, melainkan juga upaya menjaga syariat: Silaturrahmi. Dari sudut pandang ini seharusnya tidak ada lagi alasan dari tiap-tiap individu(baca:intelektual), harokah, maupun organisasi Islam untuk bertahan di balik tembok resistensi terhadap dialog. Silaturrahmi juga merupakan jalan pembuka yang tepat dalam momentum Syawal saat ini. Dari situ masalah-masalah riil umat dapat diangkat satu-persatu dalam pembicaraan serta menjadi fokus titik temu antar elemen yang ada.
Berangkat dari masalah riil ummat dalam sebuah ruang silaturrahmi, berarti mendekatkan para pelaku kebajikan dengan fakta lapangan sekaligus merangsang budaya dialogis yang produktif. Sebab jika masing-masing memulai dari titik ideologis, dapat dipastikan dialog yang ada hanya akan berujung debat kusir sebagaimana kerap terjadi. Setelah itu pembagian lahan garap dapat disesuaikan berdasarkan spesialisasi masing-masing namun tetap dalam mekanisme koordinasi. Seperti apa bentuk koordinasi, pelaksanaan teknis, serta pola strategi di lapangan nanti hendaknya fleksibel sesuai dengan kesepakatan tiap-tiap elemen yang terlibat. Jika diperlukan tidak ada ruginya membangun lembaga yang khusus menjaring fakta, data, sekaligus mengolahnya menjadi strategi gerak bersama.
Manajemen wacana yang didukung jaringan antar elemen umat Islam saya kira hanya langkah awal yang bisa segera dieksekusi dalam suasana Idul Fitri tahun ini. Masih banyak proyek-proyek berikutnya menanti. Kita hanya perlu memastikan bahwa tiap-tiap momentum hari besar membawa makna strategis bagi terwujudnya perbaikan.
Khutbah Ied seorang dosen yang saya ceritakan di awal tulisan ini mudah-mudahan menjadi pemacu bagi saya juga anda untuk ikut menyumbangkan ide bagi perbaikan pengemasan dan pengelolaan wacana. Minimal mulai belajar mengenal publik di lingkungan kita lebih dekat. Selanjutnya mendorong ulama-ulama, harokah, maupun organisasi kita untuk proaktif dalam silaturrahmi karena hal terakhir inilah yang memungkinkan segala strategi persatuan diwujudkan[]
Liberalisme itu sebenarnya membuat kehidupan beragama penuh warna..
BalasHapusSebenernya beda tipis sama penggunaan kata ''toleransi''..
Tp kata temen qu, hidup ''tarbiyah'' pokoknya yang masuk surga item emas doang.. Hahaha.
@Dino Aldigan:g ada liberalisme juga sudah penuh warna kok..tuh si Lib malah mau bikin orang2 buta warna...hehehe...surganya item emas mungkin gedung DPR kali.... :p
BalasHapus