Laman

Rabu, 13 April 2011

Budaya dalam Sebuah Bangsa Buta Harga

Sebuah media online nasional mencoba menghentakkan dengan berita, lagi, khasanah budaya kita diklaim negara tetangga. Satu persatu seperti sebelumnya, milik kita berpindah pada yang lebih menghargainya. 
Maka tidak perlu panik saudara. Biarkan saja karena marah pun percuma. Berang pada siapa dan untuk apa tiada seorang pun dari manusia negeri ini yang mampu menjawabnya dengan berwibawa. Budaya bagi negri ini tidak cukup penting untuk dibaca apalagi dipelihara. Karena toh kita tidak pernah peduli siapa dan akan jadi apa wujud diri di akhir cerita bangsa-bangsa dunia. Masyarakat negeri kita sudah pasrah diombang-ambingkan ombak zaman. Dan budaya hanya perangkat usang yang tidak menarik untuk diperbincangkan
Apa pentingnya budaya bagi kita? Bukankah sehari-hari kita biasa mengkonsumsinya tanpa peduli dari mana asalnya? Toh kita tetap baik-baik saja. Masyarakat pun lebih senang dengan keadaan ini. Hidup dalam kecairan identitas yang berganti setiap harinya. Hari ini bertingkah cengeng seperti lakon dalam sinetron, esok berlagak bak Rambo, lusa berganti menjadi pesolek belia ala Justin Beiber, untuk kemudian menyendukan tatapan layaknya artis-artis korea.

Sudahlah, tak perlu marah apalagi harus menghujat negeri tetangga. Kita memang sudah tidak punya harga. Jangankan budaya, nyawa warga pun dipatok murah hingga cuma-cuma. Para perompak salah menjadikan mereka sandra. Sebab pemerintah negeri para sandra itu hanya sekumpulan pengecut yang bersembunyi di balik tahta istana.
Sudahlah, hentikan perdebatan apakah benda purbakala yang hendak dipamerkan di negeri tetangga asli atau repelika. Percayalah, tidak akan banyak berpengaruh bagi kita. Dengan segepok uang barang palsu bisa disulap menjadi asli di tangan para ahli negeri ini. Kita toh takkan pernah tahu. Kita adalah bangsa yang sudah terlalu akrab dengan kepalsuan bagaimanakah mungkin mampu menguji keaslian.  Mata palsu, hidung palsu, cek palsu, tanda tangan palsu, ijazah palsu sudah lazim menjadi modal sosial kita kemudian bersanding dengan manusia-manusia gadungannya, polisi gadungan ,tentara gadungan, pebisnis gadungan, bankir gadungan dan politisi gadungan.Maka masih pantaskah kita bicara tentang asli dan palsu di negeri yang kita sendiri tidak pernah tahu apakah masih ada kesungguhan di dalamnya
Dongeng zamrud khatulistiwa sedari dulu tak memancarkan kemilaunya. Cuma bualan orang-orang tua penggemar nostalgia. Generasi kita kini tidak butuh cerita masa lalu dengan bumbu heroisme. Kita lebih menginginkan pengalih penderitaan bernama candu erotisme, kebebasan mengumpat dan ritual pengubur aturan. Tak perlu repot-repot  mengulang kisah tentang pengorbanan pendahulu. Pengorban bagi kita adalah memburuh dan kompensasinya bernama rupiah. Sesederhana itu, namun lebih kita percayai sebagai tujuan hidup hakiki karena perut kontan terisi. Itulah budaya bagi kita.
Kita memang bangsa pandir yang selalu buta akan harga segala sesuatu. Maka akui saja daripada terus berlagak pintar. Itu lihatlah si pintar meringis mengharap beasiswa, kita jawab dengan memberikannya pada seorang polisi penjoget India. Sebelumnya dua perempuan melakukan hal serupa, kita apresiasi sebagai unjuk kreatifitas berarti. Maka insyafilah itu sebagai ukuran kecerdasan budaya kita bersama[]

Ilustrasi: http://phiciato.files.wordpress.com/2010/07/shame-culture.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar