Ini adalah gejala gangguan paling umum yang diderita salah satu indra manusia bernama pengelihatan. Konon gejala tadi disebabkan turunnya kekuatan otot lensa mata untuk mencembung dan memipihkan diri. Sebabnya bisa bermacam-macam. Ada yang merupakan pemberian lahir, intensitas penggunaan yang berlebihan hingga alasan paling manusiawi bernama ketuaan. Namun, bisa juga karena penggunaan organ bernama mata yang tidak tepat sehingga terjadi kerusakan.
Nah, berbicara tentang kerabunan dan pengelihatan, saya jadi teringat beberapa kejadian minggu-minggu ini di lingkungan yang masih menjadi bagian dari keseharian alam pengelihatan saya yakni, mahasiswa dan kemahasiswaan. Pertama, adalah berlangsungnya pemilwa di kampus saya sendiri dan yang kedua, pembekuan lembaga kemahasiswaan di kampus tetangga. Keduanya merupakan fenomena yang masih diikat oleh tema serumpun. Boleh jadi mahasiswa di kampus tetangga itu akan keberatan jika ada pembahasan yang menyamakannya kondisinya dengan keadaan kemahasiswaan kampus saya. Sebab memang kampus tetangga itu kerap kali merasa lebih superior baik dari segi kualitas mahasiswanya maupun gengsi almamaternya. Namun saya tetap berkeras menyamakan substansi dinamika keduanya dalam sebuah cerita bernama kerabunan.
Kerabunan pertama yang saya catat adalah ketidakmampuan mahasiswanya melihat kesamaan problem mendasar rata-rata kampus di seluruh Indonesia. Dan kedua, berkaitan dengan kerabunan pertama, yaitu ketidakmampuan mereka memformulasikan isu-isu untuk menjawab problem mendasar tadi. Di sini saya memang tidak membagi-bagi mahasiswa menjadi kategori usang bernama aktivis dan akademis. Karena pada dasarnya masalah yang dihadapi kedua kategori tadi pun sejatinya serupa.
Dalam kasus kampus saya yang mana prosesi pemilwa baru saja berakhir dengan terpilihnya beberapa mahasiswa untuk menduduki posisi Dewan Perwakilan Mahasiswa(DPM) misalnya, lagi-lagi lebih banyak diramaikan wacana-wacana yang terlampau dangkal menyangkut arah perjuangan. Nyanyian lama seperti tingginya biaya pendidikan, komersialisasi kampus, dan transparansi keuangan lembaga kemahasiswaan tidak mengalami lompatan baru menuju pematangan. Jika pun ada isu lain, tidak jauh-jauh dari perkara hambatan berkegiatan akibat birokrasi pemegang kebijakan lembaga sebelumnya serta peraturan kampus bernama jam malam.
Sedangkan di kampus tetangga, kebijakan kampus yang mempersyaratkan biaya penggunaan areanya sebagai perlintasan kendaraan umum, tengah menjadi sorotan. Peristiwa terakhir yang saya dengar, menyangkut pembekuan lembaga mahasiswanya akibat melakukan demonstrasi penolakan kebijakan tadi. Sejatinya masalah komesialisasi penggunaan lintasan di kampus tersebut sudah lama berlangsung, namun lagi-lagi belum terbaca tanda-tanda adanya pembahasan isu substansial dari mahasiswa kampus ternama di kota Yogyakarta ini.
Gejala dan penyakit acap kali memang tertukar dalam mekanisme identifikasi. Hal ini tidak jarang disebabkan kepekaan dan alat baca yang tidak memadai. Di samping itu, di zaman yang mana pelbagai informasi begitu cepat, tampilan-tampilan permukaan pada akhirnya tidak lagi sempat untuk di telaah lebih dalam. Dalam kasus perjuangan mahasiswa di kampusnya masing-masing, problem identifikasi tadi diperparah oleh mekanisme akademik yang ada di mana spesialisasi keilmuan menjadi teramat penting untuk dikejar. Jika pun ada letupan kajian interdisiplin, itupun lebih mengarah pada pembentukan karakter spesialis tadi. Efeknya tentu saja pada kemampuan membaca persolan secara komprehensif.
Isu kekampusan di Indonesia memang dilematis. Untuk kasus kampus saya, mahasiswa yang terlibat dalam gerakan sudah terlanjur dihadapkan pada percepatan ritme akademik sementara budaya intelektualnya belum sempat terbangun. Oleh karenanya mereka terlihat trtatih-tatih mengejar targetan perkuliahan dan hanya mampu sedikit menggugat isu-isu penting yang ada di dalamnya. Sedangkan di kampus tetangga, budaya intelektual itu sudah bercokol lama, namun urung mengalami pendewasaan khususnya dalam memandang kodisi lingkungan tempat mereka mengenyam pendidikan. Akibatnya, kritik mereka tajam menghujam problematika kebangsaan harian, tapi sekaligus tumpul memertanyakan arah kebijakan pendidikannya sendiri.
Padahal di banyak media sudah banyak pengamat yang mengulas mengenai isu-isu pendidikan bangsa yang bermasalah. Konsep link and match dan standar internasional dalam banyak kesempatan juga telah menuai gugatan. Sayangnya, di sebuah negeri yang politiknya dianggap sebagai bahan kajian meriah, dan seolah paling penting, ranah tersebut lebih menarik perhatian dari urusan pendidikan, tak terkecuali bagi mahasiswa. Suara-suara menyangkut domain yang satu ini paling-paling tidak jauh dari keadilan distribusinya bagi seluruh warga Negara. Urusan konten nanti dulu.
Menjelang hari pendidikan nasional bulan Mei mendatang, ada baiknya mahasiswa mulai memberikan waktunya untuk menelaah area ini. Sebab di sinilah karakter suatu bangsa dibentuk. Hendaknya ada sebuah pengkajian khusus dari diri mahasiswa menyangkut pola ideal pendidikan di negerinya sendiri. Dari situlah menurut hemat saya perjuangan mahasiswa dalam tataran kampus dimulai. Sebab kalau mau diurut lagi pelbagi persoalan kekampusan juga pada akhirnya akan berpulang di wilayah ini: kebijakan pendidikan. Tengoklah perlombaan mengejar peringkat dunia yang tengah berlangsung saat ini, ujung-ujungnya menuntut kampus-kampus dan sekolah membenahi infrastrukturnya. Dan itu tidak murah. Belum lagi sertifikasi mutu yang diburu tidak juga cuma-cuma. Bahkan pembangunan taman kampus pun demi mengejar atribut berkelas internasional. Semua punya harga. Lantas dari mana institusi pendidikan memenuhi kebutuhan finansialnya jika bukan melalui mekanisme komersialisasi?
Dari sinilah mahasiswa perlu melihat, bahwa sejatinya wacana komersialisasi dan standar internasional saling berkait. Imbasnya kemudian merembes pada kebijakan entah itu kurikulum, pungutan ini-itu, beserta alokasinya. Semua terjadi begitu saja tanpa pengawasan yang berarti dari mahasiswa. Karena itu jika kemudian kampus bertindak sewenang-wenang, seharusnya itu semua perlu dikaji dari hulunya. Tentu saja bukan berarti mendiamkan pelbagai ketidakadilan kebijakan di area permukaan tetap berlangsung. Ini hanyalah sebuah upaya untuk mengajak mahasiswa mau melihat problem mendasar dari pendidikan bangsa. Jangan sampai penyakit itu luput dari pengelihatan akibat kerabunan membaca tren pendidikan di lingkungannya sendiri[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar