Semula ia hanyalah hasil oksidasi biasa layaknya pengkaratan. Namun prosesnya lebih cepat. Ia telahir dari rahim pembakaran kimiawi di mana panas dan cahaya menjadi bagian dari organ utamanya. Sementara sebagaimana layaknya pelbagai proses pembakaran, oksigen amat dibutuhkan. Dan itu ia dapatkan dengan cuma-cuma. Awalnya dalam kadar yang terbilang sedikit, namun terus ia usahakan menambahnya dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya.
Kerakusan pada oksigen tidak selalu berakibat usianya panjang. Namun demikian jika itu dipadukan dengan elemen kimia seperti bubuk mesiu, atau zat lain yang dalam bahasa kaum awam dikatakan “mudah terbakar” hidup singkatnya cukup menggetarkan.
Dan inilah riwayat perjalanan sepercik api di sebuah negeri. Hidupnya benar-benar singkat tidak seperti saudaranya yang ditakdirkan berada di belahan bumi lain. Saudaranya di hutan misalnya, terkadang bisa hidup hingga berbulan-bulan akibat suplai bahan bakar alami berupa pepohonan kering di musim kemarau panjang. Atau api-api yang menggelora di pabrik-pabrik raksasa kreasi manusia. Mereka dimanja karena nominal mata uang mampu ditarik dengan geloranya meskipun di saat yang sama dalam jumlah yang besar timbal dan karbon juga dengan setia ia bagi. Timbal dan karbon itu kemudian meresap masuk melalui saluran pernapasan banyak manusia lalu mengendap pada organ dan jaringan penting dari tubuh-tubuh penuh dosa untuk kemudian siap berubah menjadi penyakit paling mematikan yang tidak pernah dirasa perlu untuk dipersoalkan.
Tetapi api dengan tenggat hidup yang begitu singkat itu tak pernah iri dengan kawan ataupun saudaranya yang lain. Sebab ia bisa mendapatkan banyak hal yang tidak mampu diperoleh saudara-saudaranya itu. Ia begitu dikenang karena tingkahnya mampu berbuah prahara. Awalnya hanya ledakan. Tidak harus besar. Namun jika berada di sebuah tempat yang tepat dan di waktu yang juga tepat, suara ledakan kecil sekalipun mampu beresonansi menjadi gegemparan lewat mulut-mulut manusia yang berbau busuk itu.
Api kecil itu, berhasil menyulut kelahiran api-api lain dengan menjadikan manusia sebagai bahan bakarnya. Dan jika sebuah pabrik memuntahkan timbal dan karbon ke udara, maka manusia-manusia yang tersulut api menjadikan mulut-mulut mereka yang ternganga sebagai cerobong penyalur segala buangan yang bukan sekadar karbon melainkan juga gelombang suara bernama sumpah serapah dan bualan. Sebagian kalangan menyebutnya fitnah, sedangkan yang lain lebih memilih mengemas dengan nama laporan, pendapat, opini, serta analisa.
Maka riwayat hidup api kecil itu terus lestari dalam ingatan kolektif masyarat kota maupun desa. Ia disepakati untuk dibenci, namun beberapa orang dengan malu-malu menyimpan senyum terkulum. Api kecil itu tidak hanya menyulut sebuah kehancuran tapi juga berfungsi sebagai kunci pembuka kotak pandora di mana tragedi yang dikandungnya ternyata bisa disulap menjadi komoditas berharga.
Api kecil itu telah padam lama. Tapi riwayatnya masuk dalam daftar panjang bencana kemanusiaan lalu memunculkan banyak istilah yang hingga bertahun-tahun terus akrab di telinga masyarakat, tua atau muda; kaya atau miskin; laki-laki atau pun perempuan. Sebenarnya hal ini sama sekali tidak mengherankan. Sebab anak-anak dari negeri yang telah berada di tepi jurang kehancurannya itu sejak berpuluh-puluh tahun yang lampau mentradisikan api sebagai mainannya. Bunyi mercon dengan aneka ragam frekuensi bukan hal asing bagi mereka. Bahkan tatkala gulungan bubuk mesiu mungil itu telah ditetapkan sebagai barang terlarang, api-api dalam tubuh mereka membakar naluri untuk terus merakit lagi dan lagi.
Hanya saja kehebohan memang baru-baru ini saja terjadi. Dimulai dari ratusan raga meregang nyawa di sebuah pulau tempat api-api dipuja bersama dewa-dewa penduduknya. Ya di pulau itu api diyakini sebagai elemen penyuci jiwa. Maka raga tiap manusia yang mati dari kalangan penduduk pulau itu perlu direbahkan di atas bara kayu bakar yang menyala demi jiwa mencapai nirwana.
Seperti itulah seharusnya. Tapi kali itu kejutan api merenggut jiwa dengan paksa seketika. Tubuh-tubuh hidup tidak direbahkan di atas tungku sebagaimana jasad hampa jiwa. Dalam keadaan sukma tengah bermesraan dengan gejolak nafsu kebinatangan yang bersemayam dalalam serat-serat daging, api menceraikan keduanya. Bangkai-bangkai setengah matang bergelimpangan tanpa sempat menjadi abu.
Namun sebuah fakta tersingkap. Bangkai-bangkai manusia setengah matang tadi sebagian besar bukanlah penduduk asli pulau itu. Kebanyakan mereka wisatawan yang berasal dari negara di mana mamalia berkantung menjadi simbolnya. Konon negara asal mereka dahulu merupakan lokasi pembuangan bajingan-bajingan dan penjahat sebuah imperium yang pernah demikian digdaya. Imperium di mana peradaban api mencapai puncaknya.
***
Kekecewaan seorang berakar pada pilihannya sendiri. Tidak terkecuali bagi Promotheus. Keputusannya mendukung kelompok Olympus dalam Titanomakhia, ternyata menghasilkan fakta yang tidak diharapkan. Penghianatan yang ia dan saudaranya Epimetheus lakukan pada kaumnya sendiri sekonyong-konyong berbuah nestapa. Manusia, seolah baru saja lolos dari mulut singa terperangkap rahang buaya. Kelompok Olympus ternyata sama saja dalam memerbudak ciptaannya. Maka ia putuskan berulah.
Zeus, sang raja para dewa Olympus itu dibuat nampak dungu ketika dalam sebuah jamuan persembahan, Promotheus merekayasa tampilan dua hidangan. Hidangan pertama adalah daging kerbau yang dikemas dalam jeroan sapi sedang yang kedua sebenarnya hanyalah tulang kerbau namun tampilan mengkilat gajih lembu digunakan untuk membungkusnya. Hidangan kedua oleh karenanya lebih menggugah selera Zeus. Sedang yang pertama, jangankan untuk disantap, dilihat pun sudah cukup untuk membuat seseorang memuntahkan isi perutnya sendiri.
Pilihan Zeus pada hidangan yang kedua berbuntut tradisi di kalangan manusia. Mereka akhirnya merasa berhak untuk menyimpan daging, sedangkan dewa-dewa cukuplah diberi seserahan tulang bakar yang dibungkus dalam lemak sapi.
Promotheus puas dengan perbuatannya. Dendam kalangan Titan terhadap kelompok penguasa Olympus rasa-rasanya cukup terbayarkan hari itu. Ia masih belum lupa bagaimana Zeus dan saudara-saudaranya memperlakukan para Titan setelah pertempuran titanomakhia. Ayahnya, Lapetos, bersama pasukan titan yang lain dicampakkan ke dalam sebuah tempat terkutuk, tartatos. Tempat yang bahkan terlalu buruk untuk mantan penguasa dunia bawah tanah menghabiskan hari-harinya. Maka penghinaan harus dibayar dengan wujud serupa. Dan kesewenang-wenangan para dewa atas manusia perlu dibalas dengan pembangkangan.
Sayangnya kelegaan Promotheus tak berlangsung lama. Murka Zeus tak ayal mendatangkan petaka baru. Tidak mungkin bagi seorang penguasa dewa-dewa menerima penghinaan dari makhluk yang lebih rendah begitu saja. Persembahan berupa tulang tak bisa diterima. Manusia harus dihukum karena kelancangannya. Demikianlah, api sebagai kebutuhan hidup sehari-hari umat manusia ia sembunyikan. Ia menjadi komoditas terlarang.
Seketika bumi menjadi gelap gulita. Tiada sedikitpun titik pelita sejauh mata memandang. Tidak ada pemanas untuk memasak makanan sehari-hari, penerang jalan, apalagi unggun penghangat badan. Manusia dicekam dingin dan ketakutan yang teramat sangat. Tanpa api apalah daya mereka. Tidak mungkin menempa besi tanpa api, dan membaca? Bagaimana mereka mampu membaca sedangkan indra pengelihatan mereka sendiri tak mampu mencerap barang secercah cahaya?
Namun bukan Promotheus jika kehabisan akal. Terlebih ini sudah kepalang tanggung. Pembangkangan harus tuntas. Ia putuskan untuk kembali melancarkan aksinya. Api ia curi dari bukit Olympus dan diberikannya pada umat manusia. Keonaran kedua ia tempuh meskipun mengetahui resiko yang akan dihadapinya.
Zeus sudah tidak lagi mampu bersabar atas ulah Promotheus yang kali ini begitu gamblang menentangnya. Cukup sudah. Titan bengal itu pun akhirnya harus menerima nasib mengerikan. Tubuhnya dibelenggu di sebuah gunung sementara seekor elang terus setia mematuki hatinya setiap hari. Hati Promotheus dikoyak dan dicabik-cabik untuk kemudian kembali utuh pada hari berikutnya. Begitu seterusnya, elang itu kembali datang dan mengoyak organ tubuh titan naas itu.
Sementara manusia yang telah mendapatkan kembali api, tidak pernah dibiarkan bersukacita. Epimetheus dan istrinya, Pandora, diutus untuk menebar pelbagai penyakit dan tragedi tanpa akhir. Sebuah kotak dihadiahkan kepada pasangan itu oleh Zeus. Ia mengetahui, hanya masalah waktu saja kotak berisi nestapa itu akan terbuka lalu menyebar di kalangan manusia. Tidak ada kebaikan dalam kotak itu kecuali sesuatu yang masih bisa diperdebatkan yakni harapan.
Manusia kehilangan pelindung setianya. Karena itu mereka putuskan mencari pembela dari kalangannya sendiri. Dari sana pahlawan-pahlawan bermunculan. Mereka adalah orang-orang dengan kemampuan istimewa yang setia melindungi sesama dari kekejian dewa-dewanya sendiri. Ironisnya golongan pahlawan yang muncul ini kebanyakan juga masih keturunan dewa. Mereka darah daging hasil perselingkuhan penghuni Olympus dengan manusia. Bahkan Heracles yang teramat legendaris itu tidak lain adalah buah nafsu birahi Zeus dengan seorang perempuan bernama Alkmene .
Demikianlah pertikaian abadi itu dimulai. Manusia membenci para dewa begitu pula sebaliknya. Dengan api digenggaman, manusia merasa tidak lagi membutuhkan pihak lain di luar dirinya. Mereka mampu melakukan apa pun dengan api. Tidak perlu lagi ada persembahan konyol untuk memancing kemurahan hati Olympus. Api sudah cukup menjadi modal mencipta dan membangun peradaban.
Kisah yang dinukilkan Hesiodos dalam Theogonia-nya itu mungkin terlihat absurd. Namun bagi kebanyakan orang di daerah beriklim ekstrim, tempat cerita tadi diwariskan turun-temurun, dan di mana api adalah segala-galanya, mitos pun tak urung menjadi amat berkesan. Belum lagi trauma masa lalu manusia-manusianya akan doktrin ketuhanan di masa lalu terlalu menyakitkan untuk dikenang, menjadi pembenaran. Dahulu di hadapan doktrin itu mereka selalu menjadi pihak yang kalah dan dibekap kebodohan. Sementara mereka sendiri tidak menemukan penjelasan tentang mengapa sekelompok manusia dari belahan bumi yang berbeda pernah memecundangi peradabannya habis-habisan.
Tidak ada penjelasan lain kecuali mereka harus membuang doktrin ketuhanannya sendiri dari kehidupan masyarakat. Di antara ‘orang bijak’ mereka ada yang menyerukan “agama adalah candu” ada pula yang berseloroh “tuhan telah mati”. Pengulangan mitologi pertikaian dengan tuhan digiring ke alam nyata. Karenanya, cerdik pandai mereka menyuarakan kembali berpegang pada api.
Selanjutnya revolusi terjadi. Api-api dipantik di mana-mana. Tenting besi mulai membahana. Struktur-struktur baja mereka dirikan. Dan kuil-kuil api bernama pabrik bergemuruh. Dengan api mereka berhasil menemukan banyak hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Mereka menemukan cara menggerakkan kapal tanpa perlu lagi menanti hembusan angin yang sesuai apalagi harus mengayuh. Mereka mendapatkan cara meluncurkan mesin terbang dengan kecepatan yang mampu memecundangi laju suara. Dan mereka menemukan siasat mempercepat putaran roda mesin-mesin untuk berprodukasi lebih banyak lagi. Soal siapa yang akan menyerap hasilnya, itu bisa diatur lewat ekspansi pasar dan teritori. Dan bagaimana jika kehadiran mereka ditolak? Ah, ada yang luput tersampaikan. Mereka juga mengembangkan senjata pengobar api sebagai pamungkas intimidasi.
***
Lelaki itu duduk di atas ranjang sempit. Kepalanya tertunduk dan matanya sesekali terpejam. Mulutnya terus berkomat-kamit. Jika dilihat sekilas ia mungkin akan disangka tengah menuturkan mantra-mantra. Namun di tangannya kitab suci terbuka.
Sosok itu mendiami sebuah ruangan kusam dengan ventilasi seadanya. Di beberapa bagian dinding terdapat bercak jamur sebagai penanda lembabnya udara. Namun ruangan itu mungkin merupakan tempat paling tenang bagi seseorang yang hampir separuh usianya dihabiskan untuk melawan.
Tidak tanggung-tanggung ia berjuang. Dari gugatan atas asas tunggal yang mengekang, hingga hukum positif negaranya coba ia rujukkan dengan kehendak Tuhan. Jauh sebelum anak-anak muda negerinya berani menggugat rezim tiran, ia sudah berdiri menentang hingga suatu hari memutuskan pergi menyelamatkan diri dari kejaran aparat. Ketika rezim tiran tumbang, lelaki itu tahu ia harus kembali bersama tubuh yang telah renta, dan rambut putihnya yang kian menipis.
Namun demikianlah kenyataannya. Sejak semula lelaki itu memang tidak pernah mengharapkan riuh tepuk tangan layaknya pejuang. Tapi fakta sikap bangsa yang dulu sempat ia tinggalkan ternyata jauh lebih menyakitkan dari sekadar penolakan. Ajakan-ajakannya untuk kembali menghambakan diri pada Tuhan tidak jarang berbuntut pelecehan. Pelbagai julukan pun harus ia tanggung sambil mengelus kesabaran yang tersisa dalam dada. Tirani ternyata telanjur menghancurkan moral bangsanya, hingga perintah Tuhan pun mereka acak-acak bersama euforia memertanyakan setiap kuasa.
Sayup-sayup di luar ruangan terdengar langkah kaki dan dialog. Lelaki itu menghentikan bacaan ayat-ayat lalu meletakkan kitab suci mungilnya di atas sebuah meja berlapis mika yang terkelupas beberapa bagiannya. Ia mencoba mendengar percakapan yang tengah berlangsung sambil memejamkan mata. Berkonsentrasi hanya pada suara. Namun tindakan itu tidak cukup memertajam indra pendengaran dari seonggok tubuh yang telah dimakan usia. 70 tahun waktu yang telah diberikan Sang Pencipta untuk menjalani kehidupan ia insyafi segera menurunkan kekuatan dan kepekaan panca indra.
Ya putaran waktu terasa begitu cepat berlalu. Sampai akhirnya ia tiba di ruangan itu. Lelaki tua itu melepas kacamatanya sambil mengurut kening. Terbayang rentetan kejadian yang menyeretnya kembali dalam kesendirian. Bayang-bayang api berkelebat. Suara-suara lagu pengiring kematian yang digemakan stasiun televisi guna melengkapi liputan tragedi menyelinap. Samar-samar, lalu menjadi semakin jelas. Tiba-tiba saja namanya mulai disebut-sebut sebagai pemantik api penyebab tragedi oleh orang-orang yang tak pernah dikenalnya. Pemuda-pemuda yang mengaku sebagai muridnya bermunculan dengan wujud siluet hitam. Satu persatu dari mereka mengungkapkan kesaksian sebagai pelaku dan bagian dari organisasi api yang tidak pernah ia dirikan namun selalu menisbatkan namanya sebagai pemimpin.
Di saat yang sama negeri tempat peradaban api dipuja terus menebarkan ancaman akan adanya sindikat pemantik api pada negeri-negeri yang dikanggkanginya. Lelaki tua itu tidak habis pikir, mengapa isu api tidak dikembalikan saja pada peradaban api. Mengapa kepada dirinya yang tak pernah memegang senjata api tuduhan itu berpulang? Tidakkah orang-orang bisa melihat bahwa api selalu mencari bahan bakar untuk memerpanjang hidupnya entah berupa hutan atau minyak mentah?
Pintu ruangan terbuka. Sesosok pria paruh baya masuk dengan langkah tergesa. Matanya segera menemukan sosok yang dicarinya. Sementara orang yang dicari segera menyambut dengan senyuman seperti biasa. Lelaki tua itu mengenali tamunya meskipun katarak mulai menghalangi pengelihatan dan kacamata tak lagi terpasang. Kursi ia sodorkan kepada pengunjunggnya itu.
Akan tetapi keramahan tidak bersambut dengan ceria. Tamu itu menampakkan raut gusar. Setumpuk berkas ia letakkan di atas meja mika bersanding dengan kitab suci milik kliennya.
“Ustadz, anda dikenai tuntutan berlapis dengan ancaman hukuman mati.”
Lelaki tua itu tidak menunjukkan reaksi. Ia percaya ajal itu akan datang. Namun bukan ditetapkan di ruang pengadilan.
“Ustadz, ada saksi baru yang memberatkan.”
Bagi lelaki tua itu tidak ada yang lebih berat dari amanah Tuhan atas dirinya.
“Ustadz, baru saja beredar kabar, ada bom meledak lagi di ibu kota, kali ini dikemas dalam sebuah buku. Saya khawatir ustadz kembali diprasangkai”
Lelaki tua itu mengerutkan kening sesaat. Selanjutnya hanya seyum. Lagi-lagi api. Ia menatap wajah tamunya yang gelisah. “Setan memang dibuat dari api,” ucapnya datar sembari kembali melantunkan ayat-ayat kitab suci. Sementara sang pengunjung takjub menyaksamai lantunan lelaki tua dihadapannya terasa sejuk dan mengalir seperti air[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar