Laman

Senin, 23 Mei 2011

Mengapa Perolehan Suara Parpol Agama Stagnan?

Tren menurunnya  perolehan suara parpol berbasis agama sebagaimana dilansir salah satu harian nasional kita beberapa minggu  lalu, sebenarnya hanya akan memantik diskusi lama mengenai relevansi politik aliran dalam tataran keindonesiaan kontemporer.  Sebagaimana bisa kita baca dalam catatan sejarah, politik aliran memang pernah mewarnai perjalanan sejarah percaturan negeri ini. Sebuah era di mana publik terfragmentasi berdasarkan kesadaran ideologi berbeda dengan menjadikan partai politik sebagai wadah aspirasi yang dilatari pandangan hidup masing-masing golongan.
        Namun seiring meningkatnya mobilitas manusia dan konvergensi pengetahuan yang dipicu perkembangan teknologi komunikasi, terjadi pergeseran identifikasi diri yang massif dalam diri masyarakat Indonesia. Pandangan hidup pun mengalami mekanisme sintesis maupun sinkretis sehingga corak ekspresi tidak lagi mudah untuk dijadikan penanda identitas. Begitu pula dalam wilayah politik.

     Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak dapat diartikan sebagai senjakala politik aliran. Sentimen keagamaan yang dipicu oleh kebangkitan spiritualisme baru, masih adanya kesenjangan ekonomi, dan problem ketidakadilan tetap menuntut sesuatu yang otentik dan khas dalam perspektif moral(bukan lagi sekadar simbol). Tumbuh suburnya ormas dan parpol berbasis agama dalam hal ini dapat dipandang sebagai indikator mengenai pencarian sesuatu yang otentik tadi. Sementara rakyat sejatinya adalah penilai aktif yang menentukan saluran mana yang paling mewakili kepentingan dan hati nuraninya terkait penyelenggaraan negara.
Perbedaan ekspektasi
        Lantas jika kemudian kita kembali pada persoalan faktual di awal mengenai tren penurunan suara parpol berbasis agama sejak tahun 1955 hingga terakhir 2009, maka tafsiran yang mungkin muncul bukan semata persoalan konversi pandangan hidup. Bukan pula sekadar penggunaan simbol keagamaan yang juga telah diadopsi parpol nasionalis. Ada benarnya jika dikatakan fenomena tersebut disebabkan perkara moral politik yang belakangan kerap dipertanyakan masyarat. Beberapa anggota dewan yang berlatar belakang anggota parpol berbasis agama ternyata terindikasi pula mengalami degradasi moral dan itu sangat disayangkan.
     Padahal, jika hendak sedikit merefleksikan kondisi masyarakat kita, ada perbedaan harapan yang ditumpukan pada ragam parpol di negeri ini. Perbedaan harapan ini yang nantinya akan sangat memengaruhi model evaluasi rakyat atas kinerja wadah aspirasinya.
        Pada parpol berbasis agama, masyarakat amat menghendaki komitmen yang tinggi akan moral. Moral di sini bisa menyangkut moral individu manusianya maupun moral politik ketika berbicara mengenai kepentingan rakyat banyak. Mengapa demikian, sebab yang pertama diingat, bahwa doktrin agama amat dominan menekankan aspek moral lebih dari apa pun. Ia berbicara tentang kejujuran, sikap randah hati, kepedulian dan jiwa melayani; menjauhkan diri dari hal-hal rendah seperti menggandrungi jabatan, uang, serta perilaku asusila. Komitmen moral inilah yang amat diharapkan publik dari parpol berbasis agama sebagai titik keunggulannya.
        Jika atribut yang melekat pada aspek moral itu cacat, atau gagal diaktualisasikan, di situlah kekecewaan terbesar masyarakat mengemuka. Problem kinerja masih bisa dimaafkan manakala menghinggapi aktor politik yang berasal dari parpol berbasis agama, hanya saja jika sudah menyangkut moral, ini menjadi sesuatu yang sulit diterima. Sebab jika moral diterabas, masyarakat dengan mudah bisa menilai bahwa jargon-jargon agama—sesuatu yang mereka anggap suci—ternyata dijadikan tidak lebih dari sekadar komoditas politik.
     Berbeda halnya dengan mereka yang sejak awal memproklamirkan diri berlatar belakang nasionalis. Komitmen kebangsaan plus profesionalisme kinerjalah yang lebih banyak mendapatkan sorotan.
Performa kultural
      Hal lain yang juga perlu diperhatikan oleh parpol berbasis agama adalah persoalan basis kekuatannya sendiri. Meskipun parpol bermain pada ranah determinasi struktural dalam suatu negara, namun agama yang selama ini menjadi spirit perjuangan mereka sejatinya beroperasi di ranah kultur. Artinya, parpol berbasis agama harus tetap melakukan upaya-upaya edukasi di masyarakat.
      Stagnasi jumlah pemilih parpol berbasis agama menurut penulis, tidak lain lebih disebabkan kurangnya upaya edukasi ini. Energi parpol rupa-rupanya lebih banyak tercurah pada atraksi politik yang teramat elitis tanpa melibatkan kesadaran masyarakat untuk terlibat. Hal ini harus diakui bukan hanya problem parpol berbasis agama saja namun juga parpol yang mengklaim diri nasionalis. Hanya saja sosialisasi moralitas actual itu lebih dibutuhkan oleh parpol berbasis agama. Sebab kerapkali ada kebingungan tersendiri dikalangan konstituennya manakala menyaksamai geliat praksis parpol dari kacamata normatif.  Sayangnya, sejauh ini domain edukasi politik masih dominan dipegang oleh para pengamat serta akademisi. Akibatnya ada kesenjangan pemahaman mengenai realitas politik antar konstituen dengan para wakilnya di parlemen.
       Untuk itu perlu dihadirkan semacam upaya penjembatanan di sini. Parpol berbasis agama jika ingin tetap eksis perlu menyeimbangkan atraksi mereka di parlemen dengan upaya membangun basis kulturalnya di masyarakat.
       Satu hal yang bisa ditawarkan di sini adalah sistem rotasi. Parpol berbasis agama perlu mengembangkan sistem pergiliran peran di antara anggota-anggotanya. Hal ini dilakukan demi menyeimbangkan dua domain kultur dan struktur. Mereka yang sudah berpengalaman mengecap kue jabatan entah sebagai legislatif maupun eksekutif, hendaknya digilir untuk memasuki ranah kultural-edukatif guna membangun atau menguatkan basis massanya.
       Rotasi juga dimaksudkan untuk menghindari sindrom kekuasaan yang hari ini kerap diidap aktor-aktor politik tanah air. Di samping itu, rotasi juga akan memacu mekanisme kaderisasi parpol agar tetap sehat dan terhindar dari penyakit kelunturan moral dan pragmatisme. Pertanyaannya lagi-lagi persoalan moral: cukup rendahhatikah anggota parpol berbasis agama untuk berkenan dirotasi?[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar