Pernikahan antara Pangeran William dan Kate Middleton pada Jumat(29/4) kemarin telah menyita perhatian dunia . Tidak hanya publik Inggris semata, bahkan masyarakat yang notabene berasal dari belahan bumi yang berjauhan sekalipun turut teralihkan sesaat dari isu-isu lain termasuk isu dalam negerinya sendiri
Perhatian dan antusiasme yang begitu tinggi tersebut menarik untuk telaah. Sebab sejatinya prosesi pernikahan an sich bukanlah sebuah momentum yang teramat istimewa bagi suatu masyarakat. Ia memiliki derajat spesial hanya dalam lingkup individu hingga keluarga yang terlibat. Dalam lingkup individu, pernikahan merupakan momentum untuk membagi ruang privasi yang selama ini merupakan haknya semata kepada pihak lain. Pernikahan juga merupakan titik penyelarasan visi antar dua insan yang bersepakat mengarungi hidup bersama. Di sisi lain, keluarga dari individu-individu yang melangsungkan pernikahan terhubungkan oleh semacam ikatan baru. Itulah yang menyebabkan momentum tersebut menjadi khusus dan istimewa.
Namun ada kalanya ketika sebuah pernikahan dilakoni oleh sosok yang memiliki modal sosial dan kultural tertentu, efeknya bisa menjangkau publik yang lebih luas. Pernikahan William dan Kate, merupakan contoh bagaimana sebuah prosesi sakral yang privat, menjadi bagian dari konsumsi publik. Status Pangeran William sebagai kandidat penerus tahta kerajaan Inggis amat wajar bila dianggap sebagai faktor yang memperbesar pengaruh pernikahannya pada publik domestik (baca:inggris). Namun gerangan apakah yang menjadikan masyarakat dunia turut merayakannya?
Melacak akar fantasi
Untuk menerka jawabannya, mari sejenak mengenang masa kanak-kanak kita dahulu. Sebuah masa di mana permainan dan dongeng mengisi hari-hari kita. Ruang di mana imajinasi mengembara dalam pencarian mengenai proyeksi cita-cita dan harapan. Masa kanak-kanak selalu menyimpan kesan yang amat dalam pada diri seseorang. Saat itu kita tidak terlampau dibebani oleh pelbagai tuntutan hidup yang mengharuskan kita melebur dalam rutinitas. Itu juga berarti kesempatan berimajinasi menjadi lebih banyak tanpa harus membenturkannya dengan tembok bernama kalkulasi.
Dalam masa-masa itu, definisi tentang harapan amat dipengaruhi fantasi. Itulah sebabnya dongeng entah dalam bentuk film atau pun buku yang dibacakan oleh orang dewasa di sekitar kita, perlahan mampu mengambil alih identifikasi diri serta gambaran ideal tentang realita maupun nilai-nilai. Dahulu misalnya, anak-anak kita sempat akrab dengan sosok kancil yang cerdik dan berhati mulia, namun semenjak persinggungan antar budaya demikian massif, dongeng dari negeri yang berbeda pun intensif dikonsumsi.
Sebutlah kisah populer mengenai kehidupan putri dan pangeran di sebuah negeri antah berantah. Tentang bagaimana Cinderella, seorang gadis jelata yang akhirnya dipersunting seorang pangeran, atau putri salju yang kutukan tidurnya terlepas saat mendapatkan kecupan seorang yang juga pangeran. Pelbagai kisah mengenai kehidupan kerajaan yang jelas bercorak Eropa tersebut telah menyebar di seluruh penjuru dunia tidak terkecuali negeri kita.
Dalam dongeng-dongeng tadi setidaknya ada dua gagasan pokok yang coba diakomodasi. Pertama, gagasan mengenai relasi dua individu yang saling mencintai yang diwujudkan melalui ikon pangeran-putri. Pangeran dan putri di sini tidak bisa sekadar diartikan sebagai dua insan dengan kedudukan sosial semata. Ia juga merupakan perwujudan imaji akan masa muda yang glamor. Sebab bersama kisah tentang pangeran dan putri, turut serta di dalamnya adegan pesta serta parade busana.
Kedua, gagasan tentang kebahagiaan. Di pelbagai kisah di mana pangeran dan putri menjadi ikon protagonis, kebahagiaan senantiasa ditampilkan dalam wujud pernikahan antar keduanya. Bukan hanya itu, pernikahan juga diposisikan sebagai pintu gerbang menuju kebahagiaan ‘abadi’. Tentu saja sebelum momen itu terjadi, alur cerita telah dibangun lengkap dengan drama mengenai kesedihan dan perjuangan.
Demikianlah imajinasi itu dibangun dalam dongeng yang paling sering dikonsumsi anak-anak di seluruh penjuru dunia. Maka tidaklah mengherankan jika fantasi mengenai pangeran-putri beserta muatan nilainya memiliki pengaruh luas dan seolah menjadi standar imajinasi.
Realisasi sebuah fantasi
Pernikahan William dan Kate dengan demikian dapat diartikan sebagai realisasi sebuah impian kanak-kanak yang telah mengendap lama dalam diri masyarakat dunia khususnya Eropa. Dongeng yang sedari kecil biasa mereka nikmati dan angan-angankan mampu mewujud. Pangeran tampan yang dulu hanya ada dalam cerita kini hadir dengan pakaian militernya yang gagah. Sementara sang putri jelita itu mendampingi lengkap dengan gaunnya yang anggun. Tidak lupa kereta kencana dihadirkan seolah dipersiapkan tidak saja sekadar mewakili sebuah tradisi, melainkan juga untuk memenuhi fantasi lautan manusia yang ada.
Di saat yang sama media-media terus memenuhi dahaga massa dengan cerita-cerita di seputar pernikahan kedua mempelai. Mulai dari masa kecil, remaja, kisah-kisah keluarga mereka, hingga romansa semenjak mereka berdua saling kenal. Tak ketinggalan, harapan-harapan disesakkan kepada keduanya demi sebuah fantasi happily ever after yang entah seperti apa wujudnya itu[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar