Laman

Selasa, 24 Januari 2012

Bocah-bocah yang Merambat

tribunnews.com
Dan mereka merambat. Tepat pada saat fajar baru saja menyapa hari dan embun pagi masih berwujud selimut tipis dengan rujutan halus yang membaluti kulit-kulit mereka dengan lembut. Kaki mereka bergeser sedikit demi sedikit, terkadang ada getar mengejutkan dari tumpuan tempat berpijak. Tapi tak mengapa, kejutan adalah tanda kehidupan sedang berjalan meskipun harus ditempuh dalam langkah rambat yang menakutkan. Tapi tak mengapa, di usia dini mereka harus belajar cepat mengenal tantangan dan berjibaku dengan maut.
Keyakinan adalah harga mahal di negeri mereka setelah semuanya dihantam banjir bandang kebusukan. Tentu mudah menduganya, di mana ada manusia dengan mulut menganga, di situ juga tumpukan kotoran najis menggunung. Sebab kerakusan tidak pernah menghasilkan sistem metabolisme yang sehat bagi suatu masyarakat hingga nyaris tak ada nutrisi yang diserap. Maka kepercayaan pun larut barsama kotoran-kotoran itu. Tak ada yang mengendap apalagi menjadi energi hidup masyarakat negri bocah-bocah yang merambat.
Itulah sebabnya, semua mata menatap iri. Sebab pada langkah perlahan mereka tiba-tiba saja terlihat keyakinan yang kokoh. Dalam cengkraman bocah-bocah pada tali rapuh itu, mereka percaya bahwa tujuan hanya perkara waktu. Keyakinan mereka besar. Sebesar keyakinan bahwa ibu guru akan kembali menanyakan pekerjaan rumah yang semalam telah mereka kerjakan di bawah penerangan ala kadarnya. Sebesar keyakinan mereka bahwa teman-teman telah menanti di ujung sana untuk kembali belajar bersama seperti hari-hari sebelumnya. Karena itulah cengraman mereka semakin kuat, pijakan kaki mereka semakin kokoh. Bocah-bocah yang merambat berteriak pada dunia, di sini kami masih punya keyakinan!
                Bocah-bacah itu masih merambat. Sungai di bawah telapak kaki mereka masih menyemangati dengan deru airnya yang berwarna kecoklatan. Sementara para penanggungjawab masih tak habis pikir, mengapa bocah-bacah itu tidak melewati jalur lain yang menjamin mereka mampu melenggang dengan aman. Mereka heran, kemudian geram, karena bocah-bacah yang merambat menjadikan citra para pejabat terancam. Mereka mungkin sudah lupa kesenangan kanak-kanak akan petualangan seru yang menantang. Mereka juga sudah lupa kapan terakhir kali mengerti apa itu nyali. Maka jadilah mereka latar kusam bagi bocah-bocah yang merambati jembatan gantung rusak  sembari lagi-lagi menampakkan wajah palsu kepedulian.
                Tentang kepedulian. Pernahkah orang-orang yang menyaksikan potret bocah-bocah yang merambat itu berpikir bahwa anak-anak itu samasekali tidak membutuhkan? Bocah-bocah itu sama sekali tidak peduli, bahkan mungkin terganggu, sebab kepedulian berarti terhambatnya perjalanan mereka akibat kerumunan juru foto memadati ujung jalan. Kepedulian tidak pernah mampu mengurangi beban pada ransel mereka akibat jejalan buku pelajaran yang beratnya terus bertambah. Kepedulian tidak pernah mampu menggugah orang-orang untuk menghadirkan kegembiraan. Dan yang paling penting, kepedulian itu membosankan.
               Di sudut dunia yang berbeda, televisi menampilkan pantauan gerak rambat mereka yang memukau. Itu juga bentuk kepedulian. Sebagian ada yang membandingkannya dengan adegan pada film laga. Sebagian yang lain justru menggunakannya untuk membuang keyakinan yang tersisa. Tapi bocah-bacah yang merambat hanya tahu mereka tidak boleh datang terlambat, sebab jam dinding masih berdetak, sebab mereka tahu lonceng sekolah masih tertambat. Dan di sana, dalam heningnya, alam semesta tengah menyaksikan miniatur sebuah negeri yang sesungguhnya sama-sama merambat bahkan mungkin tak kunjung beranjak[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar