Laman

Minggu, 22 Januari 2012

UII dan Cermin Virtual

blog.unand.ac.id
“UII Peringkat Pertama PTS di DIY dan dan Kedua di Indonesia”. Demikian judul laporan pemberitaan portal online yang beberapa hari lalu sempat marak ditautkan melalui jejaring sosial oleh mahasiswa, alumni, dosen, termasuk Rektor Universitas Islam Indonesia Prof.Dr. Edy Suandi Hamid. Sampai esai ini disusun, penulis masih menemukan beberapa civitas yang “merayakan” posisi institusi pendidikan tempat mereka menimba ilmu ini melalui posting-ulang berita, dan obrolan ringan di dunia maya.
                Dipahami luapan kegembiraan tersebut mengingat ikatan yang dibangun suatu institusi pendidikan tarhadap civitasnya bisa menjadi sangat emosional. Sebabnya asal-usul institusi pendidikan bisa terus melekati diri sepanjang hayat. Ini tidak sama dengan ikatan konsumen barang kebutuhan sehari-hari yang loyalitasnya bisa dengan mudah luntur manakala ada penjual lain yang lebih kompetitif. Terlebih perguruan tinggi terlanjur dianggap sebagai sarana mobilitas sosial dan belakangan prestise, yang mana bekal  kompetisi untuk bertahan hidup dan eksistensi seolah dipertaruhkan di sana. Maka euforia peringkat UII sebagai PTS nomor satu di DIY dapat dibaca sebagai pembenaran akan kepercayaan atau mungkin juga nasib bagi sebagian mahasiswa yang pada awalnya tidak bercita-cita memasuki perguan tinggi ini.
                Meskipun demikian pertanyaan reflektif sudah selayaknya kita ajukan. Benarkah peringkat tersebut merupakan cermin kualitas UII sesungguhnya? Pertanyaan ini dimaksud bukan untuk menghancurkan kebanggaan atas pemberitaan kemarin melainkan upaya membaca secara proporsional di mana sesungguhnya posisi UII di arena kompetisi perguruan tinggi di Indonesia. Sebab pemeringkatan perlu disadari bukannya tanpa bias, sehingga teramat naif jika sebuah institusi pendidikan yang notabene berisi insan-insan terpelajar dengan mudah menerima mentah-mentah penilaian apa pun yang berasal dari luar.

Mirror-mirror on the wall

                Sebagian dari kita tentu tidak asing dongeng Snow White. Cerita semasa kanak-kanak dulu yang mengisahkan seorang putri yang dimusuh ratu sekaligus ibu tirinya sendiri. Sebabnya sang ratu cemburu manakala cermin ajaib miliknya tiba-tiba menyatakan bahwa putri adalah wanita tercantik. Padahal selama bertahun-tahun cermin tersebut senantiasa memberikan kesaksian bahwa ratu yang juga penyihir itulah wanita tercantik di dunia. Alhasil, serangkaian cara ditempuh demi menyingkirkan putri, mulai dari membuangnya ke hutan dan menyuruh seorang pemburu menghabisi nyawanya, hingga menjebak anak tirinya itu agar menyicipi apel beracun. Untunglah sang putri hanya tertidur dan tubuhnya dijaga oleh tujuh kurcaci sampai suatu hari seorang pangeran membuatnya terjaga.
                Menarik mencermati perilaku ratu penyihir dalam dongeng karya Grimm bersaudara (Jacob & Wilhem Grimm) di atas dengan kecenderungan UII yang beberapa tahun terakhir begitu gandrung dengan atribut World Class University dan peringkat dunia. Ada gejala yang nyaris sama berupa kecenderungan mencari penilaian diri melalui medium tertentu secara kontinu guna memastikan diri lebih baik dari pihak lain. Jika ratu penyihir dalam dongeng Snow White bertanya pada cermin ajaib, UII mencari jawaban itu pada cermin virtual semacam Webomatrix dan belakangan beralih pada 4ICU ( Four International College and Universities). Perilaku gemar bercermin tentu saja tidak salah namun perlu didasari motivasi reflektif. Persoalannya apakah demikian motif PTS khususnya UII?
 Motivasi bercermin sebenarnya bisa dipantau dari tindakan pasca mencermati bayangan sendiri. Dalam dongeng di atas, sang ratu misalnya, alih-alih berbenah, ia justru berpikir untuk menyingkirkan pesaingnya. Dalam kasus ini pendapat cermin ajaib melahirkan tindakan negatif berupa penghacuran pesaing oleh tokoh yang dinomorduakan. Perilaku semacam ini sebenarnya amat lazim kita jumpai dalam iklim persaingan sehari-hari. Menjatuhkan pesaing dianggap sebagai cara instant guna memenangkan kompetisi. Logikanya sederhana saja. Jika pihak yang unggul lenyap, maka otomatis dia yang berada pada peringkat di bawahnya yang akan menggantikan. Perilaku UII mungkin tidak demikian. Pasca dipecundangi oleh UMY dalam pemeringkatan versi Webomatrix, perguruan tinggi tertua di Indonesia ini lebih memilih berpegang pada pemeringkatan institusi yang berbeda. Dalam hal ini, UII memilih beralih cermin. Persolannya kemudian cermin manakah yang paling otoritatif dalam menilai kualitas sebuah perguruan tinggi? Atau yang lebih substansial lagi, apa parameter kualitas pendidikan bagi UII sendiri hingga kemudian memilih berganti cermin?

Jujur : Langkah awal menilai diri

Adalah suatu gejala yang berbahaya bagi suatu institusi pendidikan apabila menyandarkan penilaian dirinya pada pihak lain yang berbeda visi. Sebabnya jelas, problem mengenai parameter kualitas akan mengemuka disebabkan perbedaan cara pandang menyangkut perkara-perkara substantif. Tidak pula menutup kemungkinan pemilihan cermin diri dapat mengintervensi pandangan hidup yang sebelumnya telah terumuskan. Dalam kasus UII, memang benar Prof.Edy Suandi Hamid selaku rektor sempat menyatakan bahwa peringkat hanya digunakan sebagai benchmarking, namun dengan format publisitas yang selama ini ditampilkan, besar kemungkinan publik hanya akan mencermati titik tekan utama laporannya saja. Di samping itu, dalam iklim kapitalisme pendidikan hari ini, godaan pemberitaan peringkat dapat menjadi legitimasi bagi institusi pendidikan mana pun untuk memasang ‘harga’ yang dinilai pantas dikompensasi peserta didik. Godaan inilah yang kemudian dikhawatirkan mengancam visi luhur perguruan tinggi.
                Dalam sebuah wawancara dengan televisi MBC Naquib Al-Attas seorang filsuf dan pemikir pendidikan Islam pernah mengatakan bahwa dalam sudut pandang Islam, mengenal diri sendiri merupakan salah satu capaian paling penting dalam proses pendidikan. Mengenal diri tentu saja mensyaratkan kejujuran sebagai sikap yang harus terlebih dulu dipegang. Di sinilah urgensi perguruan tinggi seperti UII perlu menggalakkan prilaku jujur dalam seluruh aktivitasnya hingga bermuara pada pengenalan diri yang sesungguhnya, alih-alih terserap dalam logika cermin-cermin virtual bernama Webomatrix atau 4ICU.
UII sebenarnya dapat merumuskan parameter keunggulannya tanpa harus perpayah menggenjot peringkat dunia. Sebagai perguruan tinggi yang didirikan oleh para bapak sekaligus pemikir bangsa, visi UII dan pemikiran para pendirinya menyangkut pendidikan sudah dapat digunakan sebagai bahan rumusan keberhasilan proses pendidikan. Masalahnya seringkali kita dihadapkan pada gugatan objektifitas—mungkin juga problem kepercayaan diri—manakala standar penilaian yang dianut juga dirumuskan sendiri. Namun hal itu sesungguhnya tidak perlu dipersoalkan jika saja UII tidak melulu berpikir mengejar peringkat melainkan lebih berpegang pada integritas visi. Di wilayah integritas inilah UII sekali lagi dituntut jujur sekaligus transparan berkenaan dengan kesenjangan antar realita dan idealita perguruan tinggi Islam yang sesungguhnya. Kejujuran dimaksud agar dapat mengukur capaian dan kekurangan diri secara proporsional sehingga prestasi yang telah diperoleh mampu dipertahankan sementara kekurangan yang ada mampu disikapi dengan tindakan pembenahan. Kejujuran diberi penekanan dikarenakan nilai ini merupakan moral universal yang seharusnya dipupuk sebuah universitas.
Kejujuran ini juga perlu diejawantahkan melalui mekanisme transparansi informasi kepada seluruh stakeholder-nya. Segenap civitas UII harus dapat memperoleh informasi yang jernih mengenai kualitas institusi tempat mereka bernaung. Mereka tidak boleh dininabobokan melalui pemberitaan ikhwal kualitas yang cenderung parsial semisal peringkat dunia. Jajaran birokrasi kampus justru perlu aktif menyadarkan bahwa aspek-aspek penilaian yang dijadikan standar pemeringkatan selama ini masih teramat artifisial hingga tidak bisa dijadikan pegangan di posisi berapapun UII berada. Misalnya saja dalam kasus pemberitaan peringkat UII versi 4ICU kemarin, civitas harus disadarkan bahwa sejatinya yang dirangking adalah posisi universitas pada mesin pencari dan hasilnya tentu tidak dapat dilepaskan dari kinerja para web master dan pengorganisasi sistem informasi alih-alih prestasi para akademisinya.
Yah, mereka harus diedukasi bagaimana mekanisme penilaian bekerja. Ibarat cermin yang hanya mampu merefleksikan wujud fisik, pemeringkatan di dunia virtual juga hanya mampu membiaskan atribut-atribut non-esensial. Mungkin penyadaran ini bisa menjadi langkah awal untuk membenahi kualitas kampus secara serius dan bertanggungjawab[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar