![]() |
| kristin-a.deviantart.com |
Dari balik pintu perpustakaan Sulastri segera menangkap raungan mesin mobil suaminya memasuki pekarangan. Ia beranjak menyambut setelah membereskan beberapa ceceran catatan yang tersebar di penjuru meja kerjanya. Selama ini Sulastri hanya menyakini menyambut suami pulang kerja sebagai sekadar formalitas. Tapi kali ini ia bersemangat. Ada sesuatu yang hendak ia tunjukkan.
Di ruang tamu ia dapati suaminya duduk dengan wajah tertekuk. Ia menimbang apakah perlu menjadi pendengar yang baik dahulu atau memaksa lelaki itu kali ini yang harus memainkan peran itu. Selama ini ia merasa sudah cukup banyak mendengar. Tapi lelaki memang egois, waktu masih muda selalu menuntut dilayani dan mengatur ini itu, mulai dari urusan pekerjaan, makanan, sampai ranjang. Begitu tua, egoisme itu hanya berganti rupa saja, tapi pada hakekatnya sama muaranya: pengakuan!
“Eh bapak sudah pulang bagaimana seminarnya Pak?” Sebenarnya Sulastri hanya berbasa basi sebelum mewartakan apa yang ingin ia sampaikan. Namun tak ia sangka suaminya justru mulai panjang lebar bercerita soal acaranya tadi pagi yang ia rasa janggal. Lagi-lagi ia terpaksa mendengarkan sambil mengumpat dalam hati.
“Begitu Lastri. Nah menurutmu kenapa?”
“Pak, aku tidak hadir di seminar itu, bagaimana akau bisa tahu kekurangan Bapak? Coba diingat-ingat, mungkin saja bapak kurang bersemangat. Audiens itu antusias kalau pematerinya juga antusias.”
“Heh, Aku juga tahu soal itu. Kalau soal seminar kamu tak usah menggurui. Ibarat pilot, jam terbangku sudah puluhan ribu. Aku sebenarnya cuma mau tanya apa ini tidak ada hubungannya dengan pakaianku?”
Gerutu dalam hati Sulastri saling menimpali tanpa interupsi. “Dasar sok hebat, tapi soal pakaian saja dipersoalkan!”
“Memang pakaian Bapak kurang pas. Pagi tadikan cuma seminar kecil, lingkupnya pun lokal, bapak pakai jas segala…”
“Ternyata benar. Ini semua salahmu tahu!”
“Eee…kok jadi aku yang disalahkan Pak?”
“Kamu seharusnya sudah siapkan pakaianku untuk hari ini pagi tadi. Gara-gara kamu aku jadi pilih sendiri, gara-gara kamu aku jadi pakai jas!”
Sulastri menahan geram. Berita gembira yang tadinya hendak ia sampaikan buyar sudah. Padahal itu sudah dalam genggaman. Sebuah gulungan kertas yang ia yakini akan membuat suaminya bangga padanya ia tekuk dengan kasar. Tapi ia masih mencoba mengendalikan suasana.
“Pak, sebenarnya jas itu bukan masalah besar. Kenapa tidak coba bapak evaluasi lagi presentasi Bapak. Kalau boleh aku tahu, sebenarnya apa sih yang Bapak sampaikan? Mungkin masalahnya di situ.”
Suaminya kelihatan salah tingkah mendengar pertanyaannya. Tapi ia tidak mau ambil pusing. Toh sebenarnya Sulastri juga tidak peduli dengan masalah seminar yang ia kutuki itu.
“Bukan urusanmu. Ya sudah aku mau mandi,” jawab Profesor Suwandi.
Sulastri menghambur memasuki perpustakan pribadinya lagi. Dengan kesal, dibantingnya lembaran kertas yang sudah lusuh dari tangannya, lalu bergegas menuju garasi. Ia tidak peduli lagi dengan rencana awal mengesankan suaminya. Ia bahkan sudah tidak ingat.
“Pak Maman saya mau ke kelas Yoga, antar saya sekarang!” perintah sulastri sambil membanting pintu mobil.
Pak Maman hanya bisa menggeleng-geleng. “Tidak suami tidak istrinya, sama-sama sinting, untung pendidikanku rendah,” batin Pak Maman.
(Bersambung...)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar