![]() |
| on-kepompong.blogspot.com |
Dedi Saputra sesungguhnya hanya orang awam.
Dirinya sendiri pun tahu. Karena itulah ia kerap bertingkah seolah-olah lebih memahami segala kejadian dibandingkan orang lain. Sebab, agar dapat terlihat sebagai intelek terkadang seseorang memosisikan bahkan memaksa orang lain menjadi lebih awam. Jika perlu dengan permainan citra, orang lain bisa ditampilkan lebih dungu dari yang sebenarnya lalu merebut sekian banyak kesempatan tampil di tengah-tengah publik sebagai juru tafsir atas kebodohan layaknya kebanyakan pengamat pendidikan yang bahkan tidak mampu mendidik anaknya sendiri.
Tapi kawan-kawannya pun sesungguhnya mengetahui bahwa Dedi Saputra hanya orang awam sekalipun upaya pencitraan sudah ia lakukan. Mereka mengerti bahwa pemuda pendek dengan gaya parlente itu tidak banyak berbeda dari orang kebanyakan yang tidak tahu apa-apa. Kemeja rapi, kacamata, dan foto profil dirinya di beberapa jejaring sosial yang tengah berpose seolah sedang berpikir di tengah kepungan buku sekalipun tidak mampu menutupi kedangkalan pikirannya. Jika bukan karena kemampuan retorika dan menulisnya sedikit lebih baik dari kawan-kawannya, mungkin ia akan bernasib tak beda dari rata-rata mahasiswa yang sekadar terdaftar namanya di suatu perguruan tinggi untuk kemudian menghilang pasca kelulusan tanpa sempat mencatatkan apa-apa.




