Laman

Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2012

Toga (5)

on-kepompong.blogspot.com
Dedi Saputra sesungguhnya hanya orang awam.
                Dirinya sendiri pun tahu. Karena itulah ia kerap bertingkah seolah-olah lebih memahami segala kejadian dibandingkan orang lain. Sebab, agar dapat terlihat sebagai intelek terkadang seseorang memosisikan bahkan memaksa orang lain menjadi lebih awam. Jika perlu dengan permainan citra, orang lain bisa ditampilkan lebih dungu dari yang sebenarnya lalu merebut sekian banyak kesempatan tampil di tengah-tengah publik sebagai juru tafsir atas kebodohan layaknya kebanyakan pengamat pendidikan yang bahkan tidak mampu mendidik anaknya sendiri.
                Tapi kawan-kawannya pun sesungguhnya mengetahui bahwa Dedi Saputra hanya orang awam sekalipun upaya pencitraan sudah ia lakukan. Mereka mengerti bahwa pemuda pendek dengan gaya parlente itu tidak banyak berbeda dari orang kebanyakan yang tidak tahu apa-apa. Kemeja rapi, kacamata, dan foto profil dirinya di beberapa jejaring sosial yang tengah berpose seolah sedang berpikir di tengah kepungan buku sekalipun tidak mampu menutupi kedangkalan pikirannya. Jika bukan karena kemampuan retorika dan menulisnya sedikit lebih baik dari kawan-kawannya, mungkin ia akan bernasib tak beda dari rata-rata mahasiswa yang sekadar terdaftar namanya di suatu perguruan tinggi untuk kemudian menghilang pasca kelulusan tanpa sempat mencatatkan apa-apa.

Senin, 02 Januari 2012

Toga (4)

kristin-a.deviantart.com
Dari balik pintu perpustakaan Sulastri segera menangkap raungan mesin mobil suaminya memasuki pekarangan. Ia beranjak menyambut setelah membereskan beberapa ceceran catatan yang tersebar di penjuru meja kerjanya. Selama ini Sulastri hanya menyakini menyambut suami pulang kerja sebagai sekadar formalitas. Tapi kali ini ia bersemangat. Ada sesuatu yang hendak ia tunjukkan.

                Di ruang tamu ia dapati suaminya duduk dengan wajah tertekuk. Ia menimbang apakah perlu menjadi pendengar yang baik dahulu atau memaksa lelaki itu kali ini yang harus memainkan peran itu. Selama ini ia merasa sudah cukup banyak mendengar. Tapi lelaki memang egois, waktu masih muda selalu menuntut dilayani dan mengatur ini itu, mulai dari urusan pekerjaan, makanan, sampai ranjang. Begitu tua, egoisme itu hanya berganti rupa saja, tapi pada hakekatnya sama muaranya: pengakuan!

Minggu, 01 Januari 2012

Toga (3)

suaramerdeka.com
          Di sepanjang perjalanan pulang Profesor Suwandi tidak menyibukkan diri membalas email atau memeriksa laporan seperti yang biasa ia lakukan. Ia masih mengenang seminar yang baru saja ia berikan pagi tadi. Batinnya agak kesal karena peserta yang hadir tidak seantusias seminar-seminar sebelumnya. Jumlahnya hanya separuh dari kursi yang disediakan pihak penyelenggara. Soal honor tidak masalah bahkan terbilang lebih besar dari acara yang sudah-sudah. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan honor presenter setengah banci yang kini diminati acara-acara jurnalisme pergunjingan, tapi lumayanlah untuk membeli rak dan beberapa buku baru. Hanya saja tidak ada anggukan dan riuh tepuk tangan panjang itu yang membuatnya gundah.

Seberapa pentingkah anggukan dan tepuk tangan. Tentu sangat penting. Di negri yang manusianya lebih menyanjung ketampanan dan tubuh-tubuh seronok, anggukan dan tepuk tangan adalah perkara mahal yang tidak mudah didapatkan pegiat ilmu. Setidaknya itu bisa menjadi tanda bahwa rajutan argumentasi masih layak mendapat apresiasi di samping lenggokan bodi seksi. Tapi bagi Profesor Suwandi, itu juga merupakan bukti keberadaannya masih diakui di tengah persemaian akademisi muda bermodal tampang yang oleh media massa digadang-gadang. Apakah ini pengaruh pakaian hingga dirinya kurang meyakinkan?

Toga (2)

noshit4ever.blogspot.com
                “Ini plagiat?” tanya Profesor Suwandi dengan nada sinis yang mengiris.

                “Bukan prof, tesis ini saya dapatkan sendiri.”

                “Bukan? Saudara yakin? Saudara tidak sedang mengigau? Saudara tahu siapa saya? Saya sudah melahap puluhan jurnal dan karya ilmiah. Apa yang saudara paparkan menyangkut pengaruh perubahan iklim dan implikasinya bagi produktifitas tenaga kerja sudah pernah saya baca. Tesisnya persis seperti yang saudara tuliskan. Saya bahkan bisa menunjukkan karya yang saudara tiru kalau saya mau sebab saya juga tahu darimana saudara dapatkan!” Profesor Suwandi meningkatkan tekanan.

                Mahasiswa di hadapannya terdiam. Jauh di dalam batinnya ia mengakui tuduahan sang Profesor. Plagiat memang ia lakukan, namun siapa yang tidak, pikirnya. Sebagian besar kawannya melakukan hal serupa, toh mereka lulus. Ini dunia yang simpel, kenapa harus dirumitkan khotbah dan bualan mengenai etika akademik. Bukankah ini era persekutuan dalam ketakacuhan. Itulah sebabnya dosen-dosen lebih memilih menutup mata atas kenyataan kebrengsekan akademik di kampusnya. Jangankan dengan dosen, dengan setanpun tak mengapa, biarlah urusan dosa menjadi bahan obrolan yang meriah di neraka.

Toga (1)

padang-today.com
Bukan kebetulan ataupun rutinitas yang membuat Profesor Suwandi bangun pagi-pagi sekali. Dering waker tepat pada pukul 03.30 menghajar gendang telinganya tanpa ampun dan menggugahnya melebihi sahutan azan subuh yang acap kali masih mampu ia abaikan. Hari itu ia begitu bersemangat. Meregangkan persendian sudah menjadi ritual lelaki di jelang akhir usia 50an itu namun tidak demikian jika dilanjutkan dengan menghampiri cermin yang tegak melekat pada daun pintu lemari pakaiannya. Berkaca selepas bangun pagi kondisional sifatnya. Sang Profesor tersenyum sambil mengangkat alis hingga menyentuh kerut di dahinya, hari ini ia akan tampil sempurna.
                Profesor Suwandi mandi cepat-cepat, mengeringkan badan, dan bergegas memeriksa deretan pakaian di lemari sambil bersiul. Namun setelah 15 menit berselang, lelaki itu tak jua menemukan pakaian yang biasanya telah disiapkan. Profesor Suwandi memeriksa koleksi busananya sekali lagi. Tetap tidak ada. Lekuk wajahnya mulai mengisyaratkan suasana hati tak senang. Ia kesal karena sang istri seharusnya sudah memersiapkan sejak semalam. “Kenapa tidak ada?” gumamnya.