![]() |
| padang-today.com |
Bukan kebetulan ataupun rutinitas yang membuat Profesor Suwandi bangun pagi-pagi sekali. Dering waker tepat pada pukul 03.30 menghajar gendang telinganya tanpa ampun dan menggugahnya melebihi sahutan azan subuh yang acap kali masih mampu ia abaikan. Hari itu ia begitu bersemangat. Meregangkan persendian sudah menjadi ritual lelaki di jelang akhir usia 50an itu namun tidak demikian jika dilanjutkan dengan menghampiri cermin yang tegak melekat pada daun pintu lemari pakaiannya. Berkaca selepas bangun pagi kondisional sifatnya. Sang Profesor tersenyum sambil mengangkat alis hingga menyentuh kerut di dahinya, hari ini ia akan tampil sempurna.
Profesor Suwandi mandi cepat-cepat, mengeringkan badan, dan bergegas memeriksa deretan pakaian di lemari sambil bersiul. Namun setelah 15 menit berselang, lelaki itu tak jua menemukan pakaian yang biasanya telah disiapkan. Profesor Suwandi memeriksa koleksi busananya sekali lagi. Tetap tidak ada. Lekuk wajahnya mulai mengisyaratkan suasana hati tak senang. Ia kesal karena sang istri seharusnya sudah memersiapkan sejak semalam. “Kenapa tidak ada?” gumamnya.
Profesor Suwandi berpikir. Sempat ia hendak memanggil perempuan itu guna membantu memilih sekaligus menimpalinya dengan gugatan karena kelalaian. Namun niat itu ia urungkan. Sulastri saat ini tentu tengah berkutat dengan literatur di perpustakaan pribadinya seperti biasa. Dan jika sudah demikian, itu artinya ia tidak akan mau disela meski sesaat. Hobi perempuan yang dinikahinya itu memang bergelut dengan buku dan riset semenjak mencuri hati Suwandi muda. Waktu itu ia masih menempuh jenjang S1 sedang Suwandi baru berstatus dosen muda. Barangkali karena sang suami melarangnya berkarier meski jenjang pendidikannya kemudian amat memungkinkan, Sulastri seolah melampiaskan hasratnya di dunia putar otak dengan tetap bersikap layaknya akademisi. Semacam pelampiasan atas gelora mimpi.
Profesor Suwandi tidak keberatan dengan pilihan sikap istrinya itu sejauh ia masih mampu menjalankan kewajiban selaku istri dan ibu bagi keempat anaknya. Keadaan tadi justru menguntungkan, karena selain layak menjadi tandemnya berdiskusi, anak-anak mereka dapat memeroleh asuhan dari seorang ibu yang sangat pintar. Hasilnya sudah dapat dilihat. Keempat anaknya punya prestasi membanggakan. Si sulung bahkan akan menamatkan pendidikan doktoralnya di negeri Sakura bulan depan. Sedangkan ketiga saudaranya yang lain masih menikmati beasiswa prestisius juga di luar negri. Jadilah sepasang suami-istri itu hanya tinggal ditemani seorang pembantu dan supir. Hanya berdua. Itulah sebabnya Profesor Suwandi tak menemukan alasan buat Sulastri untuk tidak memerhatikannya termasuk dalam urusan pakaian.
Tidak ada waktu. Profesor Suwandi memutuskan menyiapkan sendiri busana berdasarkan apa yang tersedia di lemari. Syaratnya satu saja, selama pakaian tersebut mampu menampilkan aura kewibawaan akademik yang disandangnya maka itu akan ia kenakan. Tapi memang tidak mudah. Gelar akademik dan pakaian dalam situasi tertentu bersifat komplementer yang artinya harus mengikuti kaidah keserasian. Profesor Suwandi menimbang-nimbang. Ia tidak menyangka memilih pakaian ternyata teramat pelik. Itu sebabnya sebelum memiliki istri yang pintar memilihkan pakaiannya sehari-hari, ia dikenal sebagai pemuda kikuk yang gandrung dengan kemeja putih dan panthalon hitam. Kombinasi keserasian paling lugu yang ia ketahui. Itulah hebatnya perempuan, mereka bisa menemukan kombinasi warna terbaik untuk orang yang dicintainya, ungkap batinnya. Mereka juga terlahir sebagai kritikus fashion yang sangat jeli dan teliti, sampai-sampai peniti emas kecil di baju tetangga yang sekilas tak tampak, bisa begitu menyedot perhatian dan memantik pergunjingan dalam radius satu blok perumahan.
Namun sekali lagi tidak ada waktu untuk merenung bagi sang Profesor pagi itu. Ketimbang merenung jauh lebih efisien mengingat-ingat. Maka ia putar kembali memori di kepalanya tentang rangkaian seminar besar yang diikutinya baik di dalam maupun luar negri. Awalnya jelas bertujuan mengingat pakaian yang pernah dikenakannya guna dijadikan referensi, namun perlahan pudar oleh gemuruh tepuk tangan penonton dan anggukan antusias dari jajaran akademisi yang memadati ruangan. Profesor Suwandi kembali tersenyum.
Hari ini ia akan memperolehnya lagi…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar