![]() |
| suaramerdeka.com |
Di sepanjang perjalanan pulang Profesor Suwandi tidak menyibukkan diri membalas email atau memeriksa laporan seperti yang biasa ia lakukan. Ia masih mengenang seminar yang baru saja ia berikan pagi tadi. Batinnya agak kesal karena peserta yang hadir tidak seantusias seminar-seminar sebelumnya. Jumlahnya hanya separuh dari kursi yang disediakan pihak penyelenggara. Soal honor tidak masalah bahkan terbilang lebih besar dari acara yang sudah-sudah. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan honor presenter setengah banci yang kini diminati acara-acara jurnalisme pergunjingan, tapi lumayanlah untuk membeli rak dan beberapa buku baru. Hanya saja tidak ada anggukan dan riuh tepuk tangan panjang itu yang membuatnya gundah.
Seberapa pentingkah anggukan dan tepuk tangan. Tentu sangat penting. Di negri yang manusianya lebih menyanjung ketampanan dan tubuh-tubuh seronok, anggukan dan tepuk tangan adalah perkara mahal yang tidak mudah didapatkan pegiat ilmu. Setidaknya itu bisa menjadi tanda bahwa rajutan argumentasi masih layak mendapat apresiasi di samping lenggokan bodi seksi. Tapi bagi Profesor Suwandi, itu juga merupakan bukti keberadaannya masih diakui di tengah persemaian akademisi muda bermodal tampang yang oleh media massa digadang-gadang. Apakah ini pengaruh pakaian hingga dirinya kurang meyakinkan?
Profesor Suwandi melirik kaca spion mobil. Pandangannya bertemu Pak Maman, supir paruh baya yang mengamati raut gelisah di wajah tuannya. Namun segera saja Pak maman alihkan kembali tatapan itu ke arah depan, kembali awas pada lalulintas yang lengang sore itu. Sementara sang tuan masih serius menatap dirinya. Tidak ada yang kurang, pikirnya. Kombinasi kemeja, jas, dan dasinya sudah pernah ia kenakan pada waktu-waktu lampau. Demikian pula celana dan sepatunya, semua sempurna.Namun ia masih tidak yakin. Dimintanya Pak Maman untuk menepi.
“Sekarang kamu lihat saya! Lihat baik-baik pakaian saya, apa terlihat serasi? Ada yang tidak pas mungkin?,” ujarnya meminta komentar.
“Pakaian Bapak? Anu pak Prof, sepertinya bagus-bagus saja pak. Bapak malah terlihat sangat berwibawa,” puji pria bertubuh tambun itu pada majikannya.
“Ah, yang benar. Kamu jangan menjilat ya. Saya sedang tidak butuh pujian sekarang. Saya ingin masukan yang jujur,” Profesor Suwandi sangsi.
“Lho jujur ini pak Prof. Bapak tampak gagah. Pokoknya kelihatan pintar sekali pak. Anu pak Prof, mungkin dasinya agak miring. Tapi itu juga setelah saya amati baik-baik. Cuma miring sedikit kok pak Prof. Hampir-hampir tidak saya lihat malah.”
“Ah, kamu. Sekarang keluar dari mobil!”
“Keluar pak?”
“iya keluar.”
“Di sini pak? Sekarang?” ujar Pak maman tak mengerti maksud tuannya.
“Kamu tuli atau bagaimana iya keluar dari mobil ini sekarang!”
Pak Maman segera keluar dengan pikiran penuh tanya. Perut buncit ditambah perasaan gugup menyebabkan pria yang telah melayanai Profesor Suwandi selama 9 tahun itu membutuhkan kerja keras untuk sekadar melepas sabuk pengaman. Profesor Suwandi segera menyusulnya lalu berdiri tegap di tepi trotoar.
“Kamu lihat sekali lagi. Nah, apa pendapatmu soal penampilan saya?”
Pak maman mengamati pilihan busana tuannya sekali lagi dengan benak dipenuhi tanda Tanya raksasa. Tidak ada yang salah. Pada beberapa bagian terlihat kerut kusut. Namun amat wajar karena saat itu sudah sore, tentu saja kerapihan pakaian sulit untuk dipertahankan.
“Anu… Pak Prof, maaf kalau boleh saya tahu, sebenarnya kenapa bapak tiba-tiba tanya soal pakaian? Sekali lagi maaf pak Prof kalau saya lancang ingin tahu. Sebabnya biasanya bapak tidak pernah minta pendapat saya…”
Profesor Suwandi mendesah. Sempat hendak ia utarakan kegusarannya pada Pak Maman soal seminar garing pagi tadi. Tapi untuk apa menceritakan itu pada seorang supir, toh yang diketahui orang-orang seperti Pak Maman tidak jauh-jauh dari rute perjalanan, jam-jam padat lalu lintas, dan jadwal tuannya, pikirnya.
“Sudahlah! Kita jalan lagi. Kamu ini ditanya malah balik nanya. Heh, Ibu ada di rumah?”
“Maaf pak. Oh, saya sih seharian ini belum dapat panggilan dari ibu. Sepertinya Ibu tidak keluar, di rumah saja.”
“Ya sudah. Ayo jalan, kamu bawa mobilnya agak cepat,” perintah Profesor Suwandi. Ia sudah tidak sabar menceritakan peristiwa hari ini pada Sulastri. Pada hari-hari biasa istrinya itu selalu bisa memberikan komentar maupun masukan yang bisa diandalkan dalam segala hal. Tapi jika nanti yang dikomentarinya adalah pilihan pakaian hari ini, Profesor Suwandi sudah siap menimpakan kesalahan padanya.
Berpikir soal kesalahan, Profesor Suwandi teringat pada mahasiswa yang dihabisinya pada ujian tugas akhir siang tadi. Benarkah ia melakukan kesalahan? Jika tolok ukurnya adalah efisensi, tindakan pemuda itu malah bisa dibenarkan. Hanya tugas akhir mahasiswa S1 pula apalah yang perlu disakralkan. Tidak ada yang fatal. Siapa yang mau menjadikan karya ilmiah seorang mahasiswa S1 sebagai referensi pokok selain sesamanya? Rasa-rasanya tidak ada. Apalagi untuk ukuran akademisi papan atas, jangankan karya mahasiswa S1, racikan akademisi dalam negeri pun agaknya sedikit menurunkan gengsi untuk dijadikan referensi utama.
Profesor Suwandi mengenang wajah pemuda malang siang itu. Sedikit rasa iba muncul. Ia mulai memertanyakan alasan kemarahannya. Apakah karena acara pagi tadi tidak berjalan seperti yang ia harapkan? Bukankah teramat konyol jika ia selaku guru besar melampiaskan kekesalan pada orang lain. Bukankah ilmu yang banyak seharusnya mampu membuahkan ketenangan bagi pemiliknya? Ia sendiri tidak begitu yakin apakah benar pemuda itu melakukan plagiarisme. Ia hanya merasa pernah membaca karya itu sebelumnya. Tapi di mana? Karya siapa?
Profesor Suwandi merasa lelah sekali sore itu. Ia tertidur. Sinar jingga menyoroti wajahnya yang pulas terpekur. Pak Maman melihat wajah tuannya masih menggurat gundah yang tak ia mengerti sebabnya. Mungkin benar kata orang, kejeniusan itu beda tipis dengan kegilaan!

hmm... mungkin bisa mirip antara kegilaan dan kejeniusan karena orang awam sama sama gk paham dari sikap gila dan jenius itu... haha'
BalasHapus