![]() |
| http://arinaforlife.blogspot.com |
Kembali menyapa pembaca blog ini setelah cukup lama saya tinggalkan bukanlah pekerjaan yang mudah ternyata. Ada keterputusan mood yang saya tidak tahu persis bagaimana menerangkannya. Semacam perasaan kehilangan sentuhan atau barangkali sekadar semangat mengalirkan tulisan.
Kembali menyapa pembaca blog ini, saya dihinggapi pertanyaan. Adakah yang berkenan menyimaknya sebagai wujud pemakluman? Sebab jujur, ada rasa bersalah pada diri yang hinggap manakala dahulu sempat berkomitmen untuk mencoba menulis sebaik mungkin bagi siapapun yang hendak membaca goresan-goresan sederhana pada blog ini. Namun kesibukan mengerjakan skripsi yang mulai saya seriusi sejak awal bulan ini memang menuntut konsentrasi dan yang lebih berat lagi adalah fokus, fokus dan fokus.
Upaya tersebut tidak sia-sia. Praktis waktu pengerjaan skripsi saya tidak memakan waktu yang lama seperti yang dahulu sempat terbayangkan. Bahkan boleh dibilang waktu yang saya butuhkan untuk mencapai titik fokus itulah yang paling lama. Penulisan skripsi saya sendiri hanya membutuhkan tempo tidak lebih dari dua minggu hingga siap diujikan. Ya, dua minggu.
Dua minggu itu saya hanya menghabiskan waktu untuk mengetik dan mengetik. Jika pun ada jeda, tidak lebih karena gejolak perut yang sudah tak lagi mampu diajak kompromi atau waktu solat yang telah tiba. Sesekali saya mengambil jeda agak lama untuk beristirahat tidur meskipun tidak lebih dari tiga jam setiap harinya. Lainnya, barangkali mandi bisa dimasukkan dalam daftar jeda tadi, selebihnya, saya akan kembali menatap layar komputer untuk mengetik lagi dan lagi.
Kembali menulis di blog ini berarti, saya harus mengingat komitmen yang telah dibangun jauh-jauh hari. Tentang bagaimana dahulu ada tekad membangun budaya tulis-menulis pada lingkup individu untuk kemudian berlagak layaknya inspirator, menyebarkan budaya tadi ke lingkungan sekitar.
Memang ada budaya yang harus saya lawan tanpa jeda bernama kemalasan literasi di kampus tempat saya menghabiskan 8 tahun lebih masa perkuliahan. Kemalasan yang perlu diperangi tanpa tarikan napas panjag semestinya. Namun apa boleh buat, deklarasi cinta dari kampus yang suatu hari terpampang di papan pengumuman untuk mahasiswa angkatan lawas seperti saya menginformasikan bahwa kami tidak punya banyak waktu lagi untuk asyik dengan pikiran-pikiran di luar tugas menyelesaikan masa studi. Pilihannya hanya dua: Selesaikan secepatnya atau terima predikat sebagai mahasiswa drop out.
Awalnya saya merasa sudah tidak ada lagi kemauan menyelesaikan studi ini. Bahkan ketika pertama kali melihat pengumuman tersebut, yang coba saya pikirkan adalah apa yang akan saya lakukan setelah terdepak nanti. Sama sekali tidak ada pertimbangan untuk mengejar sisa waktu yang ada untuk mengerjakan kewajiban terakhir studi. Walhasil kegiatan di luar kewajiban studi tetap lebih saya prioritaskan.
Fokus. Memang menjadi masalah terbesar bagi saya sejak kanak-kanak hingga saat ini. Bisa dibilang di sinilah titik masalahnya. Saya sendiri juga belum menemukan apa sebabnya. Setiap kali menjumpai hal baru yang menarik, dengan mudah saya akan meninggalkan urusan lama saya. Begitu seterusnya. Ada yang menganalisa bahwa saya memiliki kecenderungan berpikir divergen yang amat dominan. Semacam corak kognisi berpola acak sehingga sulit untuk memusatkan perhatian pada satu persoalan saja. Sementara seorang teman lain dari disiplin psikologi mengatakan bahwa gejala yang saya hadapi masih wajar dan umum dihadapi oleh mereka yang memiliki kecenderungan kidal.
Analisa-analisa kawan-kawan tentu tidak ada yang saya abaikan meskipun bukan berarti saya yakini begitu saja. Saya percaya, opini-opini tersebut bukan tanpa landasan kebenaran sama sekali sehingga perlu mendapatkan perhatian kritis sekaligus reflektif semua demi masalah kesulitan fokus ini dapat terjawab. Tapi yang lebih penting dari sekadar menemukan penjelasan dalam kasus saya adalah sesegera mungkin memecahkannya.
Dalam suatu renungan di kampus seorang kawan yang kebetulan sempat menyandang gelar mahasiswa tua yang sama seperti saya akhirnya membuka sebuah jalan penyikapan yang cukup bijak. Belajar mengikhlaskan diri sendiri. Kira-kira demikianlah nasehat pendek darinya. Agaknya saya perlu berterimakasih pada kawan tadi karena esoknya fokus itu berhasil saya dapatkan. Sambil terus mengingat pesan pendek tersebut setiapkali saya mulai kembali pada kecenderungan ‘divergen’ , skripsi mulai saya rangkai kata demi kata, paragraf demi paragraf, dan bab demi babnya hingga tuntas.
Kembali menyapa pembaca blog ini, dengan gugup saya mencoba menuliskan apologi atas pelanggaran komitmen membudayakan tulis-menulis. Namun tentu yang lebih penting adalah perbaikan tentu saja(atau penebusan?) Toh, absennya saya dari dunia maya beberapa minggu ini bukan tanpa pelajaran baru. Setidaknya saya bisa ceritakan bahwa skripsi yang dahulu pengerjaannya selalu saya hindari, ternyata kala dihadapi memberikan banyak hikmah berharga melampaui isi dan bentuk skripsi itu sendiri yakni, pelajaran mengenai fokus, keikhlasan, ketekunan, syukur dan masih banyak lagi.
Dan akhirnya, kembali menyapa pembaca blog ini, saya mulai melemaskan jemari untuk dapat kembali lincah mengalirkan kata-kata dalam pikiran yang belum lagi menemui titik perhentian. Kembali mencoba memberi warna bagi peradaban dengan sebuah harapan tiada lagi apologi mesti dibagi sebagai alasan jeda, perhentian sementara, atau sekadar istirahat bagi jemari di kemudian hari[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar