Dahulu, banyak hal yang membuat saya mau mencermati kehidupan kampus. Semacam panggilan untuk terlibat dengan gelombang realitasnya yang tak rata. Tidak juga indah bagi sebuah idealisme apa pun entah idealisme seorang agent of change, iron stock, dan gelar-gelar agensi lainnya. Tidak juga bagi idealisme akademisi ‘menara gading’ sekalipun. Saat itu saya punya gairah, untuk setidaknya mampu membuat keonaran atas kemapanan sebuah tatanan kedunguan dari sebuah tempat yang terlanjur dipercaya sebagai lokus berkumpulnya kaum cerdik pandai. Minimal ada alasan untuk menumbangkan mitos bangunan kampus di mata masyarakat yang tidak memiliki akses untuk mengenyam pendidikan, bahwa tidak benar tatanan ideal sebuah komunitas cerdas ada di sana.
Dengan keonaran yang saya lakukan lewat penyebaran gagasan bermodalkan tulisan dan sesekali silat lidah, ada sejumput asa kawan-kawan sesama mahasisiwa berani melakukan hal serupa. Melawan dengan pelbagai cara dan upaya tentu berbekal tujuan terciptanya perbaikan dan pada akhirnya mitos tidak lagi menjadi mitos, sebab kampus telah mewujudkan dirinya bukan lagi sekadar tanda yang tersubversi maknanya.
Namun tanggal 30 juni itu, gerombolan mahasiswa yang menyebut dirinya sebagai demonstran, mempertontonkan sebuah militansi antagonistik yang sungguh di luar dugaan. Jumlahnya ratusan. Bilangan yang termasuk besar dalam skala demonstrasi mahasiswa di kampus itu. Suara orasi penuh emosi menyalak dari corong megaphone. Saat itu sang orator mungkin merasa diri layaknya Soe Hok Gie atau selevel di bawahnya. Sayang, etos turun ke jalan ala Soe Hok Gie ini tidak beriring dengan konstruk gagasannya. Tidak pula secuil pun dari idealismenya. Soe Hok Gie hari itu dicatut sekadar sebagai lakon perlawanan terhadap laku kekuasaan. Sedang gagasannya tetap terasing di pojok aksi lapangan. Maka tidak mengherankan bila kesepakatan segera tercapai antar massa demonstran dan lakon kekuasaan.
“Lebik baik terasing daripada menyerah pada kemunafikan” adalah kalimat yang terlanjur masyhur dikalangan mahasiswa yang mengidolai Soe Hok Gie. Ada sebuah masa di mana kalimat tersebut membangkitkan kesadaran puitik yang melecut dara hidup sebuah aksi jalanan. Masa-masa dimana buku, pesta, dan cinta masih mampu hadir berdampingan di tengah komunitas intelegensia bernama mahasiswa. Tapi masa itu tidak lama. Ketika pasar mengintervensi hampir seluruh sudut kehidupan, segalanya terbenam dalam logika permintaan-penawaran berikut tetek bengek rayuannya. Tidak terkecuali buku, pesta, dan cinta. Logika pasar dengan gairah komodifikasinya, menciptakan idiologi popularisme dengan karakteristiknya yang banal. Buku-buku populer bertebaran di jagat perbukuan tanah air, perlahan meminggirkan buku-buku serius dari peredaran. Pesta-pesta digelar dengan motivasi pelepasan hasrat mulai dari sekadar mengusir penat hingga ajang buka-bukaan aurat. Sedangkan cinta berarti pengikisan jarak antar jenis kelamin agar kian merapat!
Popularisme buku, pesta, dan cinta pada tanggal 30 juni kemarin boleh jadi berujung pada demonstrasi popular yang masih saja menyeret nama Soe Hok Gie sebagai ikonnya. Gerombolan dengan jumlah ratusan itu mungkin lupa atau boleh jadi tidak pernah membaca, bahwa sosok yang menginspirasi aksinya adalah tokoh yang jijik dengan kedangkalan kultur akademik. Ia memang pernah melakukan protes pada kekuasaan kampus, namun itu dilakukan lantaran kualitas pendidikan yang memprihatinkan. Dosen-dosen pada masanya(mungkin hingga kini?) terbiasa membolos, yang kemudian diikuti oleh mahasisiwanya. Ia mengeluhkan keadaan yang ia dapati di mana kawan mahasiswanya ada yang tidak mengetahui kapan kereta api ditemukan sehingga mengira penyerbuan pasukan Mataram atas Belanda menggunakan kereta api. Ia membandingkan jumlah jam perkuliahan di negara maju yang amat jauh lebih tinggi dari waktu perkuliahan rata-rata di negrinya sendiri. Maka ia melawan. Buku, pesta, dan cinta ala Soe Hok Gie, berujung pada perjuangan menuntut peningkatan mutu pendidikan, alih-alih pendangkalan.
Saya bukan seorang pengagum Soe Hok Gie, apalagi penganut ‘paham’ buku, pesta, dan cinta. Namun jelas ada semacam jarak kultural terbentang diantara massa demonstran sebuah kampus yang terkenal karena usia tuanya 30 juni lalu dengan sosok Gie, ketika tuntutan yang dikemukakan massa aksi berupa pembolehan mahasiswa dengan presensi dibawah 75% untuk dapat mengikuti ujian perbaikan nilai. Apalagi program pendangkalan mutu bernama remidiasi hari itu justru mendapat dukungan dengan tambahan tuntutan lain yakni fasilitas perbaikan nilai mata kuliah selain yang telah diajarkan pada semester yang baru saja berselang.
Masygul bukan kepalang. Bukannya program pendangkalan mutu menuai gugatan, mekanisme pendidikan yang sudah dikebiri justru masih dituntut untuk lebih dihabisi. Hari itu para demonstran mungkin bangga telah menyalurkan aspirasi mahasiswa. Penyelenggara aksi yang disebut perwakilan mahasiswa boleh jadi mengira telah menjalankan fungsinya dengan baik. Tapi mereka lalai terhadap fungsinya yang lain. Bahwa di samping penyalur aspirasi, mereka juga dituntut untuk melakukan edukasi!
30 Juni kemarin, rombongan demonstran itu terjebak dalam patgulipat kekuasaan pengendali kebijakan pendidikan instan. Dan imajinasi aksi mereka tak mampu menembus cagar bahasa bernama pendangkalan pendidikan. Sementara beban ketakacuhan terhadap aksi lapangan selama ini dari lingkungan, berbuntut popularisme tuntutan yang tidak lebih dari sekadar penyambung lidah kedunguan. Itulah yang terjadi.
Gie? Ah, cukup dibaca pada sampul aksi!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar