Laman

Rabu, 22 Desember 2010

Berburu Buku


Minggu-minggu ini saya rasa-rasanya kembali dirasuki gairah memburu buku. Proses mencari jawaban atas pelbagai pertanyaan yang ingin segera dipecahkan agaknya memantik hobi lama yang sempat luntur karena keterbatasan kocek dan waktu. Namun bukan berarti saat ini kondisi keuangan saya tengah berlimpah dan waktu lapang tersedia. Semangat itu tumbuh tatkala membaca dan menyaksamai kiprah intelektual yang teramat sabar dalam menunda rasa puas terhadap olehan pengetahuan berikut sumber-sumber transformasinya yakni referensi.
            Tentu saja tidak mudah mendapatkan kesabaran semacam itu. Apalagi jika dihadapkan pada situasi di mana referensi yang dicari itu ternyata sudah menjadi barang langka lantas sulit didapatkan. Begitulah, akhirnya tidak saja dana dan waktu yang mesti disiapkan, tapi juga tenaga dan mental. Empat hari tempo yang saya habiskan guna mendapatkan buku yang diidamkan tak jua membawa hasil. Padahal nyaris semua toko dan lapak-lapak buku di Jogja telah saya datangi. Dari utara hingga selatan. Sementara cuaca kadang tak mendukung. Maklum bulan Desember. Hujan deras mau tidak mau berkali-kali memaksa saya untuk menunggu. Entah di tepi jalan atau berdiam di kamar kos. Terkadang karena hujan yang kucurannya belum juga menampakkan tanda-tanda akan reda, sementara hasrat mendapatkan buku telah membuncah, berbasah-basah pun menjadi tak masalah.
            Menjalani aktivitas berburu buku bagi saya pribadi merupakan tantangan. Di saat itulah komitmen pada ilmu pengetahuan dipertanyakan. Karenanya selalu saja muncul perasaan gelisah setiap kali saya memutuskan untuk menyerah dengan kenyataan bahwa buruan yang diincar sudah tidak lagi terpajang pada rak toko buku. Pun ketika mengetahui penerbit enggan melakukan  cetak ulang dengan berbagai alasan. Rasa sesal akibat keterlambatan mengetahui keberadaan dan nilai buruan seketika menyesakkan dada.
            Perasaan itulah yang saya alami saat ini. Buku yang saya incar tak jelas rimbanya. Maka kekaguman pada para ulama terdahulu benar-benar menguasai pikiran saya. Tentang ketabahan mereka menelusuri sumber pengetahuan yang jauh lebih sulit untuk dilacak pada masa itu jika dibandingkan era informasi sekarang. Begitu pula jarak tempuh dan waktu yang dibutuhkan untuk mengaksesnya jelas tidak tak bisa dibandingkan. Jerih payah mereka seolah menunjukkan pada saya, sesungguhnya komitmen pada ilmu selalu menuntut kerja keras. Bahwa ada jarak motivasi antar saya dan mereka yang belum mampu untuk dipangkas. Bahwa tidak ada secuilpun alasan menyombongkan diri  atas segala usaha yang telah dilakukan dalam rangka menuntut ilmu. Bahwa mencari kebenaran adalah proses panjang yang memerlukan totalitas dan ketulusan: Ikhlas. Bukan berharap akan datangnya pengakuan, popularitas, sekadar memuaskan keingintahuan apalagi mencari sensasi.
            Karena itupula kekaguman ini masih terus berlanjut saat mengingat kesombongan  orang-orang yang hari ini getol mengampanyekan pluralisme agama. Saya ingat sewaktu salah seorang di antaranya menyerukan “Jihad Pluralis” yang dimuat di sebuah koran besar nasional. Keterbatasan referensi—atau mungkin juga problem keikhlasan—menjadikan ia tak mampu memertanggungjawabkan frase yang digunakannya dalam karya tersebut. Menyedihkan. Tapi kejadian semacam ini kerap terjadi.
 Jangan berharap menemukan pemahaman mendalam apalagi mencerahkan dari karya orang-orang yang gemar menghujat dan menebar sensasi, agaknya harus terus saya pegang. Sensasi dan hujat-menghujat selalu merupakan fenomena permukaan. Ketika seorang intelektual lebih banyak menghabiskan waktunya di ranah ini, amat wajar jika kedangkalan mendominasi alam pikiran, etos keilmuan, dan bermuara pada produksi karyanya.
            Imbasnya produk pemikiran dari orang-orang yang mengaku pluralis ini, terlalu rapuh untuk dijadikan pegangan. Tidak ada argumentasi yang kokoh lantas sulit untuk dijadikan referensi selain sebagai contoh kedangkalan semata. Atau mungkin juga sekadar ditampilkan untuk dijadikan pelajaran mengenai cacat komitmen, fondasi, dan adab yang sebaiknya saya dan anda jauhi ketika bermaksud menuntut dan mentransformasi ilmu.
            Ulama klasik dan pluralis. Akhirnya menjelma dua kutub berlawanan. Yang satu layak diteladani, sedang yang kedua menjadi peringatan akan kondisi yang mungkin terjadi apabila adab tak lagi menjadi pegangan pencarian ilmu(bukan sekadar buku)[]


Ilustrasi: http://ustadzrofii.files.wordpress.com/2010/06/tholabul-ilmi1.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar