“Aslmkm. Mas,mlm ni bs ktmuan?penting,tentang JAM.d kampus.”
Begitu bunyi pesan pendek yang saya terima. Saya tidak langsung membalasnya berhubung sedang berkendara. Kebetulan pula saat itu saya memang meniatkan diri menuju kampus dan sudah hampir tiba di tujuan. Maka saya memilih mendiamkan.
Pesan pendek itu berasal dari seorang kawan sekaligus adik angkatan di kampus. Ia yang notabene telah bersemat gelar alumnus universitas sekaligus organisasi dakwah tempat kami bernaung memang saya kenal kerap mengajak diskusi perihal problematika adik-adik angkatannya, khususnya juniornya di lembaga dakwah. Karenanya, tebakan saya seputar pembicaraan yang akan berlangsung tidak jauh dari itu.
Setibanya di masjid kampus, saya segera menemuinya. Bersamanya telah hadir pula alumnus lain dengan angkatan yang berbeda. Semuanya tiga orang untuk selanjutnya bertambah satu orang lagi. Rupa-rupanya sayalah yang paling senior di tempat itu. Setelah mengambil posisi dalam lingkaran kecil beranggotakan empat pria itu (termasuk saya), kawan tersebut mulai menerangkan maksud dan tujuannya mengundang saya dan kawan-kawan yang lain untuk menyempatkan diri hadir.
Tebakan saya tidak meleset. Benar saja, tidak jauh dari persoalan adik-adik pengurus beserta kinerjanya. Namun forum semalam tidak sekadar berhenti pada paparan persoalan semata. Kawan tadi berharap ada sebuah solusi praktis yang dapat segera dieksekusi dalam waktu dekat sambil memanfaatkan momentum agenda resmi kaderisasi organisasi.
Tidak banyak yang dapat saya tawarkan pada kesempatan tersebut. Selain mendadak, persoalan yang hendak dipecahkan bagi saya tidak mungkin diselesaikan dengan bekal langkah-langkah praktis semata. Ini persoalan kaderisasi dalam pengertiannya yang luas. Dan kaderisasi yang saya yakini sejatinya merupakan proses berkesinambungan yang menuntut konsep-konsep radikal sekaligus berdimensi jangka panjang, karenanya memerlukan pemikiran yang panjang pula. Maka saya akhirnya lebih banyak memberikan masukan filosofis yang boleh jadi tidak seperti yang diharapkan.
Terlepas dari itu, saya mengagumi semangat dan loyalitas kawan tadi. Seolah ada sebuah ikatan imajiner yang menjadikannya tidak kemudian tega meninggalkan adik-adik angkatannya dalam masalah. Padahal saya amat mengerti, persoalan yang dihadapi orang-orang yang baru saja menamatkan kuliahnya juga tidak kurang. Ada proyeksi masa depan yang boleh jadi masih samar. Ada hajat lanjutan yang tidak dapat ia abaikan. Dan ada mimpi-mimpi yang tentu masih ingin ia gapai dalam kegamangan. Maka ketika malam itu ia dan beberapa kawan lain menyediakan waktunya untuk bersama memikirkan problematika generasi penerus organisasi kami, tidak dapat lagi saya tafsirkan maknanya selain dengan satu kata: cinta.
***
Sambil memerhatikan ia berbicara, sempat saya berpikir, apa yang sedang dikerjakan adik-adik angkatannya saat itu. Adakah mereka juga sedang memikirkan nasib organisasi dan dakwahnya? Ataukah tengah beristirahat setelah seharian disibukkan dengan aneka tetek bengek perkuliahan? Atau mungkin sedang asyik menatapi televisi, bercengkrama dengan kawan, dan seterusnya?
Saya menolak meneruskan prasangka itu. Sebab boleh jadi tidak demikian. Toh saya juga tidak pernah mampu menilai apa latar belakang di balik kinerja mereka yang menyebabkan kawan saya tadi gusar. Namun ada sebuah harapan yang tidak bisa saya nafikan, bahwa orang-orang yang saat ini tengah dipikirkan itu sebaiknya menyadari bahwa mereka amat beruntung memiliki alumni layaknya kawan tadi. Mereka memiliki kakak angkatan yang masih memiliki komitmen melampaui batas kepengurusannya sekalipun. Mereka masih memiliki bayangan yang terus bergerak membantu bahkan ketika mereka mungkin tengah beristirahat dari kerja-kerja dakwahnya.
Malam itu saya menyaksikan sebentuk pengabdian yang amat tidak pantas diabaikan. Saya beruntung, masih memiliki kawan-kawan yang mau menguras energi dan pikirannya demi generasi selanjutnya agar menjadi lebih baik bahkan dari diri mereka sendiri. Sebuah kebesaran jiwa yang layak diteladani.
Malam itu saya menyaksikan raut wajah pria tersebut masih menunjukkan kesungguhan. Malam itu ia berpikir. Malam itu adik-adik angkatannya tanpa disadari telah membebani pikirannya. Malam itu saya tidak banyak membantu. Malam itu pula sungguh saya merasa kerdil[]
Ilustrasi: http://khairinnisa.files.wordpress.com/2008/12/phot0037.jpg
Ilustrasi: http://khairinnisa.files.wordpress.com/2008/12/phot0037.jpg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar