Laman

Senin, 27 Desember 2010

Obesitas Timnas


Setelah beberapa laga Timnas dalam kompetisi AFF terlewatkan, akhirnya kesempatan menyaksikan kiprah Firman Utina dkk datang juga. Itu pun bukan sekadar laga penyisihan grup semata melainkan final.
            Gegap gempita kompetisi ini memang sudah lama saya rasakan. Sebab meskipun tidak menyaksikan dari awal, alur cerita tetap saya ikuti melalui berita dan obrolan harian. Ada Okto yang mampu bergerak lincah sepanjang pertandingan tanpa kenal lelah. Ada Irfan Bachdim yang mendadak digandrungi kaum hawa dan melejit popularitasnya bak selebritas. Ada Gonzalaes, pemain naturalisasi selain bachdim yang beberapa kali menjadi pahlawan kemenangan. Dan Tidak kalah fenomenalnya penampilan Markus yang memukau lewat aksi-aksi heroiknya. Begitu pula sederetan pemain lain yang memiliki kontribusi tak kalah hebat dari nama-nama tadi.
            Sayangnya pertandingan kemarin malam (yang justru saya tonton) seolah merupakan fase anti-klimaks dari seluruh kiprah tim merah-putih sepanjang kompetisi. Apa boleh buat, Indonesia harus menelan kekalahan telak 3-0 dari seterunya Malaysia. Malam itu saya sama sekali tidak menyaksikan kehebatan yang beberapa minggu sebelumnya banyak dibicarakan orang. Permainan disiplin tim tuan rumah benar-benar memukau saya. Rajagobal sukses membuktikan kata-katanya bukan ‘gombal’ sekaligus menebus kekalahan timnya atas Indonesia pada babak penyisihan grup.
            Terlepas dari polemik sikap supporter Malaysia yang gemar bermain laser di wajah Markus dkk, permainan Timnas kemarin harus diakui jauh di bawah lawannya. Operan-operan cantik tidak terlihat, dan koordinasi tim berantakan. Berhubung luput menyaksikan laga sebelumnya, saya tidak bisa menilai apakah ada kemunduran dalam performa tim atau tidak. Namun jika menilik catatan hasil yang telah dipetik Indonesia, kemunduran itu mungkin saja ada. Sebabnya? Nah, di sini godaan mencari kambing hitam itu mengemuka.
***
            “Itu gara-gara laser, besok kita balas di GBK dengan gas 3 kg!” bunyi status salah seorang kawan di FB. “Nurdin Halid harus mundur!” kata yang lain. Sementara ayah saya berseloroh,”Uang Bakrie tidak barokah.” Analisis menarik seorang wartawan senior pagi tadi mungkin bisa melengkapi. Ia mengatakan faktor non-teknis jelas amat memengaruhi performa Timnas kemarin. Ada peliputan yang berlebihan dari media massa, begitupula politisasi dengan modus menunggangi pasukan asuhan Alfred Riedl ini sebagai sarana pencitraan.
            Demikianlah, begitu banyak alasan bisa dikemukakan setiap menghadapi kekalahan. Namun para pemain sendirilah yang sebetulnya paling layak menjelaskan hal tersebut pada publik. Sedemikian mengganggukah sinar laser itu hingga Safee nampak begitu digdaya memporakporandakan barisan pertahanan kita? Benarkah Nurdin Halid biang keroknya? Sebab menang ataupun kalah nama terakhir ini seharusnya memang tidak layak memegang jabatan ketua umum PSSI. Atau siapa dan apa gerangan?
Cristian Gonzales dan rekan-rekannya boleh bicara dan sudah selayaknya kita dengarkan. Boleh jadi benar liputan media terlalu berlebihan. Tentang naturalisasi itu, tentang ekspos ke-mualaf-an itu, pembangunan masjid dan tahajud itu, hingga niat berangkat umroh itu. Okto boleh protes jika jiwa belianya mungkin terganggu dengan pujian artis cantik seperti Titi Kamal. Atau mungkin Markus, yang jadi bingung untuk membedakan status selebritas dirinya dan sang istri. Lalu Irfan yang kehidupan pribadinya menjadi komoditas infotaintment usil, tentu layak meneriaki media atas semua decak kagum perempuan Indonesia pada ketampanannya (bukan performanya).
Ya, Timnas memang menjadi lahan tambang baru industri media. Di saat bangsa ini dilanda paceklik prestasi, Timnas hadir membawa kejutan. Publik sontak terbenam dalam histeria. Harapan mereka pada sebuah tim nasional sepak bola akhirnya melampaui fungsi entitas itu sendiri. Dalam Timnas mereka berharap kekecewaan atas lembeknya pemerintah terhadap kasus-kasus penganiayaan TKI di negeri jiran terobati. Timnas juga diharap mampu mengembalikan harga diri bangsa yang seringkali menjadi bahan olokan lewat aksi pengangkangan perbatasan dan klaim produk-produk kebudayaan. Belum lagi serangkaian kekalahan diplomasi, pembangunan, dan lain-lain. Sebuah pertandingan sepak bola dalam hal ini diharapkan mampu menampung dan memenuhi harapan-harapan tersebut.
Ekspektasi tinggi tadi sekonyong-konyong menjelma aspirasi bangsa. Media dalam hal ini tidak bisa terlalu disalahkan karena mereka hanya memenuhi dahaga massa. Meskipun akhirnya dalam konteks persaingan, nilai sensasi tentu menjadi buruan, namun menjadi wajar ketika dihadirkan ke tengah bangsa yang meminatinya. Kita memang tidak bisa berharap banyak pada itikad mulia media hari ini entah itu misi pencerdasanlah, saluran aspirasilah, pilar demokrasilah, semua dapat dirangkum dalam satu kata: Sensasi.  
Sialnya lagi apa yang sedang menjadi daya tarik di media tak pernah luput dari perhatian politisi negeri ini yang memang doyan mengakumulasi citra. Melejitnya performa Timnas akhirnya tidak saja berbuntut peliputan, namun juga kunjungan, undangan, dan iming-iming ‘tunjangan’ dari politisi berkantong tebal yang juga bermulut besar. Timnas digiring kesana-kemari sekadar diambil keuntungan dari citranya di mata masyarakat. Politisi mengharapkan induksi citra atas prestasi dari actor yang berbeda profesi. Rasional? Silahkan anda nilai sendiri. Yang jelas saya belum menjumpai sedikit  pun wujud simpati publik terhadap gejala aneh ini. Bahkan sampai sejauh ini, justru antipatilah yang membanjiri ruang-ruang celoteh masyarakat.
***
Balada timnas dan jejalan harapan-harapan di atas, kita saksikan bersama kandas di hamparan rumput Bukit Jalil. Alih-alih menjadi motivasi, harapan dan kepentingan yang dicekokkan berbuah permainan kikuk yang terus menuntut pembenaran. Ia urung menjadi asupan nutrisi. Ibarat makanan, gelontoran ekspektasi bangsa hanya mengendap layaknya timbunan lemak yang begitu membebani kelincahan putra-putra bangsa ini. Tidak ada akurasi, kecepatan, dan reaksi penuh inisiatif taktis. Dan gol pertama tuan rumah pun menjelma gong pembuka kehancuran yang menggetarkan.
Obesitas. Itulah yang terjadi. Performa Timnas dalam konteks kemarin malam dapat dibaca sebagai gejala kegemukan berlebihan akibat gelontoran harapan yang tidak diiringi kemampuan fungsi metabolisme yang baik. Di saat yang sama, Timnas sendiri gagal melakukan diet ketat terhadap asupan berlimpah yang memang menggoda. Sementara tidak semua dari harapan yang ada pantas diakomodasi karena rendahnya nilai gizi yang dikandungnya, mungkin juga di antaranya bahkan berisi racun. Namun mungkin hal ini yang tidak dimiliki timnas, mungkin juga diri kita sebagai bangsa: kemampuan menahan diri dari sikap berlebih-lebihan.
Maka siapa yang pantas disalahkan kini? Rasanya tidak perlu dijawab. Toh, kompetisi juga belum berakhir. Demikian pula ketersediaan ruang pembenahan. Tapi setidaknya bunyi status kawan jauh saya ini mungkin bisa menjadi bahan refleksi bersama :”Itulah, jangan berlebihan… Bangsa lebay bikin timnas alay! kata anak muda sekarang.”[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar