Pak Fajar, demikian saya dan beberapa kawan biasa menyapanya. Penjaga lahan parkir kampus profesinya. Ramah menyapa para mahasiswa wajar sikapnya.
Saya tidak begitu ingat kapan tepatnya kami mulai akrab bertegur sapa. Hanya momentumnya saja. Sore itu selepas menjalankan rutinitas perkuliahan, sesuatu menarik saya untuk mengambil posisi di sebelah pria itu. Bersamanya ada Kang Sutrisno(satpam kampus) yang tengah bercakap-cakap mengenai persoalan penghasilan. Didorong rasa ingin tahu, saya ikut ambil bagian dalam perbincangan tersebut. Waktu itu Pak Fajar tengah mengeluhkan ikhwal masa depannya dengan gaji minim dan masa kontrak yang segera akan berakhir.
Dalam percakapan itu, Pak Fajar enggan menyebutkan berapa gajinya dalam sebulan. Usahanya menutupi nominal pendapatan pribadi, sama keras dengan upayanya menutupi pihak-pihak yang bertanggungjawab atas nasib buruh rendahan sepertinya. “Wah, Mas, kalau saya ceritakan nanti nasib saya gimana? Nanti Mas tulis lagi”
“Loh, darimana Pak Fajar tahu bakal saya tulis ceritanya?” Tanya saya terkejut. Sungguh waktu itu saya tidak menyangka kewaspadaannya pada saya. Harus saya akui setelah mendengar kisahnya tentang ketidakadilan yang diterima buruh kontrak di kampus kami, keinginan menuliskan cerita itu memang ada bahkan sangat menggebu. Dari dia saya mengetahui bahwa persoalan di UII tidak melulu perkara budaya hedon mahasiswanya semata namun ada sebuah ketimpangan sosial di antara warganya.
Dalam hal ini cerita Pak Fajar membuka mata saya bahwa kondisi mahasiswa di kampus yang didirikan dengan visi rahmatan lil alamin-nya ini sejatinya bukanlah hasil dari peristiwa tunggal semata melainkan akumulasi dari faktor-faktor yang boleh jadi belum terpikirkan. Karenanya sebuah tulisan yang multi perspektif mengenai kondisi kampus, saya nilai perlu untuk dihadirkan dengan sebuah harapan akan lahir solusi komprehensif berbekal wawasan menyeluruh pula.
Sayangnya Pak Fajar justru tidak menghendaki ceritanya disebarluaskan. Kekhawatiran tampak pada wajah dan tatapannya yang sendu. ”Ini Mas Wildan kan? Yang biasa nulis di buletin Sintaksis bukan? Saya suka baca tulisannya Mas Wildan. Kalau yang ditulis tentang mahasiswa saja tidak apa-apa Mas. Tapi jangan tentang orang-orang kayak saya. Nanti kalau ada yang nggak terima, yang kena kami-kami ini.”
Waktu itu saya coba mengerti posisi Pak Fajar. Namun setelah beberapa tahun mengenalnya, baru saya memahami pelbagai dilema yang harus ia tanggung hingga muncul paranoia semacam itu. Ada kontrak kerja yang berusaha ia perpanjang setiap dua tahun. Sementara tidak ada peraturan dari Universitas mengenai batas waktu pengabdian minimal buruh kontrak agar dapat diangkat menjadi pegawai tetap.
Kondisi ini jelas membuat orang-orang seperti Pak Fajar selalu merasa berada dalam ketidakpastian. Ada ketakutan, jika suatu saat kontrak kerjanya berakhir, kampus menolak melanjutkan. Itu berarti banyak buatnya. Kontrak kerja yang tidak diperpanjang, artinya ia harus mencari pekerjaan baru tanpa dibekali pesangon. Itu juga berarti ia harus pontang panting mencari penghasilan lain demi menghidupi seorang istri dan dua anaknya dengan bekal alakadarnya.”Saya bisanya cuma ini Mas, la wong nggak ada keterampilan. Kalau sampai kontrak tidak diperpanjang, pusing saya. Sekarang masih punya penghasilan saja harus dicukup-cukupkan. Nggak ada yang bisa ditabung”
Nasib Pak Fajar dan buruh kontrak di UII memang terbilang ironis. Di saat kampus tersebut tengah menggenjot peringkatnya di level internasional, kalangan seperti penjaga parkir, cleaning service dan satpam tidak mampu berharap akan adanya perubahan pada kesejahteraan mereka. Sebab memang perkara kesejahteraan buruh, apalagi buruh kontrak tidak pernah masuk dalam salah satu standar World Class University. Tidak jarang lapis terbawah pekerja seperti inilah yang menjadi korban ambisi, di mana upah, fasilitas dan kesejahteraan mereka cenderung ditekan demi memperbesar anggaran infrastruktur lain semisal teknologi dan fasilitas perkuliahan.
Alienasi yang didialami pekerja kontrak UII seolah berbanding lurus dengan biaya perkuliahan mahasiswanya. Jika ada kenaikan pada gaji, itu pun tidak signifikan. Ditambah lagi ketiadaan organisasi yang menghimpun para pekerja kontrak ini, aspirasi dan keluhan mereka akhirnya hanya sampai pada obrolan dan keluhan.
Demikianlah, hari ini UII masih memburu peringkat dunianya. Kemarin jaringan baru telah didapat. Sebelumnya kerjasama pengadaan teknologi dari perusahaan IT terkemuka memassifkan publisitasnya di pelbagai media. Esok, para mahasiswa akan memperoleh mainan baru bernama teknologi pembelajaran mutakhir beserta muatan ideologisnya yang paling banal: gengsi. Di tempat terpisah, sementara wacana mengenai HAM, toleransi, dan pluralisme mulai latah diadopsi UII demi mengikuti tren wacana dunia, Pak Fajar dan rekan-rekannya masih berada di pinggiran sana, jauh dari pembahasan mereka yang tengah puber teknologi dan wacana global sambil memeras keringat orang-orang termarginal tadi[]
Ilustrasi:http://oediku.files.wordpress.com/2010/06/ilustrasi-paku-pada-kayu-yang-sama-dengan-fungsi-gunung.jpg
Ilustrasi:http://oediku.files.wordpress.com/2010/06/ilustrasi-paku-pada-kayu-yang-sama-dengan-fungsi-gunung.jpg

Kesejahteraan takmir juga tergerus..
BalasHapustempat peribadatan kurang diperhatikan