Laman

Selasa, 11 Januari 2011

Ketika Adik-adik Angkatanku Mulai Gemar Menulis


Alhamdulillah. Rasa syukur itu tak henti-henti terucap setiap kali adik-adik angkatan saya di kampus melahirkan tulisan. Tidak peduli seberapa jauh nilai kualitas itu ditakar, selama kandungannya baik, saya amat menghargai usaha mereka.
            Upaya bertahun-tahun menghidupkan budaya literasi di kampus, rasanya tidak berakhir percuma manakala percikan hasil kian terasa menggelitik dengan kesegaran yang nyata. Itulah yang terjadi beberapa bulan ini. Kawan-kawan yang awalnya masih ragu dengan kemampuannya mengukir bait-bait kata mulai berani tampil mengekpresikan goresannya. Apa pun judulnya, entah latihan, percobaan, atau sekadar penggugur kewajiban atas tugas yang saya berikan.
            Hari ini mungkin mereka masih merasa terbebani. Maklum saja, kebanyakan tulisan itu memang saya tugaskan dengan sedikit ‘paksaan’. Ini juga sebagai upaya menyambung napas media komunitas kami di mana kemampuan menulis jelas teramat penting untuk dimiliki. Namun saya percaya suatu saat nanti, kawan-kawan ini akan menyadari bahwa menulis bisa terasa menyenangkan. Bahwa menggali informasi dan mengoreskannya dengan niat berbagi bisa mendatangkan kebahagiaan lebih dari sekadar menjadi penikmat informasi.
            Bagi saya pribadi kemampuan menulis merupakan sesuatu yang teramat penting dimiliki setiap pegiat kebajikan. Karena dari sanalah transformasi pengetahuan itu dikemas untuk kemudian berselancar melewati ruang dan waktu. Ia dapat menyebar melintasi serangkain konteks di mana penyerap kebaikan dapat mengambil pelajaran dari satu individu, komunitas, masyarakat hingga beralih generasi. Betapa dahsyatnya keuntungan yang dapat diperoleh seorang penulis dalam hal ini. Dari sudut pandang investasi, tulisan yang penuh pesan kebajikan adalah amal yang amat produktif lebih dari estimasi keuntungan  yang dapat dibayangkan
            Belum lagi jika akhir-akhir ini kita menyaksikan pelbagai bentuk kemunkaran yang dikemas dalam bentuk yang sama terus bermunculan. Maka kebajikan yang dalam torehan kata seyogyanya juga dapat bertempur dan menantangnya pada tiap kesempatan keterbacaan.  Minimal ia dapat sejenak menahan kemunkaran dengan memantik dialektika sehingga kesempatan mencerna itu ada. Bayangkan jika kebusukan yang tampil dalam tulisan itu hadir tanpa penantang. Tentu pegiat kebajikan tidak bisa lepas tangan jika banyak orang menjadi tersesat karenanya.
            Di sisi lain kemampuan tulis menulis juga menjadikan kita manusia produktif. Buah pikiran mampu kita olah menjadi produk yang bisa dikonsumsi. Di sini pegiat kebajikan berlatih untuk tidak konsumtif dengan segala informasi yang tersedia. Mental mereka dibentuk untuk kemudian dapat diperluas manfaatnya dalam keseharian.
Mental produktif inilah yang saat ini terbilang langka dan sulit didapatkan dalam era serba instan dan terberikan. Ketika di tiap sudut kita selalu jumpai aneka godaan untuk terus menggonsumsi aneka produk dan wacana, generasi konsumtif mengapresiasinya seraya menghilangkan pelbagai kepekaan akan cita rasa. Kelaparan yang tak terpuaskan akan aneka muatan citra menjadikan generasi muda(bahkan tua) dibuat tidak lagi sempat berpikir akan nilai manfaat dan kebaikan dalam ragam asupan.
Maka pegiat kebajikan sepatutnyalah berdiri di kutub yang berbeda. Tentu saja bukan berarti menjadi pembenci konsumsi dan berlari memasuki ruang-ruang asketis. Melainkan membagun benteng ketahanan diri dengan serangkaian kemampuan mengolah setiap asupan yang ada menjadi energi. Untuk selanjutnya proaktif memproduksi asupan tandingan yang sarat kebergunaan pada unit-unit waktu.
Begitulah pegiat kebajikan sejati seharusnya. Menulis memang hanya salah satu sarana. Namun perlu selalu diingat dan diresapi nilai pentingnya. Apa pun motifnya hari ini, bagaimana pun kualitasnya saat ini, dan seperti apa pun tanggapan orang lain, langkah awal pegiat kebajikan di kampus saya dalam merangkai kata suatu saat akan akan berbuah kebaikan pula. Insya Allah[]

4 komentar:

  1. tapi penggemar fotografi juga makin bertambah mas... dan fotografi jurnalistik kayaknya lagi in sekarang... subhanallah, tunas2 pewarta kebenaran mulai bertebaran di kampus kita mas

    BalasHapus
  2. bersyukur ada mas wildan di samping kita....

    BalasHapus
  3. waduh om.. makasih banyak atas semangat dan sarannya. siap om saya akan belajar!

    BalasHapus