Laman

Senin, 20 Desember 2010

Tidak Menonton Bola Demi Agenda


“GOOOL…!”, dari balik kamar, teriakan tetangga-tetangga  kos saya  itu terdengar serempak diikuti riuh komentar yang tidak begitu jelas tertangkap di telinga. Dalam hati saya bersyukur. Tentulah teriakan tadi adalah ekspresi kegembiraan. Tim Garuda akhirnya bisa sedikit memberikan hiburan bagi rakyat negri ini yang sudah begitu jenuh oleh hingar bingar berita kebusukan politik dan hukum tanah air.
Sayangnya bergabung dengan euforia massa atas kebangkitan tim nasional belum sempat saya lakukan hari-hari ini mengingat begitu banyak agenda yang harus dikerjakan. Entah itu kembali menggeluti skripsi dan aneka literatur pendukungnya yang jauh-jauh hari sudah menumpuk, hingga memerhatikan perkembangan adik-adik angkatan yang sudah mulai memiliki kesadaran akan pentingnya budaya literasi, dan karenanya membutuhkan lebih banyak perhatian. Praktis menonton laga semifinal AFF kemarin malam tidak sempat saya lakukan. Saya hanya bisa sesekali membuka situs jejaring sosial guna memantau skor pertandingan dan aneka kejadian di Gelora Bung Karno sana yang dilaporkan spontan melalui status FB kawan-kawan hingga politisi yang katut dalam daftar pertemanan.
Masygul tentu saja. Tapi dari fragmen ini saya mencoba memaknai kembali arti dari menahan diri. Menimbang prioritas sekaligus meningkatkan makna kesungguhan. Khususnya ketika desakan melepaskan penat lewat hiburan emosional semisal menyaksikan kiprah timnas kita begitu menggoda. Ada pertarungan untuk tetap setia  fokus pada agenda manakala bisikan-bisikan untuk menunda pekerjaan dan bergabung dengan massa semakin menggila.
Menahan diri untuk tidak larut dalam atmosfer massa jauh-jauh hari pernah pula disampaikan oleh kedua orangtua menjelang kedatangan saya ke kota budaya ini 10 tahun yang lalu. Pesan yang selalu saya ingat, setiap kali berhadapan dengan tarikan massa yang serempak menerpa hari-hari saya. Berat namun disitulah perjuangannya. Saya harus tetap berusaha memandang godaan dengan proporsional sementara lingkungan kerap kali memolesnya dengan dramatisasi terkadang histeria.
            Saya juga ingat saat pertama kali melangkahkan kaki di halaman perguruan tinggi tempat saya menghabiskan tujuh tahun lebih masa kuliah yang hingga kini belum berakhir. Di sana, tarikan untuk melebur dengan selera massa tak kalah kuatnya dari magnet menikmati atraksi timnas kita hari ini. Jangan bayangkan anda dapat dengan serta merta sinis, manakala berada di sebuah lokasi di mana hedonisme menaturalisasi kehidupan mahasiswanya sementara anda sendiri telah menjadi bagian dari entitas tersebut.  Tidak hanya persoalan gaya hidup, pola pergaulan dan tarikan syahwat terhadap lawan jenis yang gemar memoles penampilan diri untuk senantiasa terlihat menarik, menjadi tantangan bagi fase labil saya dulu.
Sungguh, jika bukan karena ada hasrat intelektual yang mendominasi, boleh jadi saya telah hanyut dengan warna dominan lingkungan tersebut. Di titik ini saya bersyukur, masih memiliki obsesi lain yang lebih besar dari sekadar menikmati selera massa. Meskipun ada konsekuensi yang harus saya terima berupa perasaan terasing, namun tidak jadi soal selama cita-cita diri tetap terjaga.
            Menahan diri dan segala konsekuensinya mau tidak mau harus terus diupayakan jika ada sebuah cita-cita yang menanti untuk digapai. Pilihan untuk meraup selera massa yang emosional sekaligus militan mengejar cita-cita dengan mengandaikan keseimbangan bagaimanapun juga perlu ditepis. Sebab butuh usaha yang teramat keras untuk bisa memenuhi keduanya dengan takaran yang sama. Dan saya sadari pula di sanalah hasrat kerap mencari celah pembenaran. Menjadikan kita ngoyo dan kehilangan keseimbangan pada akhirnya.
Mungkin petuah Guru IP berikut ini bisa menjdi inspirasi kita bersama jika esok menghadapi dilema serupa:
Penting untuk bisa netral. Berusaha untuk tidak berusaha.”(Guru IP, dalam IP Man 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar