Laman

Tampilkan postingan dengan label Celoteh Bakul Madu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh Bakul Madu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Honey Moon

widhisatya.blogspot.com
Masa-masa memadu kasih telah tiba. Berbilang sahabat dan handai tolan telah dan tengah bersiap memasukinya. Indah. Tapi tentu saja bagi mereka yang mengalaminya. Pelbagai kabar telah kudengar, ribuan cerita sudah digelar. Dalam novel atau pun layar kaca, intinya tak jauh berbeda, ini soal perwujudan sebuah romansa.
          Dahulu, dengan lugu pernah aku bertanya pada Ibu tentang apa yang dimaksud bulan madu. Konon itu hanya istilah bagi sepasang pengantin baru untuk banyak menghabiskan waktu berdua dan tak ingin diganggu. Kebanyakan dari mereka memilih menjauhi hiruk-pikuk keramaian. Tentu saja waktu itu jawaban tersebut tidak mampu kupahami dengan otak sekepal sehingga yang bisa kulakukan hanya menghapal.

Rabu, 30 November 2011

Sekadar Melankoli Kala Sepi Pembeli


http://jahewangi.multiply.com
Penggal akhir bulan November. Yogyakarta teramat terik di pagi dan siang hari. Biasanya sekitar pukul 14.00 langit mulai mendung, untuk selanjutnya hujan sampai malam. Namun siang ini, hingga pukul 15.00, Jogja masih panas. Awan mendung sudah tampak waktu itu namun urung menyatu dalam gumpalan raksasa.
Hanya ada gerah. Ditambah perut keroncongan lengkap sudah. Aku duduk menatap layar komputer sambil sesekali mengintip jejaring sosial, blog, situs berita, tapi semua yang tampak hanya berkelebat terlewat. Kutengok handphone, tak ada SMS masuk yang di tunggu. Separuh hari berlalu tanpa pesanan madu.
Akhir bulan. Aku mafhum jika orang-orang mulai menekan lipatan dompetnya rapat-rapat. Anggaran untuk membeli suplemen seperti madu daganganku mungkin tidak sempat terpikirkan. Kebutuhan pokok sajalah yang kini konstan diusik permintaan. Selebihnya mungkin pernak pernik penunjang gaya hidup. Teringat beberapa hari yang lalu insiden antrean orang-orang yang memburu ponsel keluaran baru hingga jatuh korban.  Sama-sama akhir bulan, tapi urusan permintaan dan kendali keinginan mungkin berbeda buaian.

Minggu, 27 November 2011

Pelajaran Menempatkan Nasehat dari Bisnis

blocknotinspire.blogspot.com
Pernahkah anda menghadapi situasi ini: Ketika memutuskan melakukan sesuatu atas hidup anda, atau sekadar merencanakannya, tapi lantas anda ceritakan pada banyak orang, tiba-tiba saja anda sudah dikelilingi banyak penasehat?
Jika ya, maka kondisi demikian juga saya alami ketika memutuskan menjalankan kembali usaha Madu Sumbawa. Seketika beberapa kawan tampil sebagai penasehat. Tidak semua memang. Sebagian besar mereka yang mengambil peran ini adalah karib yang kebetulan memiliki pengetahuan tertentu mengenai bisnis maupun pengetahuan lain yang terkait; sebut saja pengetahuan manajemen, komunikasi, jaringan, hingga pengetahuan agama khususnya fiqh muammalah. Masing-masing memberikan sudut pandang, tidak jarang pula ada yang rela membuatkan konsep demikian detail.
Kondisi ini sebetulnya sudah saya duga. Pengalaman terdahulu membuktikan, gejala tersebut konsisten terjadi manakala saya memutuskan untuk melakukan sesuatu. Tentu saja ini harus disyukuri. Setidaknya sebagai pertanda masih banyak kawan yang peduli dengan kehidupan saya meskipun saya sendiri merasa belum banyak bermanfaat untuk mereka. Tapi ini juga membuktikan bahwa hubungan persahabatan bukan soal “memberi apa untuk mendapatkan apa”, lebih dari itu, ini soal rivalitas kebermanfaatan, di mana satu individu berlomba untuk terus berguna bagi yang lain.

Kamis, 17 November 2011

Bayi Ini Bernama “Bima”

dwibeltim.blogspot.com
                Kuberi nama bayi ini Bima. (Bi)snis (ma)du yang dimulai dari sebuah kota kecil di pulau Sumbawa sana. Nama kabupaten itu serupa dengannya. Di tempat itu juga, Ibu yang menitipkannya padaku terlahir. Setelah sebelumnya ia jaga dengan sangat sempurna meski luput diberi nama. Maka pemberian namanya kini dimaksud sebagai pengingat asal usul; punya akar lagi berjati diri.
          Namun kini ia hadir kembali di tengah lingkungan yang sarat laku culas beratasnamakan upaya mencari makan. Di lingkungan tersebut promosi menjadi medium kebohongan dan diskriminasi. Saling klaim sebagai yang nomor satu menjadi wajar sehingga keunggulan tak lagi punya arti. Upaya berbagi hanya basa-basi yang lantas berujung arogansi sebagai yang paling peduli.
          Laku culas itu semakin diperparah dengan hadirnya pelbagai wacana perniagaan yang amat jarang menyinggung persoalan tujuan hidup dan kehidupan. Di mana-mana uang sukses memelet ribuan manusia untuk terjun dalam bisnis. Bisnis menjadi medium mencari uang dan uang menjadi sesembahan baru yang mengakibatkan penyakit kejiwaan akut. Rezeki disederhanakan sebagai lembaran pecahan nominal angka-angka angkuh yang sulit untuk dibantah. Training motivasi bisnis selalu bisa ditebak ke mana akan mengarah, jika bukan kaya, sangat kaya, tentulah cepat kaya.

Selasa, 15 November 2011

Balada Salah Harga

www.productsdb.com
Saya tertegun. Takaran saya jelas tidak salah. Itu tepat satu liter. Namun setelah ditimbang menggunakan satuan kilogram, rupa-rupanya meleset melampaui asumsi semula. Berat madu tertakar ternyata satu kilogram lebih! Dan itu adalah petaka.
  Bagaimana tidak. Pertimbangan penetapan harga madu yang kerap saya kampanyekan melalui jejaring sosial maupun dari mulut ke mulut, berawal dari asumsi yang ternyata keliru. Satu liter Madu Sumbawa kali ini tidak ekuivalen dengan satu kilogram. Padahal perhitungan yang saya buat untuk mengais laba didasarkan pada satuan terakhir, persis dengan yang saya beli dari Sumbawa sana. Sementara untuk dijual, ukuran liter-lah yang digunakan. Alhasil, alih-alih untung, dalam setiap madu yang terjual, modal justru tergerus signifikan.

Minggu, 13 November 2011

Madu (dan) Ibu

baitulherbal.com
Madu. Kenapa madu? Beberapa kawan sempat menanyakan ikhwal pilihan usaha yang mulai saya geluti beberapa hari belakangan ini. Biasanya saya hanya menjawab sekenanya saja. Sebab saya sendiri tidak benar-benar yakin alasan sesungguhnya. Yang paling saya rasakan barangkali karena ada sosok istimewa yang bisa menyemangati dan mengajari saya.
Ibu (saya memanggilnya dengan sebutan Ummi). Beliau telah berdagang madu sejak masa perantauannya di Jogja puluhan tahun silam. Sembari kuliah, Ibu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dengan berjualan cairan manis kiriman kakek dari Bima ini. Hasilnya cukup untuk biaya sekolah dan keperluan sehari-hari meski sederhana.
          Lepas dari status mahasiswi, ibu tetap berjualan madu. Meski penghasilan pokok saat itu bertumpu pada aktivitas mengajar, agaknya berjualan madu menjadi terlalu emosional jika ditinggalkan. Hasil olahan lebah pulau kampung halamannya seolah menjadi ikatan sekaligus pengingat akan asal usul primordial yang harus dijaga. Maka disela-sela jadwal mengajar, ibu tidak gengsi untuk menawarkan madu kepada kawan sesama dosen hingga mahasiswanya. Di warung-warung sekitar kampus IKIP karang malang(sekarang UNY), botol-botol madu Sumbawa titipan ibu selalu tersedia.