Laman

Rabu, 30 November 2011

Sekadar Melankoli Kala Sepi Pembeli


http://jahewangi.multiply.com
Penggal akhir bulan November. Yogyakarta teramat terik di pagi dan siang hari. Biasanya sekitar pukul 14.00 langit mulai mendung, untuk selanjutnya hujan sampai malam. Namun siang ini, hingga pukul 15.00, Jogja masih panas. Awan mendung sudah tampak waktu itu namun urung menyatu dalam gumpalan raksasa.
Hanya ada gerah. Ditambah perut keroncongan lengkap sudah. Aku duduk menatap layar komputer sambil sesekali mengintip jejaring sosial, blog, situs berita, tapi semua yang tampak hanya berkelebat terlewat. Kutengok handphone, tak ada SMS masuk yang di tunggu. Separuh hari berlalu tanpa pesanan madu.
Akhir bulan. Aku mafhum jika orang-orang mulai menekan lipatan dompetnya rapat-rapat. Anggaran untuk membeli suplemen seperti madu daganganku mungkin tidak sempat terpikirkan. Kebutuhan pokok sajalah yang kini konstan diusik permintaan. Selebihnya mungkin pernak pernik penunjang gaya hidup. Teringat beberapa hari yang lalu insiden antrean orang-orang yang memburu ponsel keluaran baru hingga jatuh korban.  Sama-sama akhir bulan, tapi urusan permintaan dan kendali keinginan mungkin berbeda buaian.

Madu dan gadget jelas berbeda kategori. Aku sadari hal itu. Namun khayalan bermain pada layar monitor netbook murah meriah milikku. Tentang gaya hidup sebagai latar dan madu Sumbawa bintangnya. Di sana sebuah era gaya hidup sehat datang, tentu saja artikel mengenai rendahnya konsumsi madu orang Indonesia tidak relevan lalu terlupakan. Orang-orang berdesakan mengantri madu. Warung-warung dan kios penjaja cairan ini tumbuh subur. Sementara restoran berusaha ambil bagian dengan menyediakan aneka menu yang menggunakan madu. Pada daftar menu, tertera Ayam bakar madu, kambing guling madu, Roti celup madu, hingga puding madu sebagai hidangan pencuci mulut.
Pada era itu, madu hutan mudah didapat dan harga bukan lagi urusan yang membuat penat. Sebab hutan lebat telah aman dari raungan gergaji mesin para penjarah yang berlindung di bawah ketiak oknum pejabat. Di rimba raya tumbuh-tumbuhan merindang. Bunga-bunga bermekaran. Lebah-lebah bisa berproduksi dengan tenang hingga madu penuh menggenangi sarang. Pemburu madu tak perlu masuk hutan terlalu dalam, atau memanjat pohon terlalu tinggi yang beresiko terpeleset jatuh, disengat, lalu mengumpat. Sebab pada batang-batang rendah, madu bisa di dapatkan dengan mudah. Sang ratu lebah menjadi ramah, membagi hasil produksi kawanannya yang melimpah.
Khayalan itu masih muncul bahkan ketika aku beranjak mencari makanan murah dengan porsi wah yang bisa kutemukan. Di jalan aku melihat beberapa kios sepi. Tapi raut sang tuan tak membesitkan kegusaran. Mungkin memang sudah biasa. Atau dia sudah jauh-jauh hari memersiapkan turunnya jumlah pelanggan di akhir bulan, entahlah. Yang jelas etalase mereka memantik kembali imajinasiku tentang botol-botol madu yang berjajar rapih memenuhinya hingga batas siku. Lalu raut tenang para tuan tak lagi berbuah tanya. Karena jelas pemandangan antrean hanya menanti waktu dalam bilangan jam atau menit.
Ah, kini malam semakin larut. Aku sempatkan menatap kenyataan belum seliter pun madu terjual. Untung saja sebelum memutuskan bercerita melalui catatan ini, dari laman facebookku muncul seseorang yang tertarik pada promosiku yang lugu mungkin juga wagu. Dia mantan dekanku dulu. Syukurlah, setidaknya esok ada pekerjaan yang menjanjikan kompensasi guna menunda gemuruh perutku yang gaduh sejak kemarin. Mungkin tidak ada antrean seperti khayalanku tentang era masyarakat yang menggandrungi madu. Tapi toh rezeki memang bukan soal berapa panjang antrean pembeli, tapi apa yang bisa dinikmati saat ini.
      Menutup hari. Aku ingin kembali lagi ke alam mimpi. Tapi sudah dicukupkan saja khayalan tentang era madu. Aku cuma ingin terbenam sekali lagi dalam sinema cinta yang baru kupinjam dari seorang gadis baik hati pagi tadi[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar