![]() |
| widhisatya.blogspot.com |
Masa-masa memadu kasih telah tiba. Berbilang sahabat dan handai tolan telah dan tengah bersiap memasukinya. Indah. Tapi tentu saja bagi mereka yang mengalaminya. Pelbagai kabar telah kudengar, ribuan cerita sudah digelar. Dalam novel atau pun layar kaca, intinya tak jauh berbeda, ini soal perwujudan sebuah romansa.
Dahulu, dengan lugu pernah aku bertanya pada Ibu tentang apa yang dimaksud bulan madu. Konon itu hanya istilah bagi sepasang pengantin baru untuk banyak menghabiskan waktu berdua dan tak ingin diganggu. Kebanyakan dari mereka memilih menjauhi hiruk-pikuk keramaian. Tentu saja waktu itu jawaban tersebut tidak mampu kupahami dengan otak sekepal sehingga yang bisa kulakukan hanya menghapal.
Ada upaya untuk terus mengerti tapi pupus karena ini perkara hidup yang mensyaratkan untuk dialami. Honey moon kata mereka yang gandrung mencomot istilah asing adalah laku yang menjungkirbalikkan anggapan bahwa terasing atau mengasingkan sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Faktanya banyak pasangan lawas mengagendakan bulan madu untuk kedua, ketiga, atau keempat kalinya bahkan mungkin lebih dari itu dengan dalih mengeratkan kembali tali asmara yang mulai mengendur seiring dengan berjalannya waktu.
Demikianlah bulan madu dijalani sepasang kekasih, untuk kemudian dikenang, terkadang dibicarakan. Pasangan muda kerap kali merasa perlu mewartakannya pada kawan-kawannya yang lain; biar kesenangan dapat dibagi dalam bayang dan angan-angan sahabat bujang. Ada yang tengah bersenang-senang, sementara lainnya mungkin hanya bisa menatap langit-langit sambil tersenyum kosong di rebahan dipan.
Belakangan, bayang-bayang bulan madu sering melintasi lamunanku. Tentang apa yang akan kulakukan bersama gandengan sah yang disebut-sebut sebagai pasangan hidup. Memang belum terwujud sebab yang disebut kekasih pun bahkan urung menampakkan tanda-tanda akan mendekat. Perasaan kala terasing dan mengasingkan diri pun masih terasa pahit bak jaddam. Bulan madu masih sebatas impian satir dan ironi. Ironi, menggingat profesi baruku justru sebagai penjual madu. Terkadang jejeran jerigen maduku itu cukup mengusik. Sebab nama cairan di dalamnya beberapa kali menarik hubungan asosiasi dalam kepalaku tentang mimpi itu.
Kenyataannya bulan madu sebagai frase mungkin masih jauh untuk kugapai dengan keadaan saat ini. Tapi biarlah, setidaknya masih mungkin menjadikannya sebagai dorongan obsesi mencari sebanyak mungkin pelanggan. Agar bulan madu punya makna lain yakni bulan di mana manisnya Madu Sumbawaku diserap pasar tanpa tercetus keluh sukar. Selebihnya usaha lagi dan lagi. Setidaknya ini lebih baik daripada melewati hari dengan lamunan bulan madu semu atau menanti hadirnya simpati dari sesosok ‘ukhti’…[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar