Laman

Minggu, 27 November 2011

Pelajaran Menempatkan Nasehat dari Bisnis

blocknotinspire.blogspot.com
Pernahkah anda menghadapi situasi ini: Ketika memutuskan melakukan sesuatu atas hidup anda, atau sekadar merencanakannya, tapi lantas anda ceritakan pada banyak orang, tiba-tiba saja anda sudah dikelilingi banyak penasehat?
Jika ya, maka kondisi demikian juga saya alami ketika memutuskan menjalankan kembali usaha Madu Sumbawa. Seketika beberapa kawan tampil sebagai penasehat. Tidak semua memang. Sebagian besar mereka yang mengambil peran ini adalah karib yang kebetulan memiliki pengetahuan tertentu mengenai bisnis maupun pengetahuan lain yang terkait; sebut saja pengetahuan manajemen, komunikasi, jaringan, hingga pengetahuan agama khususnya fiqh muammalah. Masing-masing memberikan sudut pandang, tidak jarang pula ada yang rela membuatkan konsep demikian detail.
Kondisi ini sebetulnya sudah saya duga. Pengalaman terdahulu membuktikan, gejala tersebut konsisten terjadi manakala saya memutuskan untuk melakukan sesuatu. Tentu saja ini harus disyukuri. Setidaknya sebagai pertanda masih banyak kawan yang peduli dengan kehidupan saya meskipun saya sendiri merasa belum banyak bermanfaat untuk mereka. Tapi ini juga membuktikan bahwa hubungan persahabatan bukan soal “memberi apa untuk mendapatkan apa”, lebih dari itu, ini soal rivalitas kebermanfaatan, di mana satu individu berlomba untuk terus berguna bagi yang lain.

Namun dalam beberapa kasus, para penasehat ini terkadang juga memiliki motif lain. Fakta ini tentu tidak menghilangkan sama sekali baik sangka saya pada mereka. Ini hanya bermaksud menggambarkan bahwa suatu tindakan terkadang dilandasi lebih dari satu dorongan. Saya sendiri bukan pengecualian. Pribahasa “sambil menyelam minum air” mungkin kurang tepat menggambarkan, sebab situasinya lebih cenderung pada dorongan yang tidak melulu berorientasi capaian material atau hasil namun lebih dekat dengan kehendak aktualisasi. Dan ini bisa menjadikan sesorang sangat obsesif dengan gagasannya sendiri.

Misalnya saja, dulu sewaktu belum memulai bisnis, pelbagai ide promosi produk sempat membanjiri pikiran saya. Namun sayangnya saya tidak memiliki saluran pribadi guna mewujudkannya. Akhirnya gagasan-gagasan tadi saya sampaikan pada beberapa kawan yang kebetulan telah berkecimpung dalam dunia bisnis. Ada perasaan lega memang manakala saran tersebut dijalankan, namun pada kasus lain rasa jengkel kerap mengusik jika pihak yang diberi saran terkesan mengabaikan. Kasus pertama memunculkan perasaan berarti, sedang yang kedua memunculkan aneka sangka yang tersimpan dalam hati.
           Sekarang posisi telah berubah. Sebagai pelaku, kini saya bisa lebih merasakan apa yang dulu menjadi dasar pertimbangan menerima suatu nasehat. Di sana ada momentum turut ambil bagian. Ada situasi dan kondisi di mana masukan yang ada terpengaruhi wujud tampilannya hingga berujung perlakuan tertentu. Nasehat yang dicerap sempurna, kerap kali berkorespondensi dengan masalah aktual yang tengah di hadapi. Saat ini contohnya, sebagai pemula, perhatian saya lebih berkutat pada penguasaan pemahaman mengenai jalur distribusi dan perhitungan biaya. Lainnya, saya masih harus membangun komunikasi intensif dengan pemasok untuk memastikan kelancaran maupun efisiensi pengiriman barang. Dalam kondisi ini, nasehat yang tidak berhubungan harus disimpan. Bukan diabaikan, melainkan sekadar ditunda untuk dipikirkan kemudian. Dari situ saya belajar, bahwa pemahaman mengenai momentum ini amat penting guna meningkatkan penerimaan dan daya guna suatu gagasan.
           Di samping itu, agaknya kita juga memang perlu arif terhadap tahapan pengetahuan orang lain. Dalam bayak hal, problem ketidakpekaan akan tahapan ini amat menghambat transformasi pengetahuan berikutnya. Semacam keterputusan jalur yang kadang memaksa kita berputar mencari jalur alternatif guna mencapai kepahaman. Seorang kenalan saya misalnya, tidak tanggung-tanggung memberikan nasehat bisnis, bahkan serasa mendapatkan kuliah baru mengenai perdagangan mutakhir. Konsep-konsep yang disampaikannya pun disertai contoh penerapan pada perusahaan-perusahaan besar yang telah teruji. Namun saya tidak mampu menghubungkan dengan apa yang tengah saya jalani saat ini, khususnya pada tahap merintis di mana masalah-masalah yang kerap muncul adalah persoalan teknis yang lebih membutuhkan keterampilan teknis pula alih-alih konseptual khas orang-orang yang duduk di belakang meja direktur atau manajer.
          Berikutnya mungkin masalah yang lebih substansial yakni paradigma. Suatu domain aktivitas yang sama boleh jadi memiliki latar paradigma yang berbeda, sehingga akan memengaruhi pengejawantahannya baik konsep maupun bentuk. Saya ingat, dalam sebuah kesempatan pernah memberi masukan pada seorang saudara bagaimana mengembangkan bisnisnya agar semakin besar disertai strategi memenangkan persaingan. Namun dengan hati-hati, saudara saya itu menyampaikan, bahwa ia tidak ingin usahanya lebih besar lagi. Ia merasa cukup. Bahkan, alih-alih memikirkan persaingan, ia justu berharap ceruk pasar yang ada bisa digarap oleh lebih banyak orang. Sempat saya menganggapnya naif, namun setelah menjadi pelaku, saya sadar, bahwa itulah jalan kebahagian yang hendak ditempuhnya melalui bisnis.
         Kata kuncinya mungkin empati. Dan tentu saja ini berlaku tidak hanya untuk pemberi nasehat namun juga pihak yang dinasehati. Dalam hal ini aktivitas merentas bisnis rupanya mampu membuka celah pengetahuan baru mengenai aktivitas nasehat menasehati. Pengetahuan ini dibutuhkan agar kita mampu memerlakukan sebuah nasehat dengan tepat sehingga terhindar dari kebingungan atau kondisi kejenuhan. Pun kala memberikan nasehat, seseorang dapat memperhitungkan momentum dan sarana dengan lebih akurat seraya merenungkan kembali motivasi di balik tiap-tiap masukan agar tidak terjebak pada obsesi yang berlebihan akan aktualisasi gagasan itu sendiri[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar