Laman

Minggu, 13 November 2011

Madu (dan) Ibu

baitulherbal.com
Madu. Kenapa madu? Beberapa kawan sempat menanyakan ikhwal pilihan usaha yang mulai saya geluti beberapa hari belakangan ini. Biasanya saya hanya menjawab sekenanya saja. Sebab saya sendiri tidak benar-benar yakin alasan sesungguhnya. Yang paling saya rasakan barangkali karena ada sosok istimewa yang bisa menyemangati dan mengajari saya.
Ibu (saya memanggilnya dengan sebutan Ummi). Beliau telah berdagang madu sejak masa perantauannya di Jogja puluhan tahun silam. Sembari kuliah, Ibu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dengan berjualan cairan manis kiriman kakek dari Bima ini. Hasilnya cukup untuk biaya sekolah dan keperluan sehari-hari meski sederhana.
          Lepas dari status mahasiswi, ibu tetap berjualan madu. Meski penghasilan pokok saat itu bertumpu pada aktivitas mengajar, agaknya berjualan madu menjadi terlalu emosional jika ditinggalkan. Hasil olahan lebah pulau kampung halamannya seolah menjadi ikatan sekaligus pengingat akan asal usul primordial yang harus dijaga. Maka disela-sela jadwal mengajar, ibu tidak gengsi untuk menawarkan madu kepada kawan sesama dosen hingga mahasiswanya. Di warung-warung sekitar kampus IKIP karang malang(sekarang UNY), botol-botol madu Sumbawa titipan ibu selalu tersedia.

          Ibu memang sosok yang mandiri sebagai perempuan. Bahkan untuk ukuran zamannya kala belia. Ketika gelombang budaya rock n roll, hingga hippie latah dilakoni kawan-kawannya, ia tetap bersahaja untuk tampil apa adanya. Hal ini diakui oleh beberapa sahabat dekatnya sendiri. Barangkali hal itu pula yang menjadikan ayah saya tertarik pada sosoknya di samping kesamaan profesi sebagai dosen muda pada almater yang sama. Berbeda dengan Ibu, Ayah punya talenta lebih kuat sebagai akademisi. Namun soal perjuangan hidup dan keuletan, dengan rendah hati ia mengaku tidak seberapa dibandingkan perempuan yang dinikahinya. Di matanya, Ibu selalu terlihat penuh vitalitas, percaya diri, dan luwes dalam pergaulan.
         Kesahajaan, kemampuan bertahan, dan keuletan Ibu, bukan hanya menarik perhatian Ayah, atau kawan-kawan lawan jenisnya saja, tapi itu juga membawa berkah bagi orang-orang di sekelilingnya. Ini dikarenakan Ibu juga merupakan sosok multi-talenta. Beberapa keterampilan survival sebagai perempuan ia kuasai; memasak dengan aneka variasi, menjahit, menenun, meronce, serta tali-temali. Jika rata-rata perempuan bahkan laki-laki sekarang takut atau jijik menyembelih ayam misalnya, Ibu tak pernah mengalami hal itu sejak remaja, juga hujaman lengan kirinya saat mengayunkan parang membelah kelapa, mantap dan bertenaga.
           Dengan segenap kemampuan itulah ibu menebar manfaat, misalnya dengan memasakkan makanan untuk kawan-kawan kos-nya dengan biaya yang bisa ditekan sebab pengolahan dari awal ia lakukan sendiri. Pun ketika ada sahabatnya yang menyodorkan bahan kain lalu minta dibuatkan baju, ibu dengan senang hati mengerjakan tanpa menagih upah. Namun demikian, pengertian dari lingkugan kerap kali mengkompensasi jerih payah Ibu dalam bentuk rupiah. Dan itu rupanya lebih dari cukup untuk dirinya sendiri. Maka kelebihan rejeki itu ia gunakan untuk membiayai saudara atau keponakannya bersekolah atau mengembangkan keterampilan melalui kursus.
          Ibu seolah memahami filosofi lebah yang memproduksi madu yang ia jual. Ia cari rejeki Tuhannya dengan cara yang baik, dan membagi manfaat bagi yang membutuhkan dimuali dari yang terdekat. Ia jaga dan hayati tiap prosesnya dengan kemandirian, kerja keras, serta harga diri. Bukan kemelimpahan, namun barokah senantiasa ia buru. Bukan kenikmatan ragawi, melainkan kebahagiaan ruhani yang ia hasrati dengan terus berbagi.
          Belajar menjual menjual madu dari sosok Ibu, saya akhirnya dipaksa mencerna lebih dari sekadar bagaimana agar dagangan habis terjual, tapi juga belajar arti kehidupan dan kebahagiaan. Saya bahkan dipaksa untuk menepikan pelbagai doktrin pemasaran yang saya pelajari semasa duduk di bangku perkuliahan. Di sini, saya harus merunduk dan menepikan keangkuhan. Kembali menjadi sosok dungu, yang menghasrati kearifan dari sejarah, dan laku di balik apa yang saya terima saat ini[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar