![]() |
| www.productsdb.com |
Saya tertegun. Takaran saya jelas tidak salah. Itu tepat satu liter. Namun setelah ditimbang menggunakan satuan kilogram, rupa-rupanya meleset melampaui asumsi semula. Berat madu tertakar ternyata satu kilogram lebih! Dan itu adalah petaka.
Bagaimana tidak. Pertimbangan penetapan harga madu yang kerap saya kampanyekan melalui jejaring sosial maupun dari mulut ke mulut, berawal dari asumsi yang ternyata keliru. Satu liter Madu Sumbawa kali ini tidak ekuivalen dengan satu kilogram. Padahal perhitungan yang saya buat untuk mengais laba didasarkan pada satuan terakhir, persis dengan yang saya beli dari Sumbawa sana. Sementara untuk dijual, ukuran liter-lah yang digunakan. Alhasil, alih-alih untung, dalam setiap madu yang terjual, modal justru tergerus signifikan.
Bukan karena saya tidak mengerti beda antara liter dan kilogram. Ini murni kecerobohan. Sebab sebelum kembali memulai berjualan madu awal November ini, aktivitas yang sama secara mandiri pernah saya lakukan pada penggal akhir 2009 hingga awal 2010 silam. Tidak ada masalah perhitungan waktu itu karena tidak ada pula selisih antara kilogram dan liter manakala dikonversi. Namun yang luput dipertimbangkan, kala itu musim penghujan sehingga kadar air pada madu terbilang tinggi. Berbeda keadaannya dengan produk kali ini yang dipanen pada akhir musim kemarau. Selisihnya bahkan tidak tanggung-tanggung. Jika pada pada musim pengujan satu kilogram bisa ditakar menjadi satu liter tepat, maka kali ini saya hanya mendapatkan lebih kurang 600 ml. Itu artinya perbandingan volume pada satuan berat yang sama adalah 1: 0,6. Dan kerugian saya pada setiap penjualan berkisar 400ml!
Begitulah. Dalam dua hari terakhir, akhirnya pekerjaan lebih banyak tersita guna membenahi ulang perhitungan. Dari situ saya mendapatkan nominal baru yang seharusnya menjadi harga jual yakni 230.000 rupiah. Ya, naik 80.000 dari yang semula. Harga 150.000 per liter mau tidak mau harus dikoreksi jika tidak hendak menanggung kerugian. Ini tentu bukan keputusan yang mudah. Pasalnya, Informasi harga awal baru beberapa hari yang lalu tersampaikan kepada konsumen. Belum ada seminggu. Tentu jika koreksi harga dilakukan dalam waktu yang terlampau dekat akan memantik beragam tanya dan syak wasangka.
Dilematis. Namun daripada cemas akan penilaian orang, mungkin akan lebih bijak jika menuntut diri berprasangka baik pada konsumen. Belajar untuk percaya bahwa mereka bisa memaklumi, kecerobohan ini. Di samping itu saya juga dituntut untuk ikhlas menghadapi musibah salah harga tadi serta menjadikannya pelajaran berharga. Saya percaya bahwa konversi tidak hanya bisa dilakukan antar satuan dalam alam materi atau fisik semata layaknya problem kilogram dan liter di atas, namun juga punya dimensi metafisika. Di wilayah ini klaim untung dan rugi bisa ditimbang ulang menggunakan takaran hikmah. Di situ musibah bisa menjadi berkah, kesedihan menjadi kearifan, dan kecerobohan mematangkan pengetahuan.
Tiba-tiba saya teringat pelajaran dari seorang saudara yang usahanya telah maju. Menurutnya keuntungan orang yang baru memulai bisnis lebih bayak berbentuk pengetahuan daripada materi. Bahkan yang terakhir bisa tidak ada sama sekali. “Kalau tetap menjaga kesyukuran, pasti untung! InsyaAllah,” ujarnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dan pandai bersyukur[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar