![]() |
| noshit4ever.blogspot.com |
“Ini plagiat?” tanya Profesor Suwandi dengan nada sinis yang mengiris.
“Bukan prof, tesis ini saya dapatkan sendiri.”
“Bukan? Saudara yakin? Saudara tidak sedang mengigau? Saudara tahu siapa saya? Saya sudah melahap puluhan jurnal dan karya ilmiah. Apa yang saudara paparkan menyangkut pengaruh perubahan iklim dan implikasinya bagi produktifitas tenaga kerja sudah pernah saya baca. Tesisnya persis seperti yang saudara tuliskan. Saya bahkan bisa menunjukkan karya yang saudara tiru kalau saya mau sebab saya juga tahu darimana saudara dapatkan!” Profesor Suwandi meningkatkan tekanan.
Mahasiswa di hadapannya terdiam. Jauh di dalam batinnya ia mengakui tuduahan sang Profesor. Plagiat memang ia lakukan, namun siapa yang tidak, pikirnya. Sebagian besar kawannya melakukan hal serupa, toh mereka lulus. Ini dunia yang simpel, kenapa harus dirumitkan khotbah dan bualan mengenai etika akademik. Bukankah ini era persekutuan dalam ketakacuhan. Itulah sebabnya dosen-dosen lebih memilih menutup mata atas kenyataan kebrengsekan akademik di kampusnya. Jangankan dengan dosen, dengan setanpun tak mengapa, biarlah urusan dosa menjadi bahan obrolan yang meriah di neraka.
Setan merestui, dosen-dosen hanya jongos yang melegalisasi. Sebagian dosen tepatnya, tapi rumor bahwa pengujinya kini adalah pengecualian, jauh-jauh hari sudah ia dengar. Ia hanya tidak menyangka bahwa nasib mempertemukan dengan pengecualian itu. Padahal kemungkinannya sangat kecil sebab di samping sangat sibuk dengan proyek ilmiahnya sendiri Profesor Suwandi juga memegang jabatan selaku rektor dan ketua beberapa asosiasi akademisi. Sudah sangat lama ia tidak diikutsertakan dalam ujian tugas akhir mahasiswa karena tumpukan aktivitasnya itu.
Bayang-bayang kelabu mulai hadir. Udara dingin menembus raganya yang sebelumnya dihangatkan api neraka. Tapi sang mahasiswa tidak ingin gagal begitu saja. Apa kata orangtuanya nanti jika mendengar kabar anaknya tidak lulus lantaran terbukti melakukan plagiarisme. Bagaimana ia harus manghadapi kekasihnya yang sudah menanti kabar baik di luar ruangan sana. Atau yang lebih mengerikan, bagaimana tanggapan orangtua kekasihnya itu jika mengetahui calon menantunya gagal dalam studi dengan sangat memalukan. Maka ia terima tantangan sang Profesor sekadar menunda penilaian akhir.
“Begini Prof, jika memang karya saya plagiat, Profesor bisa menunjukkan bagian mana dan karya tulis siapa yang saya tiru. Dengan begitu bisa dibuktikan. Tapi saya mohon kebijaksanaan Profesor untuk sementara saja sampai bisa dibuktikan, agar meluluskan dulu. Sebab ini belum terbukti.”
“Saudara sedang bernegosiasi dengan saya?”
“Saya hanya berharap ada kemurahan hati Profesor,”
“Kemurahan hati atau kemurahan harga diri? Saudara tahu siapa saya? Tidak ada ampun untuk plagiarisme. Saudara bisa lobi banyak dosen di sini tapi tidak dengan saya. Saya punya visi yang jelas untuk tegaknya kejujuran akademik di kampus ini. Itu sebabnya saya kembali bersedia dijadikan penguji. Ternyata benar desas-desus yang saya dengar. Saudara camkan baik-baik! Inilah penyakit bangsa kita. Tidak pernah menghargai orisinalitas, mau gampangnya saja, tertawa di atas kerja keras orang lain. Sekarang saudara keluar!”
Mata pemuda itu berkaca-kaca. Habis sudah. Tiada lagi berani berangan-angan tentang masa depan gilang gemilang. Sebelum membuka pintu ruangan ujian Profesor Suwandi memanggilnya kembali.
“Sebentar. Mungkin masih bisa saya pertimbangkan permintaan saudara tentang pembuktian itu. Tapi ingat, saudara tidak akan saya nyatakan lulus dengan embel-embel sementara atau apalah. Lulus ya lulus, gagal ya gagal. Saya terima permintaan saudara untuk menghadirkan bukti karena saya punya komitmen terhadap etos akademik. Besok temui saya lagi di kantor, nanti saya tunjukkan karya yang saya maksud.”
“Eh, baik Prof…,” ucap pemuda malang itu dengan suara bergetar. Betapa sepinya tertangkap basah. Bahkan dedemit pun kini enggan bersamanya.

idealisme seperti in sepertinya menakutkan bagi mahasiswa masa kini...
BalasHapus