Laman

Kamis, 17 November 2011

Bayi Ini Bernama “Bima”

dwibeltim.blogspot.com
                Kuberi nama bayi ini Bima. (Bi)snis (ma)du yang dimulai dari sebuah kota kecil di pulau Sumbawa sana. Nama kabupaten itu serupa dengannya. Di tempat itu juga, Ibu yang menitipkannya padaku terlahir. Setelah sebelumnya ia jaga dengan sangat sempurna meski luput diberi nama. Maka pemberian namanya kini dimaksud sebagai pengingat asal usul; punya akar lagi berjati diri.
          Namun kini ia hadir kembali di tengah lingkungan yang sarat laku culas beratasnamakan upaya mencari makan. Di lingkungan tersebut promosi menjadi medium kebohongan dan diskriminasi. Saling klaim sebagai yang nomor satu menjadi wajar sehingga keunggulan tak lagi punya arti. Upaya berbagi hanya basa-basi yang lantas berujung arogansi sebagai yang paling peduli.
          Laku culas itu semakin diperparah dengan hadirnya pelbagai wacana perniagaan yang amat jarang menyinggung persoalan tujuan hidup dan kehidupan. Di mana-mana uang sukses memelet ribuan manusia untuk terjun dalam bisnis. Bisnis menjadi medium mencari uang dan uang menjadi sesembahan baru yang mengakibatkan penyakit kejiwaan akut. Rezeki disederhanakan sebagai lembaran pecahan nominal angka-angka angkuh yang sulit untuk dibantah. Training motivasi bisnis selalu bisa ditebak ke mana akan mengarah, jika bukan kaya, sangat kaya, tentulah cepat kaya.

                      Di lingkungan tersebut, untuk bisa kaya orang-orang dituntun menguasai banyak keterampilan mulai dari teknik komunikasi persuasif sampai hypnosis. Dari keterampilan mencari modal,  baik modal dengkul, hingga modal janji alias gombal didesakkan ke alam pikiran. Belakangan ritual agama juga disulap menjadi salah satu teknik agar bisa cepat kaya. Sholat bukan lagi menjadi bentuk penghambaan dengan niat yang jernih, sebab pikiran terlanjur disesaki harapan cepat berduit, syukur-syukur tanpa perlu berpeluh atau berperut buncit. Dzikir pun tidak lagi bermakna mengingat Allah, melainkan mantra-mantra agar Allah berkenan mengingat kita lalu secara ajaib pelbagai kesempatan kaya berdatangan dalam rupa-rupa bentuk entah memenangi tender, penjualan meningkat tajam, atau sekadar memenangkan undian hingga menemukan dompet hilang.
              Pada akhirnya motivasi bisnis kian menjauhkan manusia dari "Yang Hakiki". Memerangkap tiap-tiap insan dalam kebingungan terus-menerus seperti lingkaran setan sampai berakhir di liang lahat. Bisnis pun bergerak melampaui petak asalnya lalu menerabas domain etika dalam segala hal. Bisnis politik, bisnis agama, bisnis akademik, bisnis hukum adalah perwujudan pergesekan yang mewarnai alam keseharian. Lalu di sana, di atas puing-puing moral yang tercerai-berai tampillah dengan gagah para penghotbah yang memberi pembenaran bahwa manusia memang berada dalam dunia transaksionalisme sarat gairah.
       Bima harus memahami kondisi itu. Bukan untuk meniru apa yang terlanjur keliru, namun agar ia dapat mengambil pelajaran dari keadaan sekarut-marut apa pun. Ketabahan untuk tidak mengikuti arus zamannya perlu diimbangi dengan pengetahuan yang memadai agar ia lincah berkelit dari muslihat hingga aneka rupa syubhat. Dalam arena yang sarat atraksi sikut kanan kiri berbekal otot kapital, akan kupastikan ia tampil rendah hati. Sebab keangkuhan hanya bisa dihadapi dengan pengetahuan yang memadai, sementara pengetahuan akan menuntunnya tahu diri.
     Kuberi nama bayi ini Bima. Dengan harapan ia tumbuh perkasa. Hidup dan matinya berwibawa. Kejujuran dan kesantunannya terjaga. Tegas dalam setiap perkara. Pantang melakukan tipu daya. Tidak menjadi soal berapa panjang usianya nanti, sebab bukan itu tujuan ia dihadirkan dan diasuh. Ia ada untuk menebar manfaat sebanyak-banyaknya atas segala aktivitas yang diupayakannya. Ia adalah pembelajar yang gigih, namun pada tiap-tiap pelajaran yang didapatkan akan selalu disertai semangat berbagi.
                 Kuberi nama bayi ini Bima. Madu bukan hanya bidang niaganya, tapi juga pengingat akan makhluk yang memproduksinya. Lebah. Serangga mungil yang tingkahnya selalu menebar guna berharga. Tanpa merusak apa pun, tanpa menyakiti siapa pun. Ia terbang menjemput rezeki Tuhannya, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Maka bunga-bunga pun menggugurkan mahkota indahnya; sebab mereka takjub pada laku mulia sang penyambung kasih putik dan serbuk sari, maka ia merunduk lalu terbentuklah cikal generasi tanaman baru. Dan terjadilah itu: Siklus memberi dan menerima paling santun di kolong langit[]

1 komentar: