MEDAN pertempuran. Itulah imajinasi yang selalu saya bangun tentang kampus tempat saya belajar. Sejak semula demikianlah saya memandangnya. Sebagaimana medan pertempuran, di sana saya mengidentifikasi kawan dan lawan. Di sana juga saya mengatur strategi bertahan dan menyerang. Kampus itu memunculkan tantangan tersendiri untuk ditaklukkan. Peluang dan ancaman silih berganti datang. Begitu pula kekuatan dan kelemahan tampil beriringan di panggung institusi pendidikan tinggi Islam itu. Kesemuanya begitu menggairahkan waktu itu.
Di medan pertempuran mana pun, para pelakunya tentu memiliki cita-cita untuk menang. Sebab di sanalah pintu masuk menuju tahta pencapaian. Kemenangan juga berarti tuas kendali yang amat menentukan arah masa depan. Karenanya kemenangan bagi saya teramat ideologis.Ia harus diperjuangkan seberat apa pun. Maka upaya demi upaya dilakukan. Saya harus menang berapa pun ongkosnya. Entah itu berarti masa studi yang menjadi lebih panjang, atau menangguhkan pelbagai rencana harian, bagi saya yang penting kampus itu takluk dengan parameter-parameter tertentu sebagai rujukannya. Walhasil, saya berusaha terlibat pada tiap-tiap dinamika kekampusan. Mulai dari propaganda di ajang Pemilwa, rancang bangun aliansi, mengonsep kesinambungan media komunitas, penguatan organisasi lewat manajemen konflik, pembentukan kelompok-kelompok kultural progresif, hingga debat-debat kecil di ruang perkuliahan coba dihadirkan demi sebuah warna yang begitu saya idamkan.
Namun sekarang, dengan seluruh upaya yang telah dilakukan dulu, saya harus mengaku kalah. Ya saya kalah di medan itu. Saya kalah karena gagal membuatnya jadi seperti yang saya idealkan. Dari hari ke hari saya saksikan imajinasi kian jauh dari kenyataan. Lebih dari itu, saya semakin terasing dengan segala dinamikanya. Forum-forum diskusi yang dulu dengan susah payah diwujudkan, hilang tanpa bekas. Sementara dinamika politik mahasiswanya kian hambar saja. Geliat organisasi makin kehilangan ruhnya. Ringkasnya saya mendapati kampus itu menjadi teramat membosankan.
Entah karena kesenjangan angkatan yang melebar, atau lingkungan yang memang telah berubah, rasa-rasanya keberadaan mahasiswa di sana tidak lagi dianggap sebagai bagian dari kampus. Mereka murni konsumen pendidikan semata. Tidak lebih. Ruang-ruang dialektika yang menentukan ke mana kampus itu mengarah seolah tertutup rapat meskipun tanpa represi menyakitkan. Ada alienasi yang tidak disadari namun begitu dinikmati karena memang keadaan menjadi tanpa gejolak, rapi, dan teratur.
Di saat yang sama warta-warta seputar kampus terus menyajikan deretan prestasi tanpa makna. Sebab saya benar-benar tidak mampu menghubungkan deretan pencapaian tadi dengan visi kampus itu yang sesungguhnya. Seberapa pentingkah misalnya, predikat World Class University bagi sebuah institusi pendidikan Islam? Atau seberapa perlu HAM dan gender dikaji oleh lembaga-lembaga semi-otonomnya, lalu mengapa pula harus melibatkan institusi asing(baca:barat) sebagai mentornya?
Semua kenyataan yang hadir di depan mata menyangkut kampus itu nampak seperti keterputusan mata rantai yang terus menolak dihubungkan. Sementara resistensi menjadi narasi minor dan dipandang naif lagi menyebalkan. Karena itu berarti mewujudkan konflik. Sedangkan konflik dengan aparat pengambil kebijakan di kampus itu terlanjur dianggap tidak ada hubungannya dengan misi insan-insan akademik. Maka ia menjadi tindakan sia-sia, bodoh, mungkin juga konyol.
Jadilah perlawanan sebagai tindakan yang sangat melelahkan dan sepi. Bahkan tatkala berada di tengah-tengah organisasi pergerakan yang pegiatnya berpredikat aktivis, perlawanan tidak mendapat ruang untuk dirumuskan apalagi dilancarkan. Agaknya lawan yang selama ini berusaha ditaklukkan itu memang sudah merasuk sedemikian dalam hingga ke hati dan pikiran aktivis pergerakan kampus itu. Ia mengalir bersama peredaran darah tubuh yang sehari-hari diberi asupan ideologi konsumsi lewat segala seduksinya entah itu berupa janji-janji kemapanan, godaan kenikmatan, hiburan harian, atau pelbagai ilusi menyangkut kesuksesan.
Dengan semua kondisi tadi, pernah ada saat di mana saya meragukan keimanan sebagai kekuatan perubahan. Yakni tatkala menyaksikan orang-orang yang begitu taat beribadah namun keimanannya tak mampu mendeteksi sebuah kedzoliman di lingkungannya sendiri. Bahkan ketika kedzoliman itu tampil begitu vulgar! Orang-orang ini entah kenapa lebih mudah terbakar jenggotnya manakala perdebatan fikih mengemuka. Wujud sentimen keimanan akhirnya tidak lebih dari sekadar meributkan perkara tampilan manhaj dan mahzab. Ada pula golongan yang tidak kalah solehnya, namun sayang lebih banyak tampil bak robot. Mereka adalah anak-anak muda yang ketika menyuarakan takbir demikian lantang dan serempak. Dakwah kerap tercetus sebagai misi hidup dari bibir-bibir mereka. Namun sayang, implikasi takbir dan cetusan dakwah itu tak mampu mengaktivasi getar atau memberi gambaran yang cukup jelas menyangkut gerak langkah mereka di kampus. Oleh karenanya pilihan menunggu komando dari ‘atasan’ selalu diutamakan ketimbang mencoba menelaah sendiri medan di hadapan. Padahal ‘atasan’ yang kerap mengomandoi itu kebanyakan tidak mengetahui medan. Tidak heran jika gerak golongan ini sering tak bertegur sapa dengan lapangan harian.
Akhirnya saya lelah juga. Sangat lelah. Dalam pengertian psikis maupun fisik. Lelah karena energi yang diperlukan untuk setidaknya menggugah kesadaran itu memang kelewat besar. Sedangkan saya sendiri belakangan tersadar tidak cukup memiliki kekuatan untuk itu. Belum lagi ternyata saya melakukan sebuah kesalahan fatal yang terlambat disadari. Saya lalai mewariskan semangat pertarungan selama ini dengan sempurna. Sementara usia terus bertambah, begitu pula tuntutan hidup dan kehidupan itu sendiri. Suatu saat saya harus pergi untuk memulai perlawanan baru dengan medan yang juga baru. Di saat pertarungan lama belum lagi usai. Belum saya menangkan.
Di sinilah saya merasa perlu membuat semacam titik perhentian dengan sebuah pengakuan pahit tentang kekalahan. Memalukan tapi tak mengapa. Setidaknya kekalahan ini saya sadari. Ini lebih baik daripada menjadi orang yang merasa segalanya baik-baik saja padahal posisi diri telah terkapar tanpa daya. Tapi jelas ini bukan akhir perlawanan. Toh, saya hanya mengaku kalah, bukan menyerah. Mungkin suatu hari nanti saya akan kembali menjajal arena itu. Kampus itu. Sebab ia punya nilai penting. Harus ada yang merebutnya dari pihak-pihak yang terus berusaha memobonsai potensinya. Kampus Islam itu, yang didirikan dengan cita-cita peradabannya, harus diselamatkan. Ia harus kembali pada misi besarnya semula. Melahirkan generasi Ulil Albab! Intelektual yang mencerahkan ummat. Yang ilmunya mengalir memberikan manfaat. Bukan seperti saat ini: hanya melahirkan hamba-hamba materi atau penjilat-penjilat yang distandarisasi korporasi[]
udah,mas...sudah saatnya mikirin diri sendiri. terlihat egois memang. tapi tantangan di depan masih terbentang luas. miris juga nge-liat aktivitas kampus yang ga ada gregetnya lagi. semua sudah berorientasi pada "pesanan" dari korporat. kampus tak lagi membentuk karakter mahasiswanya, yang ada hanya mencetak "robot"
BalasHapusTak ada amalan yg sia-sia. Hasil memang kadang tidak berpihak pada kita, tapi mungkin ada sesuatu di balik itu semua.
BalasHapusMaafkan juga karena di masa lalu, kami yg lebih dulu pergi, meninggalkan masalah yg ternyata semakin memburuk dari hari ke hari, tanpa memberikan bekal yg cukup.