Laman

Minggu, 26 September 2010

Pasar Senja

Pasar Senja
            Rajutan janur kering menjadi penanda Pasar Senja di belahan bumi mana pun. Ia ada hanya kala senja menyapa. Pasar itu mendiami paruh waktu singkat yang identik dengan warna jingga. Kala senja adalah potongan mengharu biru, syahdu, dan romantis. Melankolia meraja; mengirimkan getar-getar rangsangan air mata entah bahagia atau duka. Maka di sana raut muka menjadi sama. Bibir-bibir yang bergetar, lidah-lidah yang kelu, mata sembab lagi sayu. Demikian pula dengan ekspresi wajah-wajah pengunjung pasar itu.
           Pasar Senja banyak melahirkan cerita. Cobalah kau tengok berapa banyak cerita yang bertutur tentang dan berlatar senja! Sebanyak itulah cerita yang dapat kau nikmati di sana. Belum lagi ditambah kisah-kisah transaksi, makin kayalah riwayatnya. Maka jika suatu hari nanti kauberkenan mengunjunginya, sebaiknya nikmati dulu cerita-cerita yang ada di sana sebelum menemui para pedagang dan menukar yang kaupunya. Janganlah terlalu tergesa-gesa. Sebab tidak semua cerita yang ada di tempat itu cukup pendek sebagaimana cerita ini. Kebanyakan cerita yang beredar di Pasar Senja terbilang panjang, bahkan jika sigap mencatatnya, kau mungkin bisa membukukannya dalam bentuk novel dwilogi, trilogi, hingga tetralogi.
Namun bukan berarti kau harus berleha-leha. Sebab Pasar Senja tidak berlangsung lama. Bila malam tiba ia akan segera menghentikan aktivitasnya bersama terbenamnya sang surya dan itu berarti kau harus menunggu saat senja berikutnya esok hari. Hanya untuk menyimak sebuah cerita, bolehlah kau berlama-lama, tapi jika kau telah memantapkan niat bertransaksi, lakukan dengan cepat. Apalagi jika kau berniat menjual barang milikmu. Semakin lama kau melakukan tawar-menawar, semakin banyak milikmu yang diincar sang penadah, bahkan hingga milikmu yang sebetulnya tidak kau maksudkan untuk diperdagangkan. Begitu pula semakin kau menunda-nunda transaksi, semakin kau tidak dihargai, sebab sang penadah tentu mengira kau akan pasang harga tinggi. Ia akan menyunggingkan senyum sinis padamu yang mampu membuat hati jadi tak enak. Karenanya, percepatlah transaksimu agar kau bisa menikmati cerita-cerita di sana dengan tenang.
Baiklah, anggap saja ini cerita perkenalan dari Pasar Senja. Namun jika kau sedang terburu waktu, abaikan saja karena cerita ini tidak terlalu penting. Ini cuma cerita pembuka yang kebanyakan orang tidak akan merasa rugi jika melewatkannya. Cerita ini menyerupai pengantar buku teks anak sekolahan yang lebih sering tak dibaca namun selalu setia ada.
Sebagaimana lazimnya sebuah pengantar, kebanyakan ia berisi riwayat, sedikit penjelasan, dan semacam gambaran umum. Maka jadilah cerita pengantar ini tak jauh berbeda.
***
Kita mulailah dengan asal usul. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan pasar ini didirikan. Tidak bilangan tanggal dalam satuan kalender mana pun menceritakan riwayat kelahirannya. Jangan kau tanya pula siapa pendirinya, tidak ada satu catatan pun bisa ditemukan. Penjelasan tentang keberadaannya hanya dipahami orang-orang sebagai kehendak alamiah kehidupan semata.
Namun bahkan sebagai sesuatu yang alami, Pasar Senja punya keunikan. Jika terbit dan terbenamnya sang surya, atau jatuhnya buah apel dari dahannya mengusik pikiran sebagian cerdik pandai, tidak demikian dengan tempat ini. Keberadaan Pasar Senja sendiri hampir-hampir tidak pernah hadir dalam diskusi akademik atau pun kesempatan presentasi di ruang-ruang kuliah. Ahli optik enggan meneropongnya, para ekonom tidak pernah memberikan analisa tentang potensi guncangan sistemiknya, antropolog terkesan kurang meminatinya dan politisi lebih memilih menyembunyikan keberadaannya sambil tersipu malu.
Maka jadilah penjelasan tentang pasar yang satu ini tidak pernah memiliki dasar ilmiah. Tidak ada penjabaran yang cukup memadai untuk fenomena ini. Penjelasan- penjelasan dangkal mungkin ada tapi hanya sebatas itu. Misalnya, ada rumor yang beredar bahwa Pasar Senja merupakan gejala akhir zaman, namun ada juga yang membantahnya dengan mengatakan ini gejala zaman edan.
Dari situ bolehlah muncul kesimpulan bahwa pasar ini sekadar fenomena waktu yang membawa endapan prilaku manusia sepanjang sejarah. Ia menyerupai delta di muara sungai. Pulau kecil yang terbentuk di pertemuan dua jenis air: tawar dan asin. Pelabuhan tempat lumpur-lumpur yang terseret bersama aliran kehidupan berhenti untuk beristirahat di lingkungan payau. Ia terbentuk di batas dua sifat ekstrem. Ya, seperti senja.
Karenanya Pasar Senja juga merupakan wilayah kegamangan. Semacam batas akhir ketegasan di mana segala sesuatu bisa dikompromikan dan ditimbang-timbang. Segala sesuatu? Ya, segala sesuatu. Bahkan sebuah militansi sekalipun! Di sana, pada prinsipnya tidak terlampau berbeda dari pasar umumnya. Kesepakatan terbentuk di ketegangan puncak permintaan dan penawaran.
Maka siapa pun yang bermaksud melakukan transaksi, perlulah mempelajari situasi pasar ini. Informasi tentang barang-barang yang sedang diminati harus terus diperbarui sesulit apa pun mendapatkannya. Pun terkait naik-turunnya harga-harga. Jangan sampai salah mengambil keputusan hanya lantaran keengganan menjaring informasi. Tentu akan tampak konyol jika seseorang menjual barangnya dengan harga rendah padahal barang tadi sebetulnya sedang bernilai tinggi. Atau pembeli yang menaksir berlebihan suatu barang murahan misalnya. Sudah banyak orang yang mengalami kecelakaan keputusan semacam itu. Bahkan sebagian besar cerita tragis yang beredar di Pasar Senja, berkaitan dengan kecerobohan mengambil keputusan jual-beli.
***
Dulu misalnya pernah ada seorang perempuan anggun berkunjung ke pasar ini. Seperti kebanyakan orang yang baru kali pertama menginjakkan kakinya di Pasar Senja, ia malu-malu dan langkahnya tersendat ragu. Beberapa kali ia memutar tubuh seolah hendak mengurungkan niatnya. Tapi perempuan itu akhirnya masuk juga. Para pedagang hanya tersenyum melihat tingkahnya. Mereka tahu, ia sudah terpikat senja.
Sebuah keraguan mengisyaratkan bahasa yang amat dipahami pedagang di pasar ini. Itu terbaca dengan jelas sebagai kalimat yang menerangkan adanya pergolakan kalbu. Dan setiap kalbu bergolak, adalah saat di mana seseorang akan atau tengah mempertaruhkan sesuatu yang bernilai tinggi. Sedangkan setiap pertaruhan selalu berarti kurangnya informasi, keterpaksaan, atau ambang batas asa.
Bagi para pedagang, keraguan pengunjung Pasar Senja berarti peluang untung besar. Namun janganlah kiranya membayangkan mereka akan berpromosi dengan agresif sebagaimana di pasar-pasar biasa. Mereka hanya akan memasang senyum ramah. Mereka tahu promosi agresif justru akan mengurangi kekuatan tawar. Cukuplah senyuman sebagai isyarat selamat datang yang elegan, lalu biarkan calon pelanggan mendekat dengan sendirinya.
Seperti perempuan itu. Ia perlahan mendatangi salah seorang pedagang yang papan lapaknya bertuliskan ”Jual-beli Barang-barang Khusus Wanita.” Pemilik lapak itu juga seorang perempuan yang anggun dan cantik. Ia tidak banyak bicara. Maka keduanya saling tatap dengan sorot mata yang berbeda tentu saja.
Perempuan pengunjung itu masih gamang. Tangannya mencengkram erat tas plastik berwarna hitam. Tahulah sang pedagang, pengunjung di hadapannya kali ini bermaksud menjual sesuatu. Dan tas plastik hitam itu, di sana tersimpan barang yang hendak digadaikan.
Kedua perempuan itu tidak saling tegur. Tidak ada pertanyaan, atau sekadar basa- basi. Di Pasar Senja memang begitulah keadaannya. Ramah tamah cukuplah dilakukan dengan tersenyum. Basa-basi, tanya jawab, atau pun dialektika hanya untuk orang-orang yang masih berada di pagi atau siang hari. Di pasar ini umumnya tinggal sisa-sisa keraguan saja boleh ada. Selebihnya adalah keputusan lalu pertukaran.
Sayangnya perempuan pengunjung ini terlalu tergesa-gesa memutuskan mendatangi Pasar Senja tanpa mencari tahu harga pasaran barang yang hendak dijualnya. Padahal ia mungkin bisa kaya tujuh turunan jika saja mengerti nilai sesungguhnya benda dalam tas plastik hitamnya itu. Benda yang sangat langka terlanjur berada di tangan seorang yang buta harga.
Sambil terisak perempuan pengunjung itu menaruh tas plastik hitamnya di atas meja sambil berpesan agar bawaannya itu dihargai dengan pantas. Mungkin karena usianya masih terbilang belia, mungkin juga ada desakan yang terlampau kuat menerpa hidupnya, ia berpasrah pada sang pedagang guna menetapkan harga. Sebuah kecerobohan terjadi di senja itu.
Tas plastik hitam terbuka perlahan. Sebuah kebaya yang terlipat rapi terlihat. Mata pedagang Pasar Senja yang sudah amat peka pastilah segera mengenalinya. Itu kebaya asli milik Raden Ajeng Kartini. Hati perempuan pedagang itu pastilah amat girang dan otaknya segera menghitung-hitung. Namun jangan harap menemukan kegembiraan terpancar di wajahnya. Para pedagang di pasar ini sudah biasa menyembunyikan perasaan agar tak terbaca siapa pun. Mereka mampu mempertahankan raut muka sebagaimana semula dijumpai: sekadar tersenyum ramah.
Dalam waktu sekian detik harga telah ditetapkan secara sepihak. Sang pengunjung akan dibayar dengan pengganti yang mampu menyejahterakan dirinya seumur hidup. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada kata keberatan terucap. Kesepakatan tercapai. Kebaya Kartini ditingalkan dan berganti kepemilikan.
Hidup perempuan penggadai kebaya Kartini itu berubah seketika. Segera setelah biaya kompensasi terbayar, ia membeli kebaya baru dan langsung dikenakan. Sebuah kebaya dengan desain modern bermerek ’Kartini’. Tidak hanya itu, parfum yang juga didatangkan dari luar negeri dengan aroma terbaru segera ia buru dan disemprotkan secara membabi-buta ke sekujur tubuhnya. Ia meninggalkan Pasar Senja dengan suasana hati riang bukan kepalang. Sambil berjingkat pergi, perempuan itu bernyanyi. Sebuah lagu yang tidak asing dilafalkannya dengan sumbang. Lagu berjudul ’Ibu Kita Kartini’ ciptaan WR. Supratman yang terkenal itu. ”Ibu kita Kartini...putri sejati...putri Indonesia...harum namanya...
Andai saja keceriaan penggadai kebaya RA. Kartini itu bertahan hingga ajal menjemput tentu akan menjadi cerita indah. Tapi tidak, sejatinya ini tragedi. Sebab di usia senjanya perempuan itu semakin mengerti tentang hakekat perdagangan yang dilakukannya dulu. Ketika berada di ambang usia, ia menyadari betapa rendah kompensasi yang diterimanya. Ia memang masih dalam keadaan bekecukupan, namun sebagian dari dirinya terasa ikut tergadaikan bersama kebaya itu. Dan tak tertutupi.
Perempuan itu kini telah tiada. Ia mati gantung diri dengan menjerat lehernya menggunakan kebaya modern bermerek ’Kartini’ yang dulu dibelinya di Pasar Senja. Sebelum mengeksekusi diri, ia sempat meninggalkan coretan tinta jingga pada kebaya itu dengan sebuah tulisan pendek berbunyi ’Habis gelap terbitlah terang, namun sayang sekarang sudah senja’
***
Cerita tentang perempuan penggadai kebaya Kartini tadi, bukan untuk menakut-nakuti. Ini cuma peringatan agar calon pengunjung Pasar Senja berikutnya tidak melakukan kesalahan yang sama. Sebab kasus sejenis kerap terjadi. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari. Jika pun ternyata penyesalan itu tetap muncul, yakinlah selalu ada jalan lain yang bisa ditempuh untuk setidaknya membuat perasaan lebih baik. Misalnya dengan menempuh jalan pembenaran. Meskipun cara ini terbilang sulit dan memerlukan tingkat kecerdasan tertentu, namun tidak ada salahnya untuk ditempuh ketimbang membenamkan diri dalam kubangan penyesalan.
Pembenaran biasanya hadir lewat sugesti pembacaan dramatis atas keadaan diri. Maka perlulah laku dramatis itu dibiasakan untuk menekan resiko penyesalan atas kecerobohan jual-beli, khususnya di Pasar Senja ini. Misalnya, katakan saja pada diri jika penyesalan itu datang, ”Aku harus hidup, maka aku harus bekerja. Tidak ada yang mau mempekerjakanku jika aku masih memakai sarung lusuh bekas Kyai Hasyim Asyari. Aku harus berpanthalon merek ’Freedom’ jika ingin makmur dan sedap dipandang. Makmur sudah kudapat dan penyesalanku hanya romantisme sesaat.” Atau jangan beri ruang sedikit pun bagi penilaian keliru. Relatifkan sajalah semua agar pilihan apa pun menjadi benar.
Tapi percayalah, tidak selalu sugesti semacam itu dibutuhkan. Ada juga mereka yang tidak menyesal hingga akhir hayat. Mereka yang tentu saja menganggap keputusannya sudah tepat dan merasa puas. Orang-orang inilah yang kemudian menceritakan keberadaan Pasar Senja kepada kawan-kawannya yang juga memiliki barang langka guna mencoba peruntungan. Tidak jarang pula di antara mereka ini nantinya menjadi pedagang tetap di pasar itu. Jadi di sini tidak melulu berisi kisah tragis. Akhir bahagia juga banyak dijumpai pengunjung Pasar Senja. Maka sebenarnya semua berpulang pada sikap masing-masing orang. Di sini anda bisa rugi serugi-ruginya dan mati dalam penyesalan atau untung besar untuk kemudian merasa hidup selamanya.
Nah, selamat mengukir cerita anda sendiri jika berkenan mampir ke pasar ini. Cerita apa pun nanti yang anda buat akan menjadi pelajaran berharga bagi umat manusia. Setidaknya itulah nilai manfaat yang bisa anda berikan. Silahkan mampir kemari dan bawa dagangan, lalu tukarkan dengan bijak. Mari berani sedikit bertaruh dengan kaca mata Ghandhi-mu atau sepatu butut Tan Malaka-mu. Dengan tarbus Al-Banna-mu atau segenggam jenggot Marx milikmu[]

1 komentar: