SUDAH lebih dari setengah tahun saya berhenti mengkonsumsi media konvensional. Sebut saja televisi, radio, dan surat kabar. Selama setengah tahun ini saya berusaha menghindar sambil menikmati kesunyian informasi yang sebelumnya terasa begitu bising. Arus informasi yang kata orang-orang musykil dibendung itu coba saya tangkis dengan satu langkah ekstrem: Menutup semua akses media konvensional dari kehidupan saya.
Awalnya agak berat meninggalkan keramaian yang menawarkan banyak hiburan dan sensasi itu. Tapi menjadi lebih ringan saat saya coba membangun kesadaran bahwa informasi yang tampil di media massa kita tidak lagi sehat lantas mustahil mencerdaskan. Bagi saya media massa konvensional kita terlalu disesaki sampah-sampah berita, omong kosong politik, propaganda murahan, serta yang paling sulit saya maafkan adalah manipulasi fakta. Maka tidak ada ruginya menjauh. Pelan-pelan keyakinan itu terus saya bangun. Televisi mungil di kamar kost tidak lagi saya hidupkan. Tiga bulan kemudian giliran langganan surat kabar resmi saya hentikan.
Konsekuensi dari langkah yang saya ambil tadi ternyata tidak buruk. Setidaknya bagi saya yang menjalaninya. Saya mampu berpikir lebih ringan setelah beban informasi yang sebelumnya menyesaki kepala mampu dikendalikan. Apa yang penting dan yang tidak menjadi mudah saya pilah. Di saat orang-orang sibuk memusingkan presiden kita yang hobi memoles citra misalnya, saya bisa memikirkan persoalan lain yang jauh lebih substansial. Atau sebutlah persolan konflik dengan negeri jiran baru-baru ini yang cukup menguras emosi massa , ternyata tidak terlalu memancing saya untuk ikut terbakar bersama amarah kolektif yang sama sekali tidak produktif itu. Akrobat politik para elit tidak lagi mampu memasuki keheningan ruang-ruang pribadi saya. Itu juga berarti saya menjadi pengendali opini. Minimal bagi diri sendiri. Lepas dari rekayasa opini para elit yang ditopang media benar-benar membuar napas saya lebih lega.
Puasa dari media konvensional sebenarnya merupakan tahap yang saya kira penting untuk dilakukan. Ia mampu mempertajam nalar yang sudah menumpul akibat manipulasi informasi sehari-hari. Otak kita memang memiliki kapasitas besar dalam menangkap informasi, hanya saja proses pengolahannya butuh waktu yang tidak sesingkat penerimaan di awal. Maka sulit hal itu dilakukan jika kita tidak memasang semacam saringan bernama kesadaran media.
Filter media sendiri sebetulnya adalah wacana yang problematik. Seperti apa wujudnya tidak begitu jelas. Alat analisis media memang ada hanya saja seberapa tingkat efektifitasnya dalam menjaga kesadaran tentu masih bisa diperdebatkan. Apakah dengan menguasai analisis media lantas seseorang mampu membaca situasi dengan lebih jernih itulah yang saya ragukan. Beberapa ahli yang saya anggap mumpuni soal media ternyata terjebak dalam paranoia konten informasi namun di saat yang sama tetap berputar-putar di belantara permainan opini.
Ahli sekalipun bagi saya akan tetap takluk oleh serbuan informasi selama mereka tidak menjadi pelaku utama: menguasai media-media utama tertentu serta aktif dalam pembentukan opini. Hal ini memang mensyaratkan mereka menjadi praktisi. Itu juga berarti mereka membutuhkan modal material yang cukup. Sebab saya amat meyakini satu-satunya cara agar tidak terperangkap permainan media adalah menjadi pengendalinya. Pada posisi itulah seseorang lebih mampu melihat medan informasi dengan jernih. Di posisi itu, seseorang cenderung dituntut untuk terus berinteraksi dengan fakta-fakta lapangan sambil sesekali bersentuhan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pembentukan opini. Walhasil sebagian besar pola permainan otomatis ia ketahui.
Namun tentu saja saya menyadari kurangnya sumber daya materi jelas akan menyulitkan kita masuk dalam tingkatan pengendali dominan. Maka saya memilih melakukan prosedur pengendalian yang mungkin dilakukan oleh semua orang, bahkan yang tak berpunya sekalipun. Anda tidak perlu kaya atau berpendidikan tinggi untuk melakukan mekanisme penyaringan informasi. Cukup dengan berhenti mengakses media, maka anda sudah mampu membungkam banyak omong kosong dan aneka pembodohan.
Lalu bagaimana jika kita membutuhkan informasi? Saat itulah kita mengakses media. Ketika kebutuhan itu muncul barulah kita berbuka puasa. Kembali mengunyah info yang benar-benar kita butuhkan saja. Jika Rasulullah SAW pernah menganjurkan kita untuk makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang, maka seperti itulah kira-kira pola interaksi kita dengan media. Jangan lagi menunggu jenuh lantas kita baru berhenti, melainkan hentikan konsumsi media begitu kebutuhan informasi telah tercukupi. Yang perlu digarisbawahi di sini, pastikan saat berbuka puasa anda adalah pada waktu kondisi telah mencapai derajat lapar media. Hindari mengkonsumsi media karena rutinitas semata.
Untuk mengetahui informasi yang jadi opini, kita juga tidak perlu repot-repot mengakses media konvensional. Bukalah situs jejaring sosial dan serta-merta kita bisa menyimak opini yang tengah berkembang tanpa harus terjebak dalam opini itu sendiri. Pada posisi itu percayalah kita akan mampu lebih kritis dari khalayak yang tengah diamati. Prediksi mengenai arah perkembangan isu kemudian mampu terpetakan di benak kita dengan lebih baik.
Bagaimana dengan hiburan? Khusus untuk menjawab pertanyaan ini, saya tidak mempunyai banyak argumentasi. Semuanya berbalik pada diri masing-masing dalam memandang apa yang disebut sebagai hiburan. Bagi saya sendiri, hiburan adalah saat kita memandang sesuatu sebagai hiburan. Itu saja. Maka apa pun seharusnya mampu menghibur kita. Saya ingat seorang kawan yang mampu tertawa terpingkal-pingkal hanya dengan mengamati ekspresi wajah orang lain sambil membayangkan kejadian konyol. Kadang ia membuat semacam skenario singkat sebuah kejadian tolol dengan menjadikan orang-orang tertentu sebagai pemerannya untuk kemudian ia ceritakan pada saya. Cerita yang selalu mampu membuat saya tertawa hingga berurai air mata.
Saya tidak bermaksud mengajak anda meniru cara kawan saya ini menghibur diri. Itu hanya contoh. Apa yang coba saya sampaikan adalah bahwa menghibur diri hanyalah perkara kreatifitas. Kita tinggal membiasakan diri untuk tidak terlalu bergantung pada kreasi orang lain dalam urusan hibur-menghibur. Apalagi mengandalkan artis-artis yang rutin berkelebat di layar kaca saat ini. Kita tidak perlu mengandalkan hiburan dari media konvensional untuk sekadar tertawa. Masih banyak buku-buku kocak yang bisa kita baca, atau roman indah yang merangsang awan kelabu jika anda gemar bersendu-sendu. Kita selalu punya pilihan.
Pembangkangan dan alternatif pada akhirnya menjadi ujung tombak perlawanan. Sesederhana apa pun itu saya kira cukup mampu menjadikan kita sebagai pengendali yang punya banyak pilihan. Semenarik apa pun media merangsang kita menatapnya, pastikan kita tidak kehilangan pilihan yang lebih menarik dan sehat. Akan ada banyak manfaat yang dapat kita peroleh dengan menjadi pengendali. Setidaknya kita dapat menjadi tuan atas diri sendiri. Dengan demikian kita juga dapat memertahankan kejernihan berpikir yang otomatis mempengaruhi cara bertindak jua akhirnya.
Waktunya saya dan anda mengakhiri sampah-sampah informasi pada tempatnya. Yakni pada ruang pengendalian diri yang di dasari kesadaran akan pentingnya mempertahankan kesehatan pikiran kita. Ucapkan selamat tinggal pada mitos usang yang mengatakan media massa sebagai pintu pencerdasan karena fakta cenderung membuktikannya sebagai ruang pembodohan. Mari mencoba berpuasa dari mengakses media konvensional, lalu berbukalah pada waktunya dengan asupan informasi halal lagi thayyib. Kemudian perhatikan apa yang terjadi!
Selamat mencoba.
Kalau kami tidak puasa media, tapi terpaksa puasa media, ya media sosial. Kalau koran tetap jalan
BalasHapus