Hari ini saya mencoba menyapa dengan tulisan curahan hati. Dalam berbagai dimensi sebagai manusia, saya terbilang bukan termasuk orang yang gemar bercuap-cuap menceritakan perasaan pada orang lain. Tidak nyaman. Itu saja. Tapi toh jika saya kemudian membuat tulisan ini, mungkin karena saya pun menyadari perubahan kecil perlu digagas atau bahkan dipaksa untuk hadir.
Menghadirkan perubahan pada diri sendiri memang tidaklah mudah. Saya sadari itu. Bahkan ketika saya mencoba menikmati proses tersebut sambil mengetik kata-kata dalam tulisan ini. Sebab bicara tentang perubahan berarti mau tidak mau kita memang harus bercengkrama pula dengan pergulatan. Ini masalah pertarungan mental. Selalu ada lawan dalam setiap perubahan yang hendak dicanangkan. Selalu ada status quo dalam wujudnya yang beragam menghadang. Dalam konteks perubahan diri, kadang ini menjadi sangat menakutkan.
Bagi sebagian orang perubahan diri bisa lebih seram dari menghadapi meja amputasi. Tindakan memotong sebagian tubuh untuk kemudian menemukan wujud baru namun tidak lagi dalam kondisi utuh. Atau layaknya mengangkat beban ratusan kilo di pundak untuk dibawa ke tempat yang jaraknya tidak begitu jelas dan terukur. Pendeknya perubahan diri menjadi proses yang terbilang menyakitkan, berat, sekaligus mencekam karena itu berarti memasuki ruang angker ketidakpastian baru. Akankah menjadi lebih baik atau justru hancur, porak poranda, dan ambur adul.
Tapi ada saat-saat tertentu di mana kita benar-benar menginginkan perubahan. Itulah saat-saat perubahan menjadi kebutuhan. Kebutuhan akan perubahan muncul bersama rasa jenuh, muak, suram, hampa, dan perasaan-perasaan tidak menyenangkan lainnya. Kadang saya sendiri merasa aneh, mengapa kita harus menunggu perasaan-perasaan tadi muncul terlebih dahulu untuk kemudian berubah. Dan tulisan ini pun akhirnya merupakan penegasan sekaligus pengakuan bahwa saya bukan pengecualian.
Memang sebuah situasilah yang memaksa saya harus berani memasuki ruang ketidakpastian baru itu. Situasi yang mensyaratkan saya untuk membutuhkan perubahan dalam hidup. Itulah titik ketika saya menyadari betapa rapuhnya kemapanan diri ini yang bagi sebagian kolega boleh jadi terlihat baik-baik saja. Tapi tidak. Saya tentu saja tidak baik-baik saja.
Momentum kontempelasi pelan-pelan membuka tabir kekosongan dalam diri saya. Menyisakan begitu banyak pertanyaan yang belum saya jawab dan pecahkan. Pertanyaan tentang cita-cita, harapan, dan berbagai aspek kedirian akhirnya menyeruak. Setelah begitu lama saya mencari-cari alasan untuk sekadar menunda jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi, kesemuanya menjadi terakumulasi. Kesemuanya kini hadir serentak seolah menagih janji pemenuhan kewajiban seperti debitur menagih utang yang telah lama jatuh tempo. Maka saya tidak akan menghindar lagi karena konsekuensi kembali menunda jawaban pertanyaan-pertanyaan tadi saya sadari akan menempatkan pada kondisi yang jauh lebih buruk dan menyiksa.
Mungkin sebagian orang akan heran, mengapa pertanyaan semacam cita-cita, harapan, dan keinginan bisa menjadi sesuatu yang sulit untuk dijawab. Pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya akan dengan sangat enteng dijawab kanak-kanak. Bagi saya ini titik krusial yang menentukan. Titik perumusan konsep diri yang tidak boleh menyisakan ruang penyesalan di kemudian hari. Wilayah pertaruhan hidup untuk menjadi berarti. Atau pintu gerbang menghadirkan diri di jagat eksistensi.
Tidak seharusnya memang menjadikan pertanyaan tadi menjadi demikian berat. Saya juga percaya setiap orang punya pilihan kala berhadapan dengan pelbagai situasi. Tapi saya sadari bahwa ternyata saya tidak cukup punya keberanian. Lebih dari itu, ternyata saya tidak cukup cerdas memilih. Terbukti dengan pengelakan saya selama ini untuk menjawab bahkan menjadikannya lebih rumit dari yang seharusnya.
Membaca tulisan ini mungkin akan membersitkan kesan betapa berbelit-belitnya saya ketika mengurai persoalan sederhana. Awalnya memang sederhana. Sesederhana jawaban saya waktu kanak-kanak dahulu. Dengan mudahnya saya menjawab “Dukun!” sebagai cita-cita saya. Pertimbangan saya saat itu, dukun adalah pekerjaan mulia setipe dokter hanya saja lebih ampuh dan efektif dalam pencapaiannya. Imajinasi sosok dukun yang mampir dibenak saya waktu itu tidak jauh dari citra yang kerap saya saksikan di televisi. Dulu tentu saja saya belum mengenal konsep musyrik. Yang ada hanya kekaguman akan kesaktian serta semangat pengorbanan.
Lama-kelamaan saya jadi paham. Seiring bertambah usia, pengetahuan, dan pengalaman memberi segudang pilihan dalam perbendaharaan kemungkinan. Sialnya, ternyata saya memiliki begitu banyak minat dan tidak satu pun mengungguli yang lain. Wujudnya, mulai dari sekjen PBB, presiden, ahli elektro, ekonom, pengusaha, kyai, hingga anak soleh yang taat, pernah saya canangkan sebagai cita-cita. Deretan tadi bukannya semakin mengerucut, tapi justru berkembang liar seiring dengan kedewasaan biologis saya. Pemuda bingung ini bukan luput dari perhatian otangtuanya. Hanya saja mereka lebih memilih berkomitmen membebaskan sang anak dengan aneka pilihan hidup yang ada minus urusan agama.
Semua berujung kerumitan perumusan jati diri hingga usia seperempat abad ini. Saya bahkan sempat tidak berani mengiginkan sesuatu. Pikiran saya terus memproduksi banyak pilihan namun tidak diimbangi pertumbuhan kekuatan mental untuk berani memilih. Saya menjadi sosok penunda yang lihai berkelit. Ironis dengan kenyataan beberapa kenalan yang justru mempercayakan pemecahan persoalannya pada saya.
Tapi Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang. Kreatifitas saya memecahkan persoalan orang lain Ia hentikan. Saya menjadi tidak lagi mudah mengurai beragam masalah jika itu menyangkut orang lain. Lebih ajaib lagi, segala persoalan yang diadukan ternyata mempersyaratkan saya untuk menjawab persoalan diri sendiri terlebih dahulu. Semuanya berujung demikian. Seolah-olah sang Khalik sendiri yang menegur saya untuk tidak terus menerus menyibukkan diri dengan problematika kawan-kawan sementara diri sendiri habis.
Maka inilah momentum yang diharapkan jadi titik balik kegamangan saya. Momentum perubahan diri yang saya tidak tahu dengan pasti akan jadi apa nantinya. Tapi minimal saya mencoba berani becita-cita dan berusaha untuk bisa mengiginkan sesuatu. Atau lebih tepatnya berusaha mengartikulasikan keinginan saya dalam kesadaran. Walaupun tetap tidak saya sebutkan di sini apa cita-cita saya tersebut, yang jelas sudah ada dan akan terus coba saya pupuk.
Menulis tulisan ini juga merupakan salah satu wujud usaha membuka jalan menuju cita-cita tadi. Tulisan akhirnya menjadi alat yang tidak bisa saya remehkan dalam upaya ini. Setidaknya saya dapat mulai berlatih menegaskan diri saya serta mendekatkannya dengan perasaan-perasaan saya sendiri. Menulis juga berarti mengada. Sebait jejak harus ditinggalkan untuk diambil pelajaran agar proses perubahan memiliki nilai manfaat lebih dari sekadar bagi pelakunya.
Di sisi lain, saya memang sudah bertekad untuk lebih produktif dalam merangkai kata. Sudah cukup rasanya saya menjadi penulis paling tidak produktif di dunia. Belenggu mental yang menghalangi saya memang harus dihancurkan sekalipun berat. Ini juga sekaligus bentuk rasa syukur sebab telah dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki stamina menulis luar biasa di tengah berbagai keterbatasan. Kepada orang-orang ini saya haturkan rasa terimakasih karena karya-karyanya mampu membungkam mulut besar saya. Mereka mengajarkan untuk kesekiankalinya bahwa memaklumi diri sendiri adalah sebentuk sikap yang sepatutnya dibenci karena itu berarti pengingkaran akan nilai diri.
Maka inilah perubahan saya. Menjadi manusia produktif. Lebih spesifik lagi, produktif menuangkan kata dalam tulisan. Tanpa bermaksud menunggu akhir Ramadhan sebagai titik perubahan, tulisan ini saya buat sebagai deklarasi. Ini juga merupakan harapan dan bagian dari cita-cita untuk menjadi produktif. Demi orang-orang yang sampai hari ini masih menaruh harapan pada saya. Demi kepercayaan yang tak hentinya saya terima. Demi kehidupan yang menjadi selimut hari-hari saya. Dan wujud rasa syukur kepada Allah yang memberi semua itu dalam sebuah ruang perbendaharaan bernama kesempatan.
Saya akan mulai produktif!
Selamat "berhijrah", sayapun sedang mengalaminya, berusaha mengurai perasaan aneh dan keberanian baru dalam diri saya, mencari informasi ttg hal ini hingga menemukan tulisan anda ini. So, saya tidak sendiri dan perubahan ini ternyata adalah bagian dari pertumbuhan. Sukses selalu.
BalasHapus