INILAH faktanya. Misil-misil pembunuh menghujani Gaza di saat kita tengah menikmati musim hujan yang sejuk sembari menarik selimut hingga batas dada. Begitulah kejadiannya. Mata mereka di Palestina melotot terbelalak menyaksikan anak-anaknya meregang nyawa dihantam bom sambil memegang kepala seolah tak percaya. Di sini mata kita terkantuk nikmat sambil berguling di atas kasur empuk spring bed merek Alga
.
Ratusan jiwa terbaring di sana. Jasad-jasad yang hancur berkeping-keping menghiasi genangan darah anyir bercampur bau mesiu. Tidak ada belas kasihan yang signifikan untuk manusia-manusia Gaza. Tidak ada serpihan hati untuk manusia-manusia yang dibesarkan bersama batu di genggaman tangannya itu. Orang tua, anak-anak, perempuan, dan pejuang pembebasan adalah sama. Mereka sama-sama target peluru.
Manusia-manusia Gaza seolah dilahirkan bersama takdir batu dan peluru. Berjuang bersama batu, dan tewas oleh peluru. Keduanya seperti saudara sejati bagi manusia-manusia Gaza. Mereka akrab satu sama lain. Saling berkejaran dan meramaikan panggung mungil bernama Palestina.
Lalu siapa makhluk bernama Israel itu? Mereka manusia cacat yang kita anggap superior. Mereka manusia yang boleh jadi dilahirkan tanpa hati. Mereka hidup bersama penyakit akut yang menyedihkan. Gejala penyakit mereka sangat nyata bukan? Saksikanlah! Mereka melihat anak-anak dan perempuan Palestina sebagai pejuang garang bersenjata siap menerjang. Mereka melihat seorang jompo layaknya tank tempur. Dan mereka melihat masjid, rumah sakit, serta sekolah seperti menyaksikan barak militer. Tentara-tentara mereka ternyata tidak lebih dari kumpulan manusia paling paranoid di dunia. Tidak lebih.
Makhluk-makhluk inilah yang menjadi musuh setia manusia-manusia Gaza. Kesetiaan mereka mungkin melebihi kita yang mengaku saudara. Mereka rutin menyapa manusia-manusia Gaza dengan peluru-peluru kendali yang lebih sering ’tak terkendali’. Mereka menyemaikan ladang jihad bagi manusia-manusia Gaza. Pecundang-pecundang konyol dengan lagak tolol yang kita anggap sebagai manusia unggul itu hanya akan menambah daftar panjang barisan mujahid di sana.
Tunggu dulu kawan! Bangsa Israel bukan manusia unggul seperti yang kita bayangkan selama ini. Kebanyakan mereka bodoh dan dungu. Tidak percaya? Negara Israel berdiri pada tahun 1948. Sekarang kita berada di awal 2010! 62 tahun. Itulah bilangan waktu yang hingga kini belum mampu meruntuhkan eksistensi Palestina. 62 tahun mereka dengan bantuan negara adidaya sekalipun, tidak mampu melenyapkan manusia-manusia Gaza. Padahal Palestina tidak lebih luas dari Kabupaten Banyumas. Itulah fakta ’kehebatan’ Israel kawan. Itulah bangsa yang kini tengah menemani manusia-manusia Gaza bermain batu dan peluru.
Sementara kita? Ah, kita bukan siapa-siapa kawan. Kita hanya penonton yang menghidupkan layar televisi kemudian menyaksikan drama berdarah itu sambil makan kerupuk dan minum soft drink. Kita hanya mengumpat hebat saat bom kembali berjatuhan di seberang sana. Kita hanya melihat angka-angka korban bertambah setiap harinya melalui layar kaca. Kita bukan siapa-siapa. Kita hanya mengaku saudara[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar