Laman

Senin, 02 Agustus 2010

Menyongsong Ramadhan di Negeri Para Bedebah

KATIMAN(45) takbisa berhenti menyisipkan umpatan dalam tiap kalimat yang dituturkannya pagi itu. Dengan logat Maduranya yang kental, sumpah serapah yang terlontar itu terdengar lucu di telinga saya yang notabene tidak terbiasa mendengar dialek tersebut. Tapi Katiman tidak peduli dengan reaksi saya yang sesekali tak mampu menahan geli. Ia terus meledak-ledak. Ludahnya berkali-kali tersembur bercampur remah-remah gorengan kunyahannya.
   
Pagi itu seperti biasa saya memulai aktivitas dengan menyinggahi warung burjo langgan tidak jauh dari perempatan ring road-kaliurang. Katiman juga merupakan pelanggan setia warung tersebut. Otomatis kami biasa bertemu dan perkenalan terjadi begitu saja.

”Maaf Mas saya jadi emosi sendiri. Maklum orang kecil,” selanya seraya menenggak kopi kental menu favoritnya tiap pagi.

”Lah saya ini selalu pusing tiap menjelang bulan puasa kok pie. Harga-harga edan-edanan naik, tadi malam malah istriku njaluk handphone anyar. Edan nggak itu!” Dan rentetan umpatan kembali keluar fasih dari sela-sela bibir Katiman yang menggapit rokok kretek.

Itulah Katiman. Jika warung burjo setia menyajikan sarapan sederhana tiap paginya, maka pria setengah baya ini setia menghidangkan keluh-kesah dan obrolan tanpa ujung pangkal yang jelas. Biasanya pria ini menggemari obrolan politik sambil sesekali menduga-duga konspirasi para elite dan penguasa atas orang-orang semisal dirinya. Ia mengaku tidak pernah percaya dengan makhluk yang bernama pejabat. Pemilu kemarin pun ia mengaku golput.

”Pejabat itu terdiri dari maling dan calon maling!” Ujarnya dalam satu kesempatan.

Bagi Katiman, mengumpat mampu meringankan beban pikirannya sehari-hari. Apalagi jika tengah dililit problem ekonomi, ia tidak akan berhenti mencaci maki pejabat dan menyumpahi sampai anak cucu mereka. Dalam pikirannya masalah kesulitan penghidupan teramat sederhana: semua karena pejabat!

”Mas, otaknya pejabat itu sebenarnya ada nggak?! Listrik dinaik-naikkan menjelang puasa itu maksudnya apa?  Nggak dinaikkan juga harga-harga bakal naik, apalagi dinaikkan! Itu manusia kok pada nggak punya hati ya?” Dan kembali kata-kata kasarnya berhamburan.

Katiman sebenarnya mewakili sosok rakyat lapis bawah negeri ini yang kerap dihinggapi kecemasan menjelang bulan suci Ramadhan tiba. Bulan Ramadhan yang semestinya disambut dengan suka cita ternyata tidak selalu berujung ceria bagi sebagian orang. Sudah merupakan hal yang lazim apabila kedatangan momentum tahunan tersebut akan diikuti kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Dan golongan orang-orang semisal Katiman yang tidak memiliki pekerjaan tetap adalah kelompok yang sangat sensitif dengan kenaikan harga.

Sebuah pertanyaan empatik lantas mengemuka. Tentang bagaimana orang-orang seperti Katiman dapat menikmati khusuk ibadah di bulan suci yang segera tiba itu dengan kantong tipis dan biaya hidup meningkat tajam. Sementara di tempat yang berbeda belum tentu para pengambil kebijakan di negeri ini puasa dari akrobat politiknya yang menguras materi dan kesabaran orang-orang seperti Katiman. Dengan kondisi semacam itu besar kemungkinan aura sakral dan khidmat Ramadhan akan sulit dirasakan.

”Mas, saya setuju dengan puisi negeri bedebah itu loh,” seloroh Katiman

Saya segera teringat puisi Adhie M. Massardi yang beberapa waktu lalu sempat terkenal dan dikutip di mana-mana. Puisi dengan bahasa yang cukup lugas dan terbilang mewakili kemuakan rakyat atas ulah sebagian besar pejabat. Ulah yang dampaknya amat dirasakan orang-orang yang berada pada posisi Katiman. Maka ’bedebah’ adalah artikulasi yang menjadi demikian tepat di benak banyak orang. Jadilah negeri ini memiliki julukan baru selain negeri koruptor, yakni negeri para bedebah.

”Ini memang negerinya bedebah!”

Selanjutnya Katiman terdiam agak lama. Tampak garis-garis kemarahan di wajahnya. Mengumpat rupanya cukup melelahkan. Ia menghela napas panjang kemudian dihembuskan perlahan. Sebatang rokok baru ia keluarkan. ”Siap untuk ronde berikutnya,” pikirku.

Benar saja. Umpatannya kembali meledak. Kali ini dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.  

Caci-maki Katiman yang seolah takkan berakhir mengusik kenyamanan seorang ibu pelanggan lain di warung itu. Amat wajar sebab sang ibu tadi tengah membawa anaknya yang masih kecil. Sang ibu nampak tidak rela anaknya yang masih polos itu merekam kata-kata kotor. Berkali-kali ia mencoba mengalihkan perhatian sang anak dengan bercerita entah apa. Namun sayang, gaya bercerita ibu itu tidak seatraktif Katiman sehingga sang bocah lebih memilih menyimak uneg-uneg pria madura berkumis tipis itu.

Ujang, sang penjual burjo menjadi gelisah juga akhirnya. Khawatir kehilangan pelanggan. Sekuat tenaga ia coba memancing pembicaraan lain yang tidak begitu mengusik emosi Katiman. Sesuatu yang lebih ringan. Tapi tidak juga ia temukan.

”Sabar Cak...,” ucap Ujang lirih.

Katiman mungkin kasar dalam ucapan namun hari itu kepekaan terbukti masih ada di sana.

”Mas, sebetulnya sudah lama saya ingin berhenti misuh-misuh seperti ini. Tapi berhubung sudah jadi kebiasaan, ya apa boleh buat. Mrocot begitu saja hehe...”

Membayangkan Katiman menyongsong bulan Ramadhan di tengah kondisi ekonominya yang morat marit mungkin akan berat. Berat karena Ia akan sangat membutuhkan kesabaran ekstra untuk tidak menyerah pada tempramen kerasnya. Pada amarahnya yang kerap meletup-letup. Dan pada kebiasaannya mengutuki keadaan.

Ada sedikit optimisme saat mendengar keinginan Katiman untuk, minimal selama Ramadhan, menahan kebiasaan mengumpatnya.

”Ya paling tidak selama puasa nggak misuh, Mas. Tidak mungkin saya mati jika sehari atau beberapa jam tidak mengumpat hehe..walaupun mungkin terasa ada yang kurang tapi nggak apa-apalah. Demi pahala.”

Katiman segera menyongsong Ramadhan yang ia yakini tidak akan mudah dijalaninya. Tidak di negeri para bedebah yang kejadian demi kejadiannya selalu mengundang amarah dan serapah. Katiman dengan tantangannya; begitu pula dengan kita. Katiman sudah mulai bersiap; lalu bagaimana dengan kita?[]  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar