Laman

Rabu, 09 Juni 2010

The Secret


KAMI punya rahasia istimewa. Itu sebabnya kami masih bisa tertawa. Kalian bisa saksikan di sudut-sudut ruas jalan sesekali kami terlihat saling membisikkan sesuatu bukan? Sebab kami memang punya rahasia yang tidak diketahui orang-orang di luar kalangan kami. Rahasia ini sangat berharga jadi harap dimaklumi jika selama ini kami menutupinya dari kalian. Kami hanya takut jika kalian tahu rahasia kami, kalian akan mengambilnya atau memanfaatkannya untuk kepentingan kalian.
            Rahasia kami terbilang tidak masuk akal bagi kalian kaum rasional. Sungguh pun demikian kami amat bersyukur bahwa kenyataan itulah yang menjadikan rahasia kami tetap terjaga selama ini. Dulu kami sempat menaruh kesal pada kalian, yakni kala kami mencoba memberitahu kalian rahasia ini di perempatan. Kalian lupa? Saat itu kami ngotot mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil kalian. Tapi mungkin banyak persoalan menggelanyuti pikiran sehingga ketukan kami kalian balas dengan lambaian tangan.
 Kami mengetahui kesibukan kalian yang begitu padat menjadikan waktu kalian kian sempit. Sungguh kami sangat ingin membantu kalian waktu itu. Kami tidak sampai hati menyaksikan raut kusut wajah kalian ketika terjebak kemacetan atau saat tergesa-gesa memasuki mal dan gedung perkantoran. Sungguh kami ingin membantu kalian dengan rahasia kami. Tapi begitulah, lagi-lagi kami kalian usir bahkan sebelum jarak di antara kita cukup dekat.
Kami jadi berpikir kalian terlalu memprasangkai kami dengan keliru. Kami tidak pernah bermaksud hendak menghambat pekerjaan kalian. Kami tahu betapa sulitnya mendapatkan penghasilan. Kami tahu beratnya kehidupan. Ya, sebab kami semua pernah merasakan penderitaan saat memerjuangkan kelangsungan hidup kami sendiri. Masing-masing dari kami punya cerita sendiri tentang perjuangan untuk hidup. Dan perjuangan itulah yang akhirnya menjadikan kami memiliki rahasia istimewa ini.
Antok misalnya. Ia dibesarkan bersama seorang ayah pemabuk yang gemar memukulnya. Hampir setiap hari ia mendapat jatah tendangan di perut. Suatu hari ia pernah mengeluhkan wajahnya yang bengkak. Hari lain ia memamerkan hidungnya yang patah. Tubuh mungilnya telah merasakan perih dan sakitnya hantaman layaknya petinju. Tapi ia selalu merasa lebih menyerupai karung pukul yang biasa digunakan berlatih para petinju. Sebab ia mengaku tak pernah membalas tiap pukulan yang diterimanya. ”Terima lalu lupakan,” begitu katanya.
Suatu hari ia mengaku mampu merasakan nikmatnya pukulan. Lebih dari itu, ia kecanduan. Jika dalam sehari ia tidak dihadiahi bogem mentah, ia akan dengan susah payah mendapatkannya. Kadang ia dengan sengaja memancing murka ayahnya. Tidak sulit, cukup dengan mengurangi setoran harian maka kepalan tangan ayahnya dengan cepat terhujam di antara dada dan perutnya. Sang ayah puas; Antok puas. Keduanya tidak ada yang dirugikan.
Sehari-hari Antok biasa mangkal di terminal. Usianya yang baru enam tahun menyisakan potensi belas kasihan calon penumpang angkutan umum, begitu pikir ayahnya. Maka tugas Antok adalah mengiba sambil menawarkan jasa semir sepatu. Mungkin salah satu dari kalian pernah menjadi pelanggannya. Tapi kalian pasti lupa wajahnya. Wajah Antok terbilang biasa kecuali bekas-bekas lebamnya. Tidak ada yang istimewa dari wajah Antok untuk diingat. Toh, di mata kalian wajah orang-orang seperti kami terlihat mirip bukan?
Kami memang terlihat mirip satu sama lain. Namun percayalah, bukan dekil penampilan dan kulit terbakar kami yang menjadikan kami identik. Bukan pula sekadar rambut kami yang sama-sama memerah. Rahasia istimewa kamilah yang membuat tubuh-tubuh kami terselimuti aura serupa. Kami dilahirkan oleh penderitaan. Dan penderitaan juga akhirnya yang merawat dan membesarkan kami layaknya seorang ibu merawat dan membesarkan darah dagingnya sendiri. Ia kemudian mewariskan kemampuan pada bocah-bocah seperti kami dan itu menjadi rahasia.
Rahasia istimewa Antok adalah kemampuannya berpindah tempat dalam satu kali kedipan mata. Maka jika di satu terminal sepi calon penumpang, ia akan berpindah ke terminal lain secepat kilat. Ayahnya tidak pernah mengetahui kemampuan Antok ini. Ia hanya terheran-heran ketika suatu hari setoran Antok berlipat-lipat lebih banyak dari sebelumnya. Sempat ia mencurigai anaknya telah menjadi pencopet. Tapi ia urung menyelidiki lebih lanjut. Baginya yang penting setoran lancar, syukur jika bertambah.
 Kemampuan Antok yang lain, ia kebal beraneka senjata. Kulitnya mampu menahan bermacam jenis benturan tanpa menyisakan sedikit pun goresan. Tapi demi terjaganya rahasia ini, ia juga mengembangkan kemampuan berakting layaknya bintang film. Ketika mendapatkan pukulan ia akan mengerang seolah kesakitan.
Pun saat salah satu mobil kalian menabraknya, ia langsung berpura-pura mati. Saat itu kalian langsung melarikan diri. Amat disayangkan sebab kalian jadi tidak sempat menyaksikan darah dan ceceran otak disekujur tubuh Antok yang perlahan kembali memasuki raga dan kepalanya. Kalian pasti takjub dibuatnya jika saja kalian saat itu mau turun dari kendaraan untuk sekadar memerhatikan gemeretak tulang-tulang rusuknya yang mencuat dapat kembali tersambung seolah tak terjadi apa-apa. Kalian terlalu khawatir harus berurusan dengan pihak berwajib atau mengeluarkan sejumlah uang untuk biaya rumah sakit Antok. Padahal sungguh kalian tidak perlu mengeluarkan sepeser pun.
***
Kami punya rahasia istimewa. Itu sebabnya kami masih bisa tertawa. Jika Antok mampu berpindah tempat dalam sekejap dan tubuh mungilnya bisa menahan bermacam benturan, maka sobat kami Yati dan kawan-kawan sepermainannya mampu menghilang dari pengelihatan. Ya, ia dan kawan-kawannya bisa lenyap dari pandangan mata. Kalian masih bingung? Ah, kalian terlalu banyak berpikir. Tidak perlu heran dengan kemampuan Yati cs ini.
Penderitaan telah mewariskan kemampuan pada Yati. Dulu ia pernah terhuyung-huyung digebuki Satpol PP sewaktu menolak pindah dari rumah warisan orangtuanya. Yati hanya tahu bahwa rumah tersebut seharusnya menjadi milik diri dan adik-adiknya. Dengan sekuat tenaga ia pertahankan warisan tersebut. Tapi apalah daya Yati berhadapan dengan otot pria-pria kasar itu.
Akhirnya Yati mengalah. Ia dan adik-adiknya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari tempat-tempat yang disinggahinya ia ternyata banyak bertemu teman senasib. Rombongan Yati semakin membesar dari hari ke hari. Mereka bahu membahu membuat aneka usaha kecil-kecilan. Tapi lagi-lagi Yati dan kawan-kawannya harus bertemu dengan pasukan beringas Satpol PP. Usaha yang dengan susah payah dibangunnya harus ludes oleh tangan-tangan alat negara. Sempat ia berharap rombongan pasukan tersebut datang dengan niat melariskan dagangannya, apalagi Yati mengaku salah satu petugas dalam rombongan brutal itu, merupakan langganan baksonya. Namun entah kenapa saat bergabung dengan kawan-kawan sepasukan, sang petugas seolah tidak lagi mengenal Yati.
Kejadian penggusuran demi penggusuran yang dialami Yati dan kawan-kawannya tak pernah lagi terjadi. Sejak kemampuan lenyap dari pengelihatan menjadi rahasia istimewanya, Yati cs tidak pernah lagi tampak murung dan gusar. Di mana pun ia bisa menggelar dagangannya. Jika pasukan penertib datang, ia tinggal raib bersama kawan-kawan dan barang dagangannya dari pengelihatan, selesai persoalan.
Suatu hari Yati dan kawan-kawannya tidak pernah lagi terlihat. Terkadang kami masih sering mendengar suara cekikikan kawanan mereka di pusat kota. Kami yakin mereka merasa lebih aman untuk terus tidak terlihat. Mereka mungkin masih berdagang dengan aman entah di sudut mana.
***
 Kami punya rahasia istimewa. Itu sebabnya kami masih bisa tertawa. Tidak ada yang mampu memahami bagaimana semua keistimewaan ini dapat kami miliki. Tapi kami punya teori sendiri. Kami yakin bahwa semua penderitaan kami mampu bersenyawa sengan timbal polusi kota yang kami hirup untuk kemudian menjadikan gen-gen di tubuh kami bermutasi. Tidak perlu pembuktian ilmiah atas teori kami ini. Kami toh bukan ilmuwan yang memerlukan penjelasan atas semua hal sebelum disimpulkan. Percaya tidak percaya itulah teori kami.
   Banyak di antara kami yang memiliki kemampuan seperti Antok. Sebagian yang lain lebih suka bergabung menghilang bersama kelompok Yati. Namun ada kelompok lain selain golongan Antok dan Yati. Itulah kelompokku dan kawan-kawan. Kelompok kami juga terbentuk berdasarkan kesamaan latar belakang dan keistimewaan. Kami juga diasuh oleh penderitaan dan diberi asupan timbal polusi kota.
Tahu kah kalian keistimewaan kami? Kami harap setelah mengetahuinya nanti kalian dapat memaafkan kami. Sebab rahasia ini belakangan kami ketahui menjadi masalah serius bagi kalian. Sungguh kami tak menyangka keistimewaan kami ini merupakan ancaman bagi kalian. Tapi kami tidak mau disalahkan begitu saja. Kemampuan kami ini muncul dari penderitaan akibat ulah salah seorang oknum kalian sendiri. Itu juga menurut kalian.
Ceritanya, dulu golongan kami pernah tinggal di sebuah perkampungan yang saat ini sudah menjadi kubangan berbau busuk. Di kubangan busuk itulah dahulu rumah kami berada. Semua terjadi begitu saja. Seolah tanpa sebab, karena tidak pernah ada yang mengajukan diri bertanggung jawab, lumpur menyembur membanjiri perkampungan kami. Kami kehilangan tempat bernaung juga tempat bermain.
Begitulah kejadiannya. Ada yang menyebut nasib kampung kami sebagai gejala alam biasa. Kadang kami bingung apa yang biasa dari kejadian lumpur yang tiba-tiba menyembur keluar dari perut bumi? Mungkin juga hanya kamilah yang menganggap kejadian itu luar biasa. Maklum pendidikan kami ala kadarnya. Karenanya kami lebih memercayai penjelasan luar biasa daripada pendapat yang biasa. Misal saat kalian mulai menyalahkan ambisi bisnis seorang pengusaha berdagu panjang sebagai biang kerok nestapa kami. Bagi kami jelas itu sesuatu yang luar biasa. Betapa tidak, hanya ambisi seorang pengusaha kalian, mampu menghadirkan sengsara nyata bagi kami yang berjumlah ribuan. Pengusaha berdagu panjang tersebut pastilah memiliki rahasia istimewa seperti kami entah dalam bentuk apa. Mungkinkah itu dagu panjangnya?
Keistimewaan kami sendiri terwujud ketika kami menggelandang hingga ke kota. Di sana perjumpaan kami dengan timbal polusi bereaksi bersama derita. Kami kini mampu terbang kesana-kemari. Kami mampu melesat cepat melampaui kecepatan terbang pesawat. Tanah perkampungan kami ternyata tidak hanya mengusir dengan semburan lumpurnya tapi juga memberi kami bekal berupa gas panas yang kami hirup semasa berada di penampungan para pengungsi.
Gas panas, timbal, dan derita. Siapa menduga ketiganya berujung pada keceriaan. Setidaknya bagi kami. Ya itulah rahasia istimewa kami. Kami merasa tidak perlu lagi menyembunyikannya dari kalian. Kalian toh tak kan percaya.

Maaf ada yang terlupa. Tadi kami sempat meminta maaf pada kalian jika keistimewaan kami ini boleh jadi merupakan masalah bagi kalian. Sebab memang wujud kami saat terbang melayang tidak lagi sebagai manusia, melainkan hawa panas. Kami mencoba menebar kehangatan dengan kemampuan kami di dunia yang semakin diselimuti sikap dingin ini. Tapi kalian lebih memilih menyebutnya sebagai global warming[]    

1 komentar:

  1. emmmm. kok kayaknya aku kenal dengan karakter antok-yati cs dan sosok kalian... ceritanya terlalu mendramatisir tapi aku merasa cerita ini ada disekelilingku dan sangat dekat dengan kehidupanku... atau itu hanya prasangkaku saja??? semoga tidak demikian :)
    salam buat antok dan yati cs yah mas...
    salam perdamaian dan perubahan untuk sosok kalian..

    BalasHapus