Laman

Minggu, 06 Juni 2010

Tidak Ada Pertandingan Hari Ini


Tidak ada yang bertarung di arena itu. Gelanggang itu berisi ring kosong namun sarat gaduh penonton. Tidak ada pertandingan hari ini sebagaimana hari-hari sebelumnya. Hanya atraksi penonton yang mengelilingi arena terus memberikan warna. Ada yang ngobrol sendiri; ada yang tertidur mendengkur; ada yang membaca doa-doa penuh hikmat; ada yang saling umpat.
            Sudah puluhan tahun tidak ada pertandingan digelar di arena itu. Jika ditanya sebab-musababnya, maka akan lahir banyak analisis jadi kita lewatkan saja dulu. Yang pasti, kosongnya arena dari pertarungan bukan karena ia sudah tidak lagi diminati. Sebab penonton selalu saja memadati gelanggang tiap harinya dengan alasan hendak menyaksikan pertarungan. Mereka selalu datang walaupun dengan langkah ragu-ragu. Bagi kebanyakan penonton, mengunjungi arena itu laksana bagian dari ritual harian. Rutinitasnya pun bagaikan memiliki makna sakral. Memasuki gelanggang itu seolah memudahkan mereka meresapi atmosfer pertandingan meskipun, sebagaimana sudah disebutkan, bertahun-tahun sudah berlalu sejak pertarungan terakhir digelar.
Baiklah, mari beranjak ke deretan bangku penonton. Tengah terjadi peristiwa yang langka di sana. Beberapa orang terlibat perdebatan seru tentang kisah sebuah pertandingan dari masa lalu. Ah, cerita tentang legenda petarung dan pertarungan selalu mengasyikkan bukan? Cerita tentang jago-jago yang jatuh-bangun dan akhirnya menang jarang memunculkan rasa bosan. Terlebih jika ia dituturkan dengan sepenuh hati. Emosi dalam penceritaan selalu membuat kisah menjadi hidup. Di sinilah keahlian pencerita berperan. Ia harus bercerita seolah-olah menyaksikan sendiri peristiwanya. Dalam kasus cerita pertarungan, pencerita sejati bertutur dengan intonasi yang tepat serta mimik meyakinkan seolah menyaksikan sendiri fragmen demi fragmen tindak heroik sang petarung. Jika diperlukan, sesekali perlulah melayangkan pukulan kosong guna memberi gambaran bagaimana sang petarung masa lalu itu melontarkan bogem mentah atas lawan-lawannya.
Sempat disebutkan terjadi berdebatan? Ya, masalahnya, hari ini sang pencerita tidak sendiri. Ada pencerita lain yang membeberkan kisah yang sama dengan versi berbeda. Ada tiga, tidak, empat versi berbeda menyangkut kisah yang sama. Maka terjadilah perdebatan itu. Tiba-tiba saja penonton terbagi menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok merujuk pada satu pencerita.
Awalnya perdebatan hanya terjadi di antara pencerita, tapi kemudian merembet ke penonton yang lain. Apa yang diperdebatkan? Yah, tentu saja mula-mula mereka berdebat tentang siapa yang paling berhak bercerita. Ini masalah otoritas. Tidak semua orang berhak dipercaya tuturan kisahnya bukan? Apalagi zaman ini banyak tukang kibul berkeliaran dan semakin sulit saja dideteksi. Bisa saja ia ada di antara kerumunan penonton. Maka wajar jika perdebatan tentang kelayakan pencerita menjadi penting dan mendesak.
”Wahai saudara, ceritamu tetaplah milikmu. Janganlah kau sebarkan! Kau masih terlampau hijau untuk menceritakannya. Pada waktu Muhammad Ali bertarung, orangtuamu mungkin masih bermain tali sambil cekikikan. Kau hanya menyaksikannya bertarung lewat layar kaca seperti kebanyakan penonton di sini. Kau tahu, menyaksikan peristiwa lewat layar kaca itu rentan bias media!” bentakan pencerita tua itu terdengar nyaring dan tegas.
Wibawa bawaan usia ditambah suaranya yang berat mampu menarik perhatian banyak penonton. Orang-orang spontan terdiam. Suasana nyaris hening jika saja tidak ada  jerit tangis seorang bocah malang akibat tersentak bentakan pencerita tua itu. Penonton yang tengah hikmat memanjatkan doa melotot terkejut; sedangakan yang tidur terkesiap melongo sambil mengejap-ejapkan mata, tidak yakin apakah masih berada di alam mimpi ataukah nyata.
” Ada apa? Suara apa itu?” ujar penonton yang masih setengah sadar tadi.
” Pencerita tua kita baru saja membentak. Ada anak muda lancang yang berani bercerita tentang Muhammad Ali,” jawab kawannya.
”Apa?”
”Hey, masih belum jelas? Pencerita tua baru saja membentak seorang pencerita muda yang lancang!”
”Cuma itu?”
”Iya, cuma itu!”
”Brengsek!”
***
Pencerita muda tidak tinggal diam menerima begitu saja bentakan seniornya. Darah mudanya bergolak. Setelah berkali-kali mendengus tanpa ingus, ia mengambil sebuah bangku lalu menaikinya dengan satu lompatan sempurna. Di atas bangku ia berdiri tegak. Matanya bergerak menyapu seluruh penonton yang hadir di gelanggang itu lalu berhenti saat beradu tatap dengan sang senior tua.
”Maafkan jika dianggap lancang. Aku mungkin masih muda dan tidak pernah menyaksikan langsung pertandingan sang legenda. Aku memang hanya melihat ketangkasan Ali dari rekaman VCD. Tapi keberanianku berkisah tentu bukan tanpa alasan. Aku memelajari teknik bertarung sehingga tahu persis gaya bertinju ala Ali. Usiaku malah merupakan alasan kuat kenapa aku layak bercerita. Sekali lagi maaf  bila ini dianggap lancang. Usia senja boleh jadi mulai mengikis ingatanmu. Kusarankan kau istirahatlah pak tua! Kaulah yang tak layak bercerita.” Jawaban pencerita muda itu mengundang gelak tawa massa.
Kurang ajar betul anak muda ini. Tidak hanya berani menjawab, ia bahkan meniru cara berbicara pencerita tua lengkap dengan suara yang sengaja diberat-beratkan.
”Sudah seharusnya dia istirahat,” celetuk seorang massa pencerita muda.
”Betul,betul,” ujar yang lain
”Lancang! Kau tahu, pencerita tua kita pernah menyaksikan pertarungan Ali dengan mata kepala sendiri,” balas massa pencerita tua.
”Betul, betul,” tambah yang lain.
Suasana memanas. Dua kubu saling berhadapan. Perdebatan berlanjut dan berkembang menjadi saling gugat antar generasi.
Sementara pencerita ketiga begeming. Ia terus menuturkan versinya dengan penuh penghayatan. Berkali-kali ia memejamkan mata seolah mengingat-ingat kembali liukan, tangkisan, dan terjangan petarung masa lalu yang terus jadi idola khalayak penonton sepanjang zaman.
”Bayangkan...bayangkanlah saudara-saudaraku...rasakan desah napasnya yang memburu... Bayangkan...bayangkan saudaraku semua! Matanya seperti pemburu menatap mangsa,” pencerita ketiga bertutur seperti membacakan mantra. Penonton di sekelilingnya seperti tersihir. Berbeda dengan dua pencerita sebelumnya yang bersuara keras; pencerita ketiga ini nyaris seperti berbisik.
”Kalian rasakan hantaman demi hantaman yang diterimanya? Alangkah sakitnya..alangkah perihnya saudaraku....,” tuturan pencerita ketiga benar-benar merasuki massa di sekelilingnya. Beberapa bahkan ada yang menitikkan air mata.
 ”Tapi sekarang kalian bisa membayangkan senyumnya bukan? Senyuman seorang pemenang...bukan keluh yang ia keluarkan saudaraku..senyuman! Ya! Sebuah senyuman untuk lawannya yang justru jadi merinding....luar biasa! luar biasa saudara-saudaraku! Bisakah kalian membayangkannya...?”
”Nggak bisa om!” celetuk seorang gadis kecil
”Hush! Tidak sopan bicara begitu. Sini!” bisik ibunya seraya membekap mulut bocah lugu itu.
”Tapi iwoh memang nggak bisa Bu! Iwoh nggak bohong!” ujarnya pada sang Ibu.
”Iya, Ibu tahu kamu nggak bisa. Tapi ya nggak usah diomongkan! Kamu kira Ibu bisa membayangkan ceritanya apa? Sama saja, Ibu juga nggak bisa kok.”
Gadis kecil itu hanya bisa melongo.
***
Pencerita keempat adalah pencerita paling eksentrik. Ia muncul tiba-tiba. Tidak ada yang memerhatikan arah datangnya. Dan apa yang ia sampaikan pada massanya justru lebih banyak berisi gugatan atas dipersoalkannya otoritas pencerita legenda. Dia terus membakar semangat penonton yang lain untuk berani bercerita tentang sosok Muhammad Ali. Otoritas bercerita baginya hanya ilusi dan kamuflase kepentingan. Tidak hanya itu. Gugatannya terus meluas hingga akhirnya menyerang urgensi aktivitas bercerita itu sendiri.
”Mari semua bercerita! Semua boleh bercerita tentang siapa pun di sini. Kenapa harus tentang Muhammad Ali hah?! Banyak orang lain yang bisa kita kenang. Bukankah masih ada John Lennon, Maradona, ah, atau Che? Ya, masih ada Che. Bagaimana dengan dia? Atau, atau,  kenapa kalian tidak bercerita tentang diri kalian masing-masing? Kenapa kalian tidak boleh jadi legenda juga? Ayo, buatlah diri kalian melegenda seperti Muhammad Ali. Ceritakan, ceritakanlah tentang diri kalian masing-masing!”
Ajakan pencerita keempat ini yang paling mengundang kasak-kusuk penonton. Bagaimana tidak, kesakralan idola mereka digugatnya mentah-mentah.
” Sinting betul orang ini!”
” Keterlaluan!”
” Biadab!”
” Dia pikir dirinya siapa hah?”
” Kenapa kamu tidak bercerita saja seperti pencerita yang lain?”
Pencerita keempat tersenyum menyaksikan reaksi penonton. Tapi ekspresi ketiga pencerita lainnyalah yang paling membuat ia kegirangan; lebih khusus lagi raut muka pencerita tua yang memerah menahan murka. Perasaan puas menguasainya.
”Tenang...tenang...sabar...hehehe...orang sabar disayang Tuhan,” pencerita keempat mencoba menenangkan penonton. Ia tahu betul kontroversi selalu menarik perhatian. Sekarang semua mata tertuju pada dirinya. Orang-orang menanti penjelasan atas pernyataan-pernyataannya.
”Saudara-saudaraku semua, dan para pencerita yang saya hormati,” pencerita keempat mulai berpidato.
”  Sungguh saya sangat merasa prihatin dengan keadaan gelanggang ini. Saya yakin dan percaya saudara-saudara sekalian juga merasakan hal serupa. Setiap hari kita datang ke tempat ini. Kita sediakan waktu kita guna memenuhi bangku penonton di tempat ini. Kita keluarkan uang untuk tiket masuk, pernak-pernik, makanan kecil, dan membayar tarif WC umum untuk sekadar kentut! Tapi kita tidak pernah menyaksikan pertandingan apa pun di arena itu. Lihatlah, kosong bukan?” penonton berbarengan menoleh ke arah arena pertarungan yang kosong.
”Sudah puluhan tahun...puluhan tahun saudara-saudaraku semua, tidak pernah lagi ada adu jotos di arena itu. Ini penipuan menurut saya. Sementara di saat yang sama hari-hari kita di gelanggang ini diisi oleh pencerita yang itu-itu saja. Setahu saya cerita dan retorika pencerita saja yang menjadi suguhan paling menonjol di gelanggang ini. Tapi sungguh itu bukan masalah bagi saya, sebagaimana hal tersebut juga tidak menjadi masalah bagi siapa pun di tempat ini. Tapi saudara-saudaraku sekalian, kenapa, ya, kenapa semua pencerita selalu merasa dirinya yang paling benar?”
”Apa maksudmu?” teriak salah seorang penonton.
Pencerita keempat menampakkan ekspresi prihatin saat menatap penonton yang kebingungan itu. Tapi ia gembira.  Ketiga pencerita lain sudah tidak lagi bercerita. Mereka terdiam. Pencerita tua tersengal-sengal menahan amarahnya. Pencerita muda mengernyitkan dahi seolah tengah menganalisis situasi. Sedangkan pencerita ketiga terduduk sambil mengelus-elus dada.
    ” Sebab pencerita ingin memonopoli kebenaran! Kebenaran adalah eksistensi yang sesungguhnya. Dengannya kita bisa mendapatkan segalanya. Uang, kekuasaan, pengakuan, dan kenikmatan akan datang bersama pemegang klaim kebenaran,” ujar pencerita keempat berapi-api menjawab sendiri pertanyaannya.
” Kurang ajar! Ceritaku memang benar. Tidak ada motiv apa pun di dalamnya selain memberi gambaran pada semua penonton bahwa Muhammad Ali adalah seorang petarung besar. Aku sudah tua. Tidak ada lagi yang aku inginkan dari kehidupan ini wahai manusia sinting!” pencerita tua meluapkan amarahnya dan penonton kembali terdiam.
”Baiklah, jadi kau mau menggugat kami. Lalu apa alasanmu mengatai kami hendak memonopoli kebenaran? Sekarang kau sendiri tengah berusaha memonopolinya,” sahut pencerita muda.
”Sudah...sudah...kebenaran hanya didapat dari hati yang bersih saudaraku...bayangkan...,” tuturan pencerita ketiga tenggelam di antara riuh penonton
Penonton dipusingkan ucapan-ucapan para pencerita. Mereka kebingungan. Siapa yang bisa dipercaya sekarang? Di antara mereka ada yang mencengkram kepalanya seolah ubun-ubunnya hendak meledak; ada yang muntah di tempat, ada yang tergopoh-gopoh ke kamar kecil, dan ada yang lunglai lalu pingsan.
” Ah, usia tua sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemuasan hasrat bukan? Hehehe...Aku yakin kau tahu benar yang aku maksud wahai tua bangka. Yang hendak saya sampaikan di sini hanya bahwa kebenaran cerita bukan monopoli siapa pun. Semua benar kok. Hanya saja tidak semua mau bercerita. Jadi, mari semua bercerita demi eksistensi kita.”
Gelanggang bergemuruh.
***
Penonton semakin bingung. Kali ini mereka dipusingkan dengan ajakan bercerita dari pencerita keempat. Mereka tidak tahu apa yang harus diceritakan. Tidak ada yang menarik dari kehidupan mereka untuk dikisahkan. Keseharian mereka hanya datang ke gelanggang tanpa pertarungan dan pulang hanya membawa sebuah cerita yang sama dari pencerita yang sama pula.
”Adakan saja pertarungan antar pencerita di arena! Yang menang berarti benar ceritanya. Atau tunjuk dua penonton yang ada di sini agar naik ke arena supaya kita semua punya cerita!” Seloroh seorang bocah. Seloroh yang membekukan semua yang hadir di gelanggang itu. Bahkan seorang pencerita tua sekalipun tak kuasa menyembunyikan perasaan takutnya.
Dari mana datangnya bocah ini? Siapa orangtuanya? Penonton bertanya-tanya sambil menatap tamu tak diundang itu. Tubuh bocah itu kurus dan guratan bekas luka nampak di sekujur badannya yang tak berbaju. Terngiang kembali perkataan bocah tadi di telinga masing-masing penonton. Degitu jelas, begitu jernih, sekaligus dingin.
Tiap-tiap penonton bergegas kembali ke bangkunya masing-masing seraya mencengkram erat kedua sandaran lengannya. Tidak terkecuali keempat pencerita. Ketakutan yang amat sangat menguasai mereka semua. Gelanggang hening seperti tempat pekuburan. Hanya selingan dengkuran seorang penonton yang tertidur mendominasi segala bunyi-bunyian.
Lima menit, 10 menit, 20 menit, lagi-lagi hanya dengkuran.
” Kenapa? Bukankah ini alasan kalian semua hadir di gelanggang? Menyaksikan pertarungan bukan?” Suara bocah itu kembali menggema. Tidak ada jawaban; hanya dengkuran seorang penonton.
”Ayo tunjuk sepasang petarung! Nanti kita tonton bersama. Ada pertarungan ada cerita,” selorohnya lagi.
”Benar!” ujar bocah yang lain.
”Ayo tunjuk!”
”Pilih sepasang petarung!”
”Hari ini harus ada cerita baru!”
Anak-anak berkumpul mengelilingi bocah misterius itu. Mereka satu-persatu menyatakan dukungannya. Seorang di antara mereka meloncat kegirangan. Pertunjukan yang selama ini hanya ia dengar lewat tuturan pencerita akan terwujud.
”Jika tidak ada yang mau maju ke arena, maka biar sepasang di antara kami yang naik dan bertarung,”  ujar bocah misterius, masih dengan ekspresinya yang dingin.
” Aku saja!”
”Aku, aku...”
”Iwoh saja ya...”
Anak-anak berebut hendak menaiki panggung arena. Sontak para orangtua bergegas menarik mereka menjauhi panggung segi empat itu.
”Anak siapa ini?! Usir dia!” Jerit seorang ibu.
”Panggil bagian keamanan!”
Kembali penonton mengamati bocah misterius itu. Beberapa yang masih dikuasai ketakutan hanya mampu menatap ujung kaki bocah itu yang dipenuhi koreng.
Bocah misterius itu diam sesaat mengamati reaksi penonton. Ia mulai bergerak perlahan menuju pintu keluar gelanggang. Ia sudah tidak lagi mengajak penonton menggelar pertarungan. Dibukanya pintu keluar perlahan, lalu berlalu.
***
Suasana kembali hening. Aura bocah misterius itu seolah masih ada di dalam gelanggang. Kata-katanya serasa masih terus menggema. Ajakannya menggelar pertarungan sungguh mengerikan dan di luar imajinasi siapa pun yang hadir di gelanggang itu. Bayang-bayang keringat, kulit yang lebam ,dan darah terlalu meneror. Penonton masih banyak yang ketakutan. Ada yang menggigil layaknya demam; ada yang masih menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
Dengan langkah ragu-ragu pencerita keempat menaiki panggung arena seorang diri. Ia tahu harus ada yang menyelamatkan semua dari suasana tak nyaman ini. Ia sendiri sadar; ia masih ketakutan. Dengkulnya masih bergetar. Jantungnya masih berdegup kencang dan matanya masih berkunang-kunang. Tapi harus ada penyelamat, pikirnya.
”Ehm..ehm..penonton semua, karena pembaca pengumuman tidak berkenan naik ke sini, maka saya hendak menggantikannya menyampaikan informasi seperti biasa...” Suara pencerita keempat bergetar. Perkataan bocah misterius masih membayanginya. Tapi ia harus menyampaikan informasi itu demi ketenteraman bersama.
” Dengan ini saya umumkan: Hari ini tidak ada pertarungan.”
Penonton seketika berpelukan. Ada yang menangis, ada yang berguling-guling. Luapan suka cita penonton menghapus tuntas aura si bocah misterius. Pencerita tua terpingkal-pingkal menyaksikan pencerita muda berjoget tanpa musik pengiring. Pencerita ketiga langsung melaksanakan sujud syukur. Suasana gelanggang benar-benar gegap-gempita. Tidak ada pertandingan hari ini, sungguh membahagiakan. Penonton yang tertidur kembali tersentak bangun.
”Ada apa?”
”Kamu tidur ya! Tadi ada pengumuman penting.”
”Pengumuman?”
”Iya pengumuman!”
”Apa?”
”Tidak ada pertandingan hari ini!”
”Cuma itu?”
”Bukan cuma, tapi iya!”
”Brengsek!”[]    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar