Pengantar
Pada tulisan sebelum ini sempat saya singgung secara singkat urgensi manajemen wacana bagi organisasi maupun harokah Islam. Kali ini akan coba saya uraikan lebih lanjut mengenai proses tersebut lebih dalam, meskipun mungkin nantinya akan ada beberapa pengulangan demi tercapainya kejelasan gagasan. Pertama-tama rasanya perlu saya sampaikan terlebih dahulu alasan-alasan yang melatari manajemen wacana perlu mendapat perhatian baik dari organisasi maupun harokah Islam.
Wacana sebagaimana diketahui melekat pada subyek ideologis. Sang subyek yang dalam kesehariannya dihadapkan pada realitas, memiliki kacamata ideologi manakala terlibat interaksi dengan suatu fenomena. Di sisi lain, subyek tersebut juga hadir dalam medan wacana yang terus bereproduksi di mana dirinya sendiri ikut terlibat. Ada kalanya subyek memikirkan dan menghasilkan suatu wacana, namun ia juga berpikir berdasarkan wacana tertentu. Maka wacana bagi subyek, adalah produk dan bahan baku sekaligus. Subyek ini tidak melulu diartikan sebagai individu, ia mungkin mengambil bentuk organisasi tidak terkecuali gerakan Islam.
Jika demikian, wacana seharusnya tidak hanya diperdebatkan atau dianalisis, ia juga perlu diperlakukan sebagai sumber daya yang disadari. Kesadaran wacana sebagai sumber daya akhirnya menuntut penanganan yang tepat agar mendukung tercapainya tujuan si subyek. Maka wacana memerlukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, serta pengawasan dan evaluasi. Hal ini diupayakan agar wacana menjadi pendukung cita-cita organisasi atau gerakan dan tidak perlu dipandang sebagai pengekangan.
Ketika Wacana Menjadi Mandul
Setiap subyek pewacana tentu menghendaki adanya perubahan berdasarkan wacana yang dihasilkannya. Semacam implikasi materiil di mana gagasan bekerja dalam ruang dan waktu, menjadi amat diinginkan. Wacana yang hanya mengalir dari pikiran satu subyek ke subyek lainnya cenderung tidak produktif bagi perubahan. Saat ini misalnya, kerap kita saksikan orang-orang pintar saling melempar wacana di ruang-ruang publik namun amat sedikit yang berujung pada eksekusi di lapangan.
Begitulah kenyataannya. Ternyata wacana bisa mengalami kemandulan juga. Ia eksis namun tidak produktif. Ia hadir di antara kita namun tidak mampu menggerakkan. Ia inspiratif, namun hanya menjadikan orang-orang takjub lalu menanti wacana berikutnya yang lebih menginspirasi. Ia dapat menjelma sosok gagah tapi sejatinya lumpuh tanpa daya.
Penyebabnya banyak. Pertama, boleh jadi subyek pewacana tidak memiliki sumber daya operasional yang mampu menerjemahkan gagasan-gagasannya dalam bentuk tindakan. Situasi semacam ini tentu menggemaskan. Mungkin itu pula yang menyebabkan seorang Marx sekalipun amat menekankan pentingnya sebuah tindakan sebagaimana diulas oleh Tan Malaka dalam Madilog-nya. ”Ahli filsafat sudah menerjemahkan dunia ini berlainan satu dengan lainnya.Yang terpenting adalah mengubah dunia ini.” (Marx dalam Tan Malaka, Madilog) Dimensi tindakan bagi Marx misalnya, digolongkan sebagai materi dan bukannya ide. Padahal bagi siapa pun yang minimal pernah mendengar Marx tentu paham betapa tokoh yang satu ini sangat menekankan pentingnya aspek materi dalam gerak sejarah maupun masyarakat. Sedangkan dalam Islam sendiri, konsep amal, kerap disandingkan dengan iman. Kenyataan ini semakin mengokohkan pendapat bahwa tindakan merupakan manifestasi penting bagi tercapainya tujuan entah bersifat transenden ataupun imanen.
Kedua, wacana tersebut mungkin hanya mencukupkan diri di wilayahnya saja: teritori wacana. Wacana tidak mengalami transformasi lanjutan hingga mencapai level publik awam. Wacana yang punya kekuatan mengubah tidak pernah berhenti hanya pada bentuknya semula. Untuk mengubah suatu kondisi, paling tidak wacana harus bertransformasi menjadi opini, meskipun hal itu berarti akan banyak terdapat reduksi demi penyederhanaan, yakni sebuah kondisi yang dalam istilah Paul Ricour disebut perubahan dari satu sistem pemikiran ke sistem keyakinan. Sebab di lapangan, opini yang diyakini lebih memiliki kekuatan menggerakkan. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus dari subyek pewacana agar gagasan menjadi efektif dan memiliki implikasi luas.
Ketiga, wacana mungkin tidak sempat diturunkan ke level operasional disebabkan ia lahir di tengah kondisi jenuh-wacana. Dalam kehidupan organisasi maupun masyarakat secara umum, terkadang ruang publik dan komunal sesak oleh serbuan wacana sehingga menghasilkan pilihan yang terlampau banyak. Kondisi ini dapat menyebabkan apatisme terhadap gagasan apa pun sehingga ia tidak sempat lagi untuk dipikirkan, dipertimbangkan, atau direnungkan.
Pasca-reformasi ketika iklim kebebasan terwujud, pelbagai gagasan guna memberi warna baru bagi Indonesia serentak hadir dan terus bersaing tanpa jeda. Situasi ini tidak hanya punya sisi positif, namun juga berpotensi menciptakan keadaan jenuh wacana tadi apabila tidak disikapi dengan taktis. Terbukti hari ini kita saksikan iring-iringan wacana yang hadir lebih diperlakukan sebagai selingan daripada dilaksanakan.
Keempat, suatu wacana kadang muncul pada waktu yang kurang tepat. Akibatnya terjadi semacam kesenjangan konteks. Wacana ditimbang untuk kemudian diterima tentu akan melalui proses seleksi terlebih dahulu. Mekanisme seleksi wacana kerap kali dihubungkan dengan sisi subyektifitas calon penerima wacana. Tentu saja hal ini erat hubungannya dengan sistem komunikasi di mana konteks merupakan faktor penting diterimanya sebuah pesan sebagaimana dimaksud sang komunikator(baca:pewacana).
Keempat penyebab gagalnya suatu wacana memberi dampak materiil di atas, seharusnya dapat dihindari apabila kita sejak awal memandang wacana itu sendiri sebagai sumber daya yang harus dan bisa dikelola. Apalagi jika kita mencermati kondisi saat ini di mana pertarungan wacana sedemikian massif dan kian atraktif. Agar tidak kalah dalam pergumulan, intelektual, organisasi, maupun gerakan Islam secara luas perlu menyadari bahwa tata kelola wacana yang baik mempersyaratkan sebuah sistem.
Telah disebutkan pada pengantar tulisan ini, bahwa wacana memerlukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan serta evaluasi. Kesemuanya adalah fungsi manajemen. Sebagai proses guna mencapai tujuan, manajemen tentu relevan diterapkan dalam pengelolaan wacana. Sumber daya yang satu ini akan sangat mendukung kinerja organisasi apabila diperlakukan dengan tepat layaknya sumber daya lain semisal sumber daya manusia ataupun finansial. (bersambung…)
waduh mas...
BalasHapusampuuunnn.....
bahasanya ketinggian, soalnya saya mah masih kecil euy.....haha
lanjutkan..posting ke ane pak, hehe
BalasHapus