Laman

Selasa, 31 Januari 2012

Toga (5)

on-kepompong.blogspot.com
Dedi Saputra sesungguhnya hanya orang awam.
                Dirinya sendiri pun tahu. Karena itulah ia kerap bertingkah seolah-olah lebih memahami segala kejadian dibandingkan orang lain. Sebab, agar dapat terlihat sebagai intelek terkadang seseorang memosisikan bahkan memaksa orang lain menjadi lebih awam. Jika perlu dengan permainan citra, orang lain bisa ditampilkan lebih dungu dari yang sebenarnya lalu merebut sekian banyak kesempatan tampil di tengah-tengah publik sebagai juru tafsir atas kebodohan layaknya kebanyakan pengamat pendidikan yang bahkan tidak mampu mendidik anaknya sendiri.
                Tapi kawan-kawannya pun sesungguhnya mengetahui bahwa Dedi Saputra hanya orang awam sekalipun upaya pencitraan sudah ia lakukan. Mereka mengerti bahwa pemuda pendek dengan gaya parlente itu tidak banyak berbeda dari orang kebanyakan yang tidak tahu apa-apa. Kemeja rapi, kacamata, dan foto profil dirinya di beberapa jejaring sosial yang tengah berpose seolah sedang berpikir di tengah kepungan buku sekalipun tidak mampu menutupi kedangkalan pikirannya. Jika bukan karena kemampuan retorika dan menulisnya sedikit lebih baik dari kawan-kawannya, mungkin ia akan bernasib tak beda dari rata-rata mahasiswa yang sekadar terdaftar namanya di suatu perguruan tinggi untuk kemudian menghilang pasca kelulusan tanpa sempat mencatatkan apa-apa.
                Karena itu, ketika tersebar kabar kegagalan Dedi dalam ujian tugas akhir lengkap dengan desas desus plagiarisme sebagai biangnya, tidak seorang pun selain kekasihnya sendiri yang terkejut. Sebab semua orang yang mengenalnya tahu, nyaris tidak ada idenya yang orisinal. Apa yang selama ini ia paparkan di lingkar-lingkar diskusi hanya pengulangan tanpa imbuhan meyakinkan dari tempurung kepalanya sendiri. Satu-satunya kelebihan yang diakui sahabat-sahabatnya adalah kepiawaiannya merangkai beragam kutipan hingga sepintas publik bisa mengira gagasan Dedi brilian. Tentu saja sifatnya sementara sampai akhirnya, lagi-lagi mereka tersadar Dedi Saputra hanya orang awam.
                Namun dalam pandangan Indri, Dedi tetaplah pangeran berkuda putih yang selalu siap menjadi pahlawannya. Di mata gadis manis yang kerap kali disayangkan kurang cerdas itu, Dedi sempurna. Dan entah karena cinta yang sudah teramat dalam atau memang tak mengerti, kekasihnya itu tetap saja tak memercayai nasib studi pangerannya itu berakhir sangat memalukan. Ia bahkan berjanji untuk tetap memegang komitmen menjalin hubungan hingga pelaminan. Sebuah ikrar yang tentu saja membuat bungah pria mana pun yang tengah gundah.
                Ya jaminan dan kepercayaan. Dua harta berharga sudah ia berikan pada pujaan hatinya. Karena itulah di malam yang sunyi, indri menggali kembali keyakinannya. Dalam duduk termenung di meja kamar tidur ia menatap foto mereka berdua. Sebuah kebersamaan yang terekam dalam lembar biasan kamera itu menemani lamunannya. Sampai kemarin semua baik-baik saja. Semua berjalan sempurna nyaris tanpa cacat. Hubungan mereka mulus. Ayahnya sudah merestui, begitu pula ibunya. Sementara Rani adiknya cepat akrab dengan Dedi. Rani senang bercanda, demikian pula Dedi. Untuk seseorang yang belum mapan macam kekasihnya itu, lelucon sudah cukup membuat keluarganya terkesan.
                Tapi Ayahnya punya ketertarikan yang berbeda. Di mata pria itu, seorang lelaki yang tangguh haruslah pernah menjalani hidup susah. Maka ketidakmapanan Dedi justru menjadi nilai tambah. Ketidakmapanan yang berani mengambil tanggunggung jawab jauh lebih baik dari janji-janji kesenangan pemuda-pemuda kaya yang sempat mendekati Indri. Joko Siswanto, percaya ketidakmapanan yang berani memikul tanggungjawablah yang akan menghantarkan kebahagiaan untuk anak gadisnya kelak. Konon keyakinan ini ada hubungannya dengan perjalan hidup pensiunan guru itu. Ada latar masa lalu yang berulang kali didengar indri lewat penuturan ibunya. Sama seperti Dedi, waktu itu Joko muda jauh dari mapan. Tapi ia percaya, dirinya punya nyali. Maka kembang desa yang sudah mematahkan hati banyak pemuda sekalipun mampu ia kesankan. Tidak jauh jarak antar ketertarikan dan pelaminan. Tapi kerjakeras Jokolah yang membuat semua terwujudkan.
                Tapi malam ini ingatan tentang penerimaan ayahnya itulah yang menjadikan indri gundah. Dalam sekejap alasan penerimaan yang dulu dibanggakan itu akan dengan segera sirna seiring dengan terkuaknya berita kegagalan calon menantunya. Ya, Indri memang masih menyimpan keyakinan bahwa Dedi tidak berbuat curang, tapi bagaimana dengan ayahnya…

1 komentar: