Semenjak memutuskan bergabung dengan organisasi dakwah sebuah kampus terkemuka di Yogyakarta, hari-hari Sekar(21) benar-benar berubah. Mulai saat ia terjaga dini hari hingga menjelang rebah di hamparan dipan kamar kosnya larut malam, banyak rutinitas dan pilihan telah berganti. Status Sekar dalam tiga tahun terakhir rupa-rupanya telah mewarnai banyak hal dalam kehidupan sekaligus kepribadiannya entah itu berwujud tingkah laku atau apa yang tampak dalam selayang pandang. Sebut saja urusan busana. Sewaktu SMA, Sekar dikenal sebagai gadis yang modis alih-alih memedulikan pernak-pernik penutup aurat. Sembari tersipu, dara manis ini mengaku memiliki koleksi tank top berjumlah hingga belasan potong dengan aneka warna dan desain yang tentu saja leluasa memperlihatkan kemolekan tubuh. “Kebetulan dulu ibu saya juga modis banget, suka sekali belanja pakaian yang gitu-gitu,” ujarnya.
Rina(21), salah seorang kawan dekatnya membenarkan pengakuan Sekar. “Dia itu memang modis. Sudah gitu anaknya cantik lagi, mantan model loh..,” ujarnya sambil mencolek bahu Sekar yang tengah berusaha menyembunyikan wajah malu dengan map biru miliknya.
Secara fisik, Sekar memang menarik. Siang itu misalnya, paras elok berbingkai garis wajah oval serta bulu mata lentik dipadu sorot mata sayu namun bercahaya, menyatu indah bersama kulit kuning langsatnya yang bersih dan segar. Keelokan paras ini tentu didukung keahliannya merawat diri. ”Kalau perawatan wajah dari dulu memang saya nggak suka pakai kosmetik pabrikan. Biasa pakai yang alami saja. Ya paling sesekali pakai lip gloss. Tapi itu dulu loh ya… kalau sekarang cuma bedak dingin malam hari sama air wudhu doang,” tandasnya.
Entah seperti apa persisnya penampilan mahasiswi semester enam itu dahulu. Namun kini jilbab dan gamis lebar setia membaluti tubuhnya. Semula Sekar merasa berat. Untunglah Rina selalu menyemangati dengan motivasi-motivasi yang mengena di hati dan pikiran gadis asli Jogja bernama lengkap Sekar Puspaningrum itu. Rina ingat saat sahabatnya itu mengeluh disebabkan banyak gangguan dari teman–teman pria di sekolah mereka.”Saya bilang begini, sudah nasibmu jadi anak cantik, coba kecantikannya ditertibkan pakai jilbab, udah cantiknya nggak hilang, cowok soleh yang datang, haha,” Rina tertawa ringan seraya mengenang.
Di antara ‘kumbang’
Kelakar Rina di akhir masa SMA itu mungkin ampuh menjadikan Sekar tergerak untuk merapikan penampilan sekaligus perilakunya. Tapi tak disangka imbas dari perubahan itu berujung pada kenyataan yang satir. Benar saja, semenjak Sekar memasuki organisasi dakwah kampus, memang bisa dibilang ia tidak lagi mendengar siulan panjang atau seloroh vulgar lawan jenis yang dulu pernah menyelingi gerak-geriknya, hanya saja gangguan itu justru tampil dalam kemasan baru.
Kehadiran Sekar di organisasi yang notabene bergerak untuk mengupayakan amar ma’ruf nahyi munkar tersebut sialnya disikapi bak durian runtuh oleh rekan-rekan prianya. Satu persatu mereka yang kerap disebut ikhwan menampakkan gelagat hendak mendekati Sekar dengan pelbagai upaya serta gaya. Tentu saja usaha-usaha itu tidak terang-terangan, namun kepekaan pribadi Sekar sebagai perempuan bisa merasakan. Ada ajakan rapat-rapat yang tidak urgen dan hanya dihadiri oleh dua orang, SMS tausyiah pengantar tidur, puji-pujian atas kerjanya yang tak seberapa, ucapan selamat ulang tahun yang datang bertubi-tubi, hingga permohonan izin untuk menjenguk ketika Sekar sekadar sakit flu. “Ya macam-macamlah…pernah ada yang SMS ngasih ucapan selamat ulang tahun bulan Februari padahal saya ulang tahun Oktober. Jauh banget kan… udah gitu waktu saya bilang ulang tahun saya masih lama tu ikhwan malah bilang dia cuma ingin jadi yang pertama, hihi…”
Pada minggu-minggu pertama Sekar menginjakkan kakinya di medan dakwah kampus, upaya-upaya pendekatan itu masih ia anggap sebagai bentuk perhatian biasa sebagai sesama pegiat organisasi. Apalagi ia pernah mendengar dari Rina yang sudah berpengalaman ikut organisasi dakwah semenjak SMA, bahwa suasana tempat berkumpulnya manusia-manusia dengan julukan aktivis itu sarat akan ukhuwah. Saling menjaga dan memerhatikan bukan barang aneh di sana.
Hanya saja tatkala ia memerhatikan Rina dan kawan-kawan putri yang lain tidak mendapatkan perlakuan serupa, keganjilan itu merasuki kesadaran.”Rina itu anaknya gesit dan pekerja keras, prestasi dakwahnya juga banyak, dan masih banyak teman-teman akhwat lain yang rajin, sementara saya nggak ada apa-apanya dibading mereka, maklum saya masih baru di dunia dakwah, tapi perhatian beberapa ikhwan ke saya terus, kan jadi bikin nggak enak,” ujar Sekar seraya mengenang pelbagai perlakuan yang dinilainya tak adil.
Sejatinya tidak semua ikhwan di LDK tersebut menyikapi Sekar demikian. Di antara mereka ada juga yang tidak senang dengan tingkah cari perhatian yang ditunjukkan sesamanya pada diri Sekar. Pelbagai kajian mengenai pentingnya meluruskan niat dalam berdakwah pun cukup sering digulirkan dan diulang-ulang. “Mereka banyak bertingkah seperti Fahri atau Azzam. Ada yang sedikit-sedikit berdalil tapi dipakai buat tampil di depan Sekar atau akhwat cantik yang lain. Ada juga yang sering memberi nasehat bijak sambil berpuisi, tapi ya buat yang cantik aja. Tidak semua ikhwan di LDK kami demikian sih… ada juga yang lebih banyak kerja. Yang begini ini kita salut. Tapi yang caper-caper itu tuh yang bikin organisasi nggak maju-maju!” papar Rina geram.
Serba salah
Belakangan, disebabkan situasi itu berlangsung terus- menerus, Sekar berniat mengundurkan diri dari lembaga tempatnya berkiprah selama hampir tiga tahun ini. Ia merasa kehadirannya lebih banyak merusak kinerja organisasi. Sebab, upaya pendekatan yang dilakukan ikhwan-ikhwan LDK ia rasa sudah menjurus pada eksploitasi diri sekaligus diskriminasi terhadap kawan-kawan akhwatnya yang lain. Terlalu banyak amanah yang diberikan ia nilai sebagai sekadar strategi para ikhwan untuk bisa selalu bertemu dengannya.
Ini belum ditambah dengan kecemburuan sebagian akhwat terkait penganak-emasan Sekar. Kecemburuan itu kerap tampil lewat gunjingan-gunjingan harian hingga sinisme dalam tuturan. Kondisi tersebut lama-kalamaan semakin membuat Sekar tidak nyaman hingga berniat keluar dari komunitasnya. ”Mau gimana lagi, saya juga sering dengar omong-omongan nggak baik tentang Sekar. Ada yang bilang dia sudah jadian dengan si anu lah, tunangan sama si itu lah, kasihankan..jadi waktu dia bilang mau keluar saya cuma bisa diam aja. Miris,” tutur Rina menjelaskan.
Sayangnya tidak semua rekan sang kembang LDK ini bisa memahami layaknya Rina. Banyak di antara sesama pagiat dakwah yang menyesalkan keinginan Sekar. Tudingan dan gunjingan pun semakin sering dialamatkan padanya. Ada yang mengatakan Sekar tengah futur, terserang virus merah jambu dengan pria di luar LDK, hingga spekulasi rencana pernikahannya yang kian dekat.
“Jadi bingung mau gimana. Kalau Rina sih bisa ngerti soalnya dia teman curhat sehari-hari, jadi tahu apa yang saya rasakan. Malah kadang dia sempet-sempetnya godain, katanya besok-besok saya kalau masuk organisasi dakwah lagi, pakai burqa saja biar mukanya nggak keliatan sama sekali,” ujar Sekar yang langsung ditimpali Rina ”Eh, tambah lagi, atau nikah dulu biar ikhwan-ikhwannya nggak pada ngarep,haha”[]
hahaha, sindiran yang efektif sekali bagi para ikhwan yang memiliki karakter demikian...
BalasHapustapi, akankah mereka sadar dengan apa yang dilakukan bila memang ada yang seperti itu???
biasanya pandai ber-alibi saja.
untukmu sekar, sabar yah....
kebaikan tidak hanya di LDK, jadi jangan pernah menyerah untuk mencari kebaikan itu...
Mudahan ini memang sekedar fiksi.
BalasHapusKalau pun ini disadur dari kisah nyata, maka sy anggap ini kisah yg lebay utk menuduh (menggenalisir) perilaku ikhwan (khususnya yg benar2 ikhlas berdakwah), seperti lebaynya film '?' atau Perempuan Berkalung surban.
Sy bnyk bergaul dg ikhwan2 yg begitu menjaga pergaulan dan adabnya terhadap lawan jenis. Jika pun ada sprti cerita di atas, maka jgn katakan kalau mereka para ikhwan aktvis dakwah, atau mmg aktivis baru setengah mateng, aktivis jadi2an, atau mmg kader LDKnya bermasalah (tdk mengerti adab). wallahualam, hanya Allah yg tahu hati-hati umat manusia.
@mas ridwan:amin semoga hanya fiksi saja
BalasHapusmasih teringat akan kata2 mas wildan,di sekitar akitivitas dakwah ada beberapa oknum ihkwan buaya dakwah,semoga allah menampuni dan tidak memasukkan saya tergolong "ihkwan buaya dakwah"