Laman

Senin, 17 Januari 2011

Jangan Tunggu Matahari Terbit dari Barat

“ Jangan tunggu matahari terbit dari barat,” ucap ayahku lirih. Entah kenapa akhir-akhir ini ia kerap mengulang pesan tersebut. Namun aku tak pernah secara serius menanggapi. Bagiku saat ini kesehatannyalah yang terpenting. Kanker di otaknya sudah demikian gawat sementara dokter yang merawatnya tak dapat berbuat banyak
“Dipindahkan saja ke Jakarta Kak, perawatan di sana lebih baik dari di sini. Alat-alatnya juga lebih lengkap,” bisik Yasmin. Adikku ini baru saja tiba dari Jakarta. Sejak menikah ia mengikuti suaminya menetap di ibu kota. Namun Yasmin biasa mandiri. Ia tidak cukup betah duduk manis dalam rumah. Bermodalkan ijazah akuntansi, ia memilih bekerja di sebuah bank ternama. Kabarnya suaminya tidak setuju dengan pilihannya itu. Tapi dasar dari kecil keras kepala sudah menjadi sifatnya, keberatan suaminya ia terjang juga.
Namun hari ini, toh Yasmin menunjukkan bahwa ia tetap perempun biasa. Air matanya leleh juga menyaksikan ayah tergolek lemah tak berdaya. Hanya keras kepalanya yang masih tersisa.
“Pokoknya harus dipindah! Kakak rela ayah dirawat sekadarnya di sini?”
“Ini maunya ayah, bukan kakak. Sejak semula kakak juga bermaksud demikian. Tapi ayah tidak mau,” tandasku menjelaskan.
Yasmin terduduk. Ia sadar, sia-sia menentang jika itu kemauan ayah. Tidak sepertiku, karakter yang paling menonjol dalam diri ayah adalah kemauannya yang kuat. Jika berkehendak, ia akan dengan sekuat tenaga mewujudkan. Karena itu pulalah kami berdua mampu sekolah tinggi walaupun penghasilannya pas-pasan sebagai usahawan kecil.
Ya, ayah seorang usahawan kecil tanpa pernah menjadi besar. Usaha ayah bermacam- macam. Ia seorang penjual jagung bakar, pemilik sekaligus mekanik bengkel motor kecil yang lokasinya selalu berpindah, makelar tanah, guru les matematika, dan tukang cukur keliling.
***
“Musa, kamu malu punya ayah yang pekerjaannya serabutan seperti ini?” ucapnya suatu hari. Aku hanya terdiam. Sejujurnya Aku ingin mengiyakan namun entah kenapa tak mampu kuucapkan.
“Ayah punya banyak keterampilan, kenapa tidak pernah serius dalam pekerjaan?”
“Pekerjaan apa?”
“Pekerjaan apa saja yang ayah bisa. Dari dulu usaha ayah tidak pernah berkembang. Kalau ayah mau, ayah bisa punya bengkel tetap, bimbingan belajar, atau salon.”
Gang sempit kampung kami senyap. Seolah-olah ikut menyimak cetusan gugatan yang tak biasa terucap olehku. Tidak kepada ayah. Sedari sekolah aku memang sudah tidak sabar menyampaikan ini. Perasaan keberatan ini sudah tak mampu kutahan lagi. Maka begitu bel tanda berakhirnya pelajaran terakhir berbunyi, aku bergegas menemuinya di titik-titik ia biasa menggantungkan cermin mungil tanda jasa cukurnya siap menyambut para pelanggan.
Ayah menerawang. Entah kalimat apa yang dapat menerangkan ekspresi wajahnya. Bukan berpikir, tidak juga tepat disebut merenung. Raut ayah selalu membingungkanku. Gejolak perasaannya nyaris tak terbaca. Diamnya tak menceritakan apa-apa.
“Karena itukah kau menganggap ayah tak serius? Karena usaha ayah tidak berkembang, atau karena kamu merasa kurang atas apa yang sudah ayah berikan?” ucap ayah datar.
Aku terdiam. Berat berterusterang padanya yang telah bekerja keras selama ini untuk aku dan Yasmin. Ia pekerja keras. Tidak kuragukan itu. Bentuk tubuhnya menceritakan lebih banyak dari apa yang mungkin disampaikan raut wajah dan lidahnya. Kulit telapaknya yang kasar dan menebal, bahunya yang kokoh, dan lekukan otot-otot di kedua lengannya sudah cukup membuktikan kerasnya tempaan untuk waktu yang lama. Tapi, ini bukan semata soal kerja keras!
 Ayah menoleh padaku sesaat lalu bangkit mengemasi peralatan cukurnya. Waktu sore sudah hampir habis. Ia siap beralih profesi menjadi penjaja jagung bakar di alun-alun tempatnya biasa mangkal malam hari. Tas dari bahan goninya ia buka, lalu mulai memasukkan satu-persatu sisir, gunting dan cermin mungilnya. Sempat menyembul di antara perkakas dalam tas goni itu beberapa kunci dan obeng. Agaknya siang tadi ia sempat menggelar bengkel nomadennya entah di pojok mana kali ini.
Demikianlah ayah bekerja. Tanpa jadwal pasti. Tanpa fokus. Apa yang sempat dia kerjakan dengan keahliannya, ia lakukan. Jika ada tetangga kami yang membutuhkan guru les matematika untuk anaknya di suatu kesempatan, ayah dengan segera menyanggupi dan itu berarti ia akan membatalkan pekerjaan lain yang sejak dini hari sudah direncanakannya. Begitupula apabila ada yang membutuhkan bantuannya memerbaiki sepeda motor ngambek di saat ia tengah menikmati sarapan, ia akan dengan segera melayani. Soal tarif, ayah memilih pasrah pada kerelaan dan kesanggupan pelanggan menghargai jasanya. Maka tidak heran jika usaha ayah yang mengandalkan jasa berupa keterampilan ataupun keilmuan, tidak pernah bisa diharapkan. Sebab banyak orang yang mengetahui sifat ayah ini memanfaatkannya demi mendapatkan keuntungan cuma-cuma.
Ayah kembali menoleh padaku. Kali ini ia tersenyum. Aku tertegun. Kupikir tadinya ia akan marah dengan pertanyaanku. Tidak ada gelagat tersinggung ataupun kecewa. Ia mendekat lalu mengambil posisi jongkok berhadapan denganku yang duduk di atas bangku kayu miliknya. Kepalanya menengadah menetap mataku yang berada lebih tinggi.
“Nanti malam ayah tidak jualan jagung,” ujarnya
“Ada les?”
“Tidak, tidak. Nanti malam ayah ingin bicara berdua denganmu. Lagi pula persediaan jagung juga sudah habis. Ayah belum sempat belanja seharian ini.”
Tidak biasanya ayah bicara seperti ini. Mungkinkah ada hubungannya dengan gugatanku tadi? Sedikit penyesalan hadir. Apakah pertanyaanku tadi mengganggu pikirannya?
***
 “Musa, kamu sudah besar sekarang. Sudah SMA. Sudah waktunya berpikir dewasa. Berpikir melampaui dirimu sendiri. Berpikir tidak hanya dengan otakmu saja melainkan juga dengan nurani. Maka hidupmu akan penuh dengan pegangan. Tidak mudah diombang-ambingkan penilaian orang. Tidak luruh oleh godaan.” Ayah mulai membuka percakapan malam itu. Kami berdua duduk di emperan toko pinggiran jalan yang telah lama tutup. Kabarnya pemilik toko tersebut bangkrut sejak kehadiran sebuah Mal megah di daerah ini.
“Kekayaan itu di sini,” ayah menekan dadanya.
“Dari sini kita mulia, dari sini kita bahagia, tapi dari sini pula kita miskin dan menderita.”
Pukul 08.00 malam. kendaraan masih ramai berlalu-lalang. Aku mencuri pandang. Asyik mengamati keramaian. Gemerlap lampu pertokoan menyita perhatianku. Kata-kata ayah terdengar namun pendar pesona jalan ini menenggelamkannya perlahan. Sudah lama aku tidak sempat keluar malam. Biasanya ayah memintaku menemani Yasmin mengerjakan pekerjaan rumah selagi ia berjualan jagung bakar. Namun hari ini justru ia sendiri yang mengajakku keluar.
“Tentang pekerjaan ayah, usaha ayah, ayah harap sekarang kamu bisa mulai memahami…”
 Aku tersadar dari pendar kota. Kembali memerhatikan ucapan ayah.
“Kau tentu tahu apa pekerjaan ayah dulu. Dosen, konsultan, peneliti. Sebagai orang yang menggeluti mesin di zaman ketika orang-orang mengagungkan mesin, ayah merasa seperti Tuhan. Inovasi ayah seolah-olah tiupan ruh yang menentukan hidup dan matinya perusahaan. Kreatifitas ayah laksana takdir yang bisa menentukan tren gaya dan perilaku manusia. Ayah bisa kaya raya.”
“Kenapa ayah berhenti? Kenapa malah jadi tukang cukur, belepotan oli setiap hari? Kenapa harus jualan jagung sampai larut? Kenapa masih tinggal di rumah kecil? Di kampung? Aku malu. Setiap hari ada saja ucapan orang tentang ayah yang aku dengar. Mereka bilang ayah profesor gagal, profesor bakul jagung!” cecarku tak terkendali.
Ayah mengelus kepalaku. Berusaha menenangkan, namun aku merasa diperlakukan seperti anak kecil.
“Musa, hati ini menyelamatkan ayah. Ketika melihatmu dan Yasmin bermain, menangis, tertawa, belajar berjalan, dan terjatuh, kesadaran bahwa makna hidup yang besar jauh lebih membahagikan dari capaian materi yang besar hadir. Kalian mengajarkan pada ayah bahwa capaian materi ibarat manusia. Ketika kecil, banyak harapan yang membersamai. Keceriaannya polos dan sederhana, jatuh bangunnya indah. Penuh haru, tanpa kesombongan. Namun ketika besar, sebagaimana manusia, materi juga dapat disesaki ambisi yang tak berkesudahan. Ia mulai sarat kelicikan, tipu muslihat, keserakahan. Karenanya ayah tidak ingin itu menguasai diri ayah sendiri, juga keluarga ayah.”
  Aku tidak mengerti. Dan sepertinya ayah memahami kebingunganku. Sambil menepuk pundakku tangannya yang sebelah mengeluarkan secarik kertas dan pensil dari saku bajunya lalu mulai menggambar.
“Ini timur, dan ini barat. Di antara keduanya adalah rentang waktu. Manusia ada di sini. Di zaman ini, banyak orang yang memulai hari dengan lebih banyak menoleh ke barat tanpa sempat menikmati mentari pagi di sebelah timur. Mereka selalu bicara tentang hasil tanpa peduli proses kelahiran dan kemunculan. Dan di waktu matahari terbenam, mereka justru memalingkan wajah ke timur, seolah-olah hari baru saja dimulai, tidak ada perenungan, tidak ada waktu untuk mengoreksi diri. Kau tahu kenapa?”
Aku menggeleng.
 “Materi yang didapatkan dengan membunuh nurani, menjelma cermin yang membalikkan arah timur dan barat. Membuatmu bingung di mana awal dan akhir. Kapan saat menangis dan tertawa. Materi tidak lagi menjadi lensa yang memperbesar keindahan. Ia tidak lagi membahagiakan. Jangan sampai keadaan ini menguasaimu. Jika suatu saat nanti tumpukan materimu menyusahkan orang lain, ingat pesan ayah ini. Lebih baik kaubuang semuanya, sebelum mentari memaksamu memerhatikannya dengan terbit di sebelah barat.”
***
Yasmin terus menangis di pelukanku. Tidak ada sepatah kata pun mampu kuucapkan. Hatiku sendiri remuk redam tak karuan. Rasanya seperti ada bagian dari diri ini yang seketika hilang tatkala dengan dingin dokter mengatakan ayah telah menghembuskan napas terakhirnya pagi tadi. Tepat ketika matahari baru akan memancarkan cahayanya. Ketika aku sendiri tengah meninggalkannya di kamar bersama Yasmin untuk mencari makanan kecil.
Waktu seolah berhenti sesaat untuk kemudian bergerak tak beraturan. Membuatku berkunang-kunang. Satu-persatu potongan kenangan bersama ayah bermunculan. Saat menyaksikannya menangisi kematian ibu di sebuah taman. Saat menggendongku dengan sebelah tangan. Saat menidurkanku dengan belaian. Saat menyambut kabar kelulusanku dengan senyuman. Saat wajahnya tertekuk, mulutnya mengatup, dan senyumnya tak pernah lagi kusaksikan semenjak mengetahui aku telah menjadi jutawan[]

1 komentar: