Apa arti seorang penulis di UII? pertanyaan tersebut sebenarnya tidak
enak diajukan, terlebih jika yang mengajukannya juga seorang penulis
dan berada di UII pula. Hanya saja ketika menyaksikan banyak tulisan
bertebaran dan gagal menjadi bahan bakar perbaikan, pertanyaan tadi
muncul juga di benak saya.
Apa arti keberadaan seorang penulis di UII? Individu yang asyik dengan
dunianya sendiri sembari membangun panorama ideal yang jauh dari
bayangan lingkungan tempatnya berdiam. Sosok kontemplatif yang kadang
terlihat layaknya anak autis, khusuk membaca lalu mengetikkan pikiran
dan perasaannya sementara sekelilingnya bergerak dangan ritme yang
berbeda. Tidak dipahami, tidak menarik untuk disapa, apalagi dijadikan
kawan berbagi rasa.
Apa arti keberadaan seorang penulis di UII? Manakala nalurinya
bergerak dengan spirit aksara untuk sekadar meneriakkan kata BACALAH!
dan atmosfer budaya tempatnya berpijak meredam teriakan tadi lewat
hingar bingar celoteh serta sumpah serapah.
Apa arti keberadaan seorang penulis di UII? Yang keberadaannya
tersembunyi di balik tirai kata-kata. Yang hidupnya dihibahkan untuk
mengikat makna. Yang hari-harinya diisi dengan menjentikkan intuisi.
Sementara lingkungannya gemar bermain jargon mewah yang gagah: Selogan
Islam yang meminggirkan aksara dari budaya.
Ya, apa arti keberadaan seorang penulis di UII? Pribadi yang
berpanjang-panjang dalam penjabaran namun nampak tidak lebih dari
sekadar individu salah alamat. Lingkungannya lebih menyukai merespon
deret-deret singkat pesan pendek dari layar handphone atau ungkapan
ringan status seorang kenalan dalam jejaring sosial.
Begitulah.Menjadi seorang penulis di UII berarti menjadi sosok yang
selalu siap mengelus dada setiap kali menyaksikan tulisannya tak
dibaca, terserak, kucel, atau hilang tanpa bekas secepat kilat
bersamaan dengan ditekannya tombol delete. Lalu mulai menulis lagi
untuk kemudian disikapi dengan cara serupa oleh mereka yang mengaku
kaum cerdik cendekia.
Menjadi seorang penulis di UII berarti siap untuk menempuh hidup
soliter, terasing dari lingkungannya yang lebih memilih berkata-kata
dulu sebelum berpikir. Ia harus selalu mampu berkonsentrasi dari
suara-suara bising yang mengitari hari-harinya agar mampu mendengar
petuah hati dan pikirannya sendiri dengan jernih.
Menjadi seorang penulis di UII berarti selalu siap untuk memaklumi
keadaan manakala
dirinya disikapi sebagai pribadi yang terlalu kompeks,rumit, dan
bertele-tele. Sebab ungkapan zamannya ini lebih menyukai apa-apa yang
simpel, praktis, dan cepat saji layaknya mie instant(nikmat, walupun
miskin gizi)
Maka menjadi penulis di UII perlu terus membekali dirinya dengan
tujuan yang kokoh, mental yang kuat, dan kepercayaan diri. Ia harus
rela hidup dalam kesepian intelektual yang kadang tampil dengan amat
mencekam. Terlebih apabila ia hendak menulis untuk melawan budaya
lingkungannya yang teramat mejan.
Melawan dengan tulisan di lingkungan seperti UII ternyata membutuhkan
kesabaran lebih. Pelakunya dituntut untuk konsisten dengan jalannya
sebagai pengukir kalimat-kalimat cerdas sambil berupaya semaksimal
mungkin memberikan injeksi mulia yang bernama manfaat.
Apa pun sikap orang-orang terhadap tulisannya. Dicemooh, dibuang lalu
terinjak, dihapus, atau terlupakan tidak jadi soal. Sebab nilai
sesungguhnya keberadaan seorang penulis yang mencoba menghadirkan
manfaat lewat karya-karyanya, selalu ditimbang dari harapan akan
keridhoan Zat yang mensabdakan telatah perjuangan sekaligus memberikan
konsekuensinya berupa kesepian: Allah SWT.
Mungkin itulah arti keberadaan seorang penulis di lingkungan seperti UII.
Sumber ilustrasi: http://alhikayat.wordpress.com/2008/06/25/penulis-menulis/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar