Laman

Kamis, 24 Februari 2011

Cermin Salman


Salman menghampiri cermin perlahan. Ia mencari bayangan. Namun yang ditemukannya hanya pantulan suram. Benarkah wajahnya muram? Atau cermin itulah yang terlampau kusam? Salman tidak yakin. Ia tidak pernah yakin pada penampilannya yang sesungguhnya. Sebagaimana ia tidak pernah yakin pada pendapat kawan-kawan, atau kedua orangtuanya tentang dirinya. Setiap kali Salman menatap cermin, hatinya gusar. Dan dadanya terasa panas terbakar. Yang bisa ia lakukan apabila perasaan itu datang hanyalah menarik napas dalam-dalam lalu membasuh wajahnya perlahan. Butir-butir air berjatuhan dari parasnya yang tegang. Ia masih belum memilih pantulan yang harus ia pegang
Salman kembali menatap cermin yang tergantung pada dinding kamar mandi kampusnya. Ia mencoba menyunggingkan senyum seolah perasaannya baik-baik saja. Senyuman yang selalu berusaha ia tampakkan pada kawan-kawannya di setiap acara, pada keluarganya ketika makan malam bersama, pada adik-adik angkatannya di kampus guna selalu membangkitkan semangat dan asa, atau pada wanita yang dicintainya secara diam-diam di suatu senja. Namun di depan cermin itu ia tidak mampu menahan ujung bibirnya terangkat lama. Sebab ia tak pernah tahu apa alasan memertahankan sesungging senyum di depan cermin yang bisu dan kaku. Karenanya Salman selalu kelelahan setiap kali berusaha tersenyum pada cermin. Pada bayang-bayangnya. Pada pantulannya. Pada dirinya.
Bayang-bayang Salman seolah ingin menceritakan sesuatu dalam kebisuannya. Tapi Salman tidak ingin mempercayainya. Ia terlalu takut untuk percaya pada apa pun jika itu menyangkut kehidupannya. Tentang sahabat-sahabat yang kerap memuji ketangguhan dan deretan prestasinya. Tentang orangtuanya yang selalu bangga padanya. Tentang sang adik yang mengagumi kedewasaanya. Tentang guru-guru yang terpukau kecerdasannya. Tentang wanita-wanita yang meliriknya. Atau tentang perasaan kesepiannya yang selalu coba ia tutupi.
Entah sejak kapan Salman selalu merasa sendiri. Baginya tidak seorang pun bersedia masuk dalam kehidupannya. Berbagi perasaan dengannya. Untuk kemudian menyibak topeng ketangguhan yang kian lapuk itu dari wajahnya. Salman sendiri tidak pernah tahu kapan perasaan terasing itu datang. Ia juga tak pernah mencari tahu dari mana segalanya berpulang. Hanya beban yang ia rasakan tak kunjung berkurang. Berkarung-karung. Menggunung. Kian mengurung.
Kembali Salman membasuh wajahnya. Namun kali ini dilakukan dengan tergesa agar segera dapat kembali melihat bayangannya. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan bercermin meskipun pantulannya tidak pernah menyenangkan. Setidaknya ia bisa menghemat tenaga untuk tidak terus-menerus menjadi si perkasa. Saat bercermin,  adalah kesempatan Salman mengistirahatkan seluruh otot-otot di wajahnya. Memerhatikannya, mencermatinya, memikirkannya. Memerhatikan wajahnya yang makin kuyu saja. Mencermati garis-garis lekuk pipinya yang makin kurus saja. Dan memikirkan bagaimana semuanya bisa terjadi karena beban hidup yang diterimanya begitu saja.
***
Sesungguhnya bagi Salman sendiri, dahulu hidup bukanlah perkara yang perlu dipusingkan dengan kerutan. Meskipun bukan berarti tanpa ujian. Tapi Salman selalu mampu melewatinya dengan senyuman. Senyuman yang tulus. Setulus pengertiannya bahwa hidup tak pernah mulus. Apalagi semulus cermin yang sesungguhnya dihiasi debu-debu halus. Yang menjadikan permukannya lambat-laun buram tergerus.
  Salman mencoba memberanikan diri menatap hidupnya melalui cermin di kamar mandi kampusnya itu sekali lagi. Betapa benda itu kini memantulkan masa lalunya. Maka ia kembali hanyut dalam kenangan. Alangkah menakjubkan sebuah cermin ketika ia mampu menjadi jendela waktu. Pada permukaannya, Salman mencari raut keceriaan masa kanak-kanaknya dahulu. Tapi di sebelah manakah? Mungkinkah pada matanya ia dapati masa-masa keluguan penuh suka cita itu pernah ada? Tapi mengapa sepasang mata di hadapannya tak lagi bercahaya?
Salman tertegun. Agaknya memang ada misteri mata yang belum sepenuhnya terungkap. Tentang bagaimana sepasang mata mampu menyimak sorot pandangnya sendiri ketika dipertemukan oleh sebuah cermin. Pertemuan antara indera pengelihatan dengan bayang-bayangnya sendiri ternyata tidak hanya mampu menyedot cahaya mata namun juga berdaya memendarkan banyak kenangan maupun imajinasi. Salman berpikir, mungkin itu sebabnya ada orang yang begitu lama berkaca sedang sebagian yang lain enggan. Alasan kenangan dan imajinasi kala bersitatap dengan mata sendiri boleh jadi menyenangkan bagi sebagian orang, dan tidak bagi lainnya. Ketika bayangan mata itu mulai menelanjangi diri yang terlampau sering mengenakan busana kebohongan seketika semua terasa memalukan. Begitupun ada kalanya tabir kebohongan yang tersingkap menjadikan diri kian akrab dengan kepolosan. Itulah yang berusaha Salman dapatkan. Kepolosan yang kian menjauhi hari-harinya. Kepolosan yang pernah menjadi selimut hidupnya. Kepolosan yang sangat dirindukannya kini. Maka ia biarkan sorot mata bayangannya berbicara. Menyapa. Bercerita.
***
Sekarang Salman justru teringat pada pelbagai mata yang pernah mengisi hidupnya. Terbayang keteduhan cahaya cinta yang memancar dari sepasang mata Ibunda yang telah tiada. Tanpa terasa Salman menitikkan air mata. Namun bukan karena perasaan kehilangan yang merangsangnya. Salman hanya tak kuasa melukiskannya. Mengapa sorot mata seorang ibu selalu terlihat berbeda dan istimewa? Mengapa tatapannya mampu memunculkan rasa manja? Mengapa kehilangannya begitu menyibak duka? Mata Bunda dulu selalu memberikan Salman berjuta alasan untuk bertahan. Sesulit apa pun, mata bunda menemani hari-harinya dengan  payung harapan. Mengajarinya untuk tidak memendam kebencian setiapkali dijahili teman, menuntunnya mengenal arti ketulusan setiap kali menghidangkan makanan, menempanya lewat sorot mata ketegaran saat ajal menjelang.
Begitulah kesadaran Salman pada keajaiban mata hadir. Mata bukan sekadar bagian dari panca indera biasa. Di sanalah ia banyak menemukan pelbagai dimensi kemanusiaan bertebaran. Cinta dan kebencian. Kejujuran dan kemunafikan. Pengorbanan dan penghianatan. Keseriusan dan permainan. Hingga kesenangan dan penderitaan. Semua terpancar lewat tatapan dan kedipan. Bahkan tatapan kosong kebutaan seorang pengemis jalanan sekalipun mampu mengisahkan ikhwal keserakahan dan keadilan. Keadilan?
Ya, keadilan. Ingatan Salman pada mata dan keadilan melompat terbang lalu hinggap di dahan sebatang pohon ketapang. Di sana kembali ia menyaksikan binar dan kerling mata sang pujaan. Kerlingan yang begitu menggoreskan kesan teramat dalam. Namun juga teramat tabu untuk diungkapkan. Maka Salman hanya bisa memendam getaran. Untuk suatu hari ia telan karena sang pujaan hati itu lebih memilih melambaikan tangan. Mata, keadilan, dan lambaian tangan berputar putar dalam pikiran Salman. Semakin cepat untuk kemudian saling bergesekan. Perih.  Mata itu terlanjur memikat hatinya. Tapi perkara keadilan akhirnya menjadi absurd kala hasrat dan upaya tak bersambut.   
Hati Salman berdebar. Gemuruhnya menyebar. Tubuhnya bergetar. Pantulan bayangan tangannya bergerak naik meraba dada. Benarkah di sana tempat segala perasaan bertahta? Salman tidak ingat sudah berapa kali dalam hidupnya ia mengusap dada. Yang masih membekas ialah saat-saat ketika ia mencoba mengekspresikan kesabaran di tengah kegundahan. Saat untuk pertama kalinya ia menginginkan mainan. Saat pertama kalinya ia kehilangan mainan. Saat ditinggal pindah seorang teman. Saat pengumuman nilai ujian. Saat menunggu di antrean. Saat kesal karena kehilangan peran pada sebuah pementasan. Saat menyaksikan pejabat bicara sembarangan. Saat kelompok demonstrasinya digebuki dengan pentungan. Saat cinta untuk kesekiankalinya bertepuk sebelah tangan. Atau saat ia mencoba menghadapi semuanya lagi-lagi dengan senyuman.
Tangan Salman mengepal kala mengingat pelbagai keinginan dan upayanya dahulu yang kerap terbentur gagal. Sementara ia terus dihadapkan pada pilihan antara meneruskan obsesi atau bersimpuh menangisi. Sungguh ia tidak pernah memilih berada dalam situasi ini. Semua murni konsekuensi. Terlahir di sebuah keluarga di mana segala kebutuhannya tercukupi. Namun tetangganya kesulitan mencari nasi. Menikmati pendidikan di sekolah bergengsi. Namun sahabatnya masih saja bergelut dengan urusan memenuhi nutrisi hidup sehari-hari. Karenanya Salman harus berpikir. Terus berpikir bagaimana agar kehidupan antar manusia mampu  terjembatani. Agar tak bergerak sendiri-sendiri. Agar langkah kakinya, ayunan tangannya, getar bibir dan lidahnya, anggukan dan gelengan kepalanya, hembusan napasnya, hingga kedipan mata mampu menciptakan harmoni.
Dalam posisi inilah Salman merasa harus selalu terlihat tegak berdiri. Tingkah lakunya harus terpuji. Selalu tampil gagah berani. Pikirannya harus selalu melahirkan solusi. Percaya diri. Cerah berseri. Tidak ada celah untuk memperjuangkan ambisi diri. Tidak ada ruang untuk menampakkan kesedihan hati. Jika terpukul jatuh, harus segera bangun kembali. Matanya harus jeli. Telinganya harus peka dan empati. Kata-katanya harus bernas dan berisi. Harmoni. Harmoni. Entah apakah demi keadaan itu berarti Salman juga tak boleh mati?
***
            Salman menelusuri diri. Mencoba menghitung-hitung setiap pengalaman yang pernah ia lewati melalui pantulan lugu cermin di hadapannya itu. Ia mengingat-ingat dan memandangi setiap organ tubuhnya yang tanpa terasa telah melakoni banyak peristiwa. Namun Salman segera tersadar bahwa itu hanyalah upaya yang sia-sia. Siapakah gerangan yang mampu mengingat tiap gerak dan kejut otot-otot di tubuhnya sendiri? Padahal mungkin telah banyak dosa dan kesalahan telah dilakoni. Dosa-dosa yang dilakukannya lewat jemari kala mengetikkan bait-bait narasi dalam naskah orasi, atau mulutnya yang kerap mengulum caci maki dengan kata-kata suci. Sementara entah sudah berapa banyak waktu terbuang. Berapa banyak waktu yang ia abaikan.
            Sayangnya cermin Salman di kamar mandi kampusnya tak mampu memberi jawaban atas pertanyaan waktu. Lagi-lagi sekadar pantulan bisu yang menampilkan bayangan muram dan sendu. Salman menunggu. Barangkali persoalan waktu memang hanya mampu dijawab oleh waktu, bukan dirinya, atau bayangan pada cermin yang gagu.
            Salman sadar pada keterbatasan cermin. Kemampuannya tak lebih pada permainan imajinasi masa lalu. Sedangkan masa depan yang terus bergerak mendekat berada di sisi yang berbeda. Sisi yang justru masih Ia punggungi. Masa depan melesat dalam detik-detik yang kerap Salman abaikan kemudian menembus raganya lalu berubah bentuk menjadi masa lalu yang mengukir kerut di keningnya, menumbuhkan beberapa uban di kepalanya yang terbilang masih belia, menyerap serat-serat daging di tubuhnya yang dulu prima.
            Salman mencoba berbalik. Baginya sekarang adalah saat yang tepat memunggungi masa lalu. Tapi ternyata memunggungi masa lalu memang tak semudah itu. Pinggang Salman terasa kaku. Masa lalu menambat tubuh Salman, mamaksanya untuk terus berdiam. Menerornya dengan berbagai ketidakpastian.
            Salman berontak melawan. Sebuah kepastian ia hadirkan di balik punggungnya yang dipenuhi tonjolan belulang. Di sana ia yakini kematian tengah menjelang. Maka pertanyaan tentang apa yang harus ia lakukan berdatangan. Satu demi satu, lalu mulai membanjiri pikirannya. Bergerak, berputar, semakin cepat, semakin padat.
Bagaimana Salman harus menata hidupnya yang terlanjur dihibahkan demi oranglain sebagai mahasiswa panutan? Bagaimana dengan kenyamanan yang terus dituntut oleh raga dan pikirannya? Bagaimana dengan cintanya, haruskah ia perjuangkan? Lalu tentang pengakuan, tuntutan mengenai ikhwal yang satu ini semakin keras saja berdengung di pikirannya, perlukah ia wujudkan? Lantas bagaimana dengan orang-orang di luar sana, yang masih mengais sampah tanpa pernah diakui keberadaannya sebagai menusia melainkan sekadar deretan angka? Bagaimana dengan moral intelektualnya sebagai seorang berpendidikan mampu ia pertanggungjawabkan kelak setiap kali berhadapan dengan pelbagai atraksi kebejatan bangsanya?
Harmoni. Kata itu kembali muncul. Salman tersenyum. Harmoni yang selalu menjadi impiannya menari-nari dalam visualisasi Salman. Suatu kondisi di mana semuanya berjalan dengan indah, saling menunjang, dan melengkapi. Salman selalu memimpikan dirinya sempat mengecap situasi itu suatu hari nanti. Tidak ada yang mengorbankan dan dikorbankan. Sebab semua bergerak sebagaimana seharusnya. Dan ia pun berada dipusaran itu. Berputar dengan damai sambil memejamkan mata. Tidak ada lagi yang perlu didengar, dilihat, diraba, dirasa dan dipikirkan sebab segalanya terjaga dalam keseimbangan absolut.
Harmoni kini menjelma perempuan yang dirindukannya. Bunda. Harmoni mendekapnya hangat. Mengajaknya bercerita dengan raut keceriaan. Mengelus kepalanya hingga Salman larut dalam kantuk. Membelainya lembut. Harmoni menjelma perempuan lain yang begitu dicintainya dahulu. Menggenggam erat tangannya sambil tersipu. Harmoni menyandarkan kepalanya pada dada Salman dengan manja. Harmoni mengecupnya sayang.
   Utopia. Kata itu membuyarkan semuanya. Salman menangis tanpa suara. Utopia menghantam keras ubun-ubunnya dengan godam raksasa. Utopia, kata itu memaksa Salman harus memilih antara kenyamanan diri ataukah pengabdian sempurna pada orang-orang di sekitarnya. Utopia mengancam dengan menghadirkan opsi teramat pahit : pilih salah satu atau tidak sama sekali.
Apa yang bisa Salman lakukan sebagai mahasiswa panutan kini? Ia sadar gelarnya hanya citraan cermin belaka. Selebihnya Salman hanya manusia biasa, atau bahkan di bawah standar dari kriteria biasa. Sebab manusia biasa tidak pernah terlalu membutuhkan cermin untuk sekadar menjalani hidup. Sedangkan Salman?
***
Ah, di manakah Salman sekarang?
            Salman telah menghilang. Tidak ada lagi sesosok pria gundah di depan cermin kamar mandi kampus itu. Salman lenyap tak berjejak. Ia tidak mampu lagi berhadapan dengan pilihan. Namun, tanpa disadari, ia sesungguhnya telah memilih: Tidak menjadi apa-apa, lebur dalam ketiadaan setelah sebelumnya tersungkur di hadapan banyangannya sendiri.
            Tinggallah cermin Salman bergantung dalam sepi. Menunggu dengan sabar sosok berikutnya yang hendak berkaca dan meratapi diri[]  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar