“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”(Qs Ali Imran :104)
Apa yang muncul di pikiran anda saat mendengar nama Jamaah al-Muqtashidin(JAM)? Gambaran anda dan saya amat mungkin berbeda karena ini menyangkut pengalaman yang sangat personal. Di kepala saya sendiri, saat ini, persis ketika mengetikkan baris-baris kalimat pada tulisan ini, tergambar potongan-potongan kesan yang tidak teratur, nama-nama, sebuah tempat, dan aneka ekspresi yang bergerak, berputar, kemudian gugur satu per satu layaknya daun-daun kering.
Sekarang kesemuanya benar-benar menyerupai daun kering yang berserakan di bawah sebuah pohon teduh. Daun-daun itu kemudian bergulung dan kembali menampilkan jejak-jejak pengalaman bersama JAM tujuh tahun ini. Ya, tujuh tahun. Pengalaman saya dengan JAM memang tujuh tahun. Bukan satu tahun sebagaimana nama saya pernah tercatat sebagai salah seorang pengurusnya. Bukan pula tiga tahun sebagaimana terdaftar pada salah satu unit medianya. Bukan. Bahkan tujuh tahun itu masih terus akan bertambah hingga kini.
Tidak bergabung bukan halangan bagi sebuah ikatan, agaknya saya rasakan benar. Entah karena sejak awal menginjakkan kaki di kampus terlanjur dekat dengan beberapa pegiatnya, atau karena menemukan tempat beristirahat yang nyaman di sela-sela jam perkuliahan, keterlibatan itu hadir begitu saja. Lingkungan ini tidak asing, dan itu sudah cukup untuk dijadikan alasan interaksi. Hanya karena ada semacam pertimbangan strategik dan kemampuan sematalah peleburan fisik itu tertunda hingga tiga tahun lamanya.
Sungguh, masih segar dalam ingatan, kala canda tawa menjadi suasana yang menghiasi sekretariat JAM di bawah naungan masjid al-Muqtashidin. Apa yang mengesankan adalah bagaimana saya yang pada awal perkuliahan bukan termasuk anggota, diterima di tempat itu dengan dekap persahabatan. Yang terjadi kemudian, saya acap kali terlibat dalam pelbagai aktivitasnya. Mulai dari sekadar peserta event yang baik, seksi sibuk tanpa status divisi yang jelas dalam suatu acara, hingga turut serta dalam musyawarah besar yang seharusnya, sebagai orang luar, kurang pantas saya ikuti. Apalagi sampai terlibat voting pemilihan Dewan Formatur! Ringkasnya sebuah kekaguman muncul. Bagi saya, JAM tampak istimewa kala itu. Istimewa dengan keramahannya, dengan keterbukaannya, dengan keluguannya, serta kiprahnya.
Belakangan saya tersadar. JAM tidak seelok penampilannya dari sudut pandang orang luar yang sekadar merasa dekat. Hal itu justru saya dapati saat berkesempatan bergabung secara resmi. Apa yang di awal tampak istimewa ternyata merupakan efek kontras dengan lingkungan semata. Selebihnya, JAM biasa saja. Galibnya kebanyakan organisasi, JAM diisi tumpukan program kerja, problematika kedisiplinan, masalah manajerial, termasuk konflik antar aktivis beserta segala celanya.
Saat bergabung itulah tabir JAM tersingkap. Ia bukanlah organisasi yang cukup mapan dengan taburan kelengkapan. Bukan pula subjek tangguh yang militan dalam setiap aksinya. JAM juga gaduh. Dan dalam banyak hal tidak merasa canggung untuk mengeluh. Kesadaran saya seketika membisikkan gumam sendu: Saya telah keliru.
Rasa kecewa tak terhindarkan manakala saya benar-benar bersentuhan dengan permukaan organisasi ini. Kasar. Dan serta-merta nyaris memangkas habis seluruh harapan atas manfaat yang mungkin saya reguk darinya. Terlebih ketika beberapa upaya kontributif yang coba diberikan tidak mendapatkan apresiasi yang saya anggap layak.
Berhadapan dengan kenyataan tersebut, ada beberapa opsi yang mungkin terpikirkan. Pertama, melakukan demonstrasi perlawanan dengan resiko tidak populis dan boleh jadi kehilangan kawan. Kedua, bersikap afirmatif, yakni dengan menerima segala yang tampak di depan mata sebagai suatu keniscayaan yang tidak perlu diubah. Cukup dinikmati saja apa pun yang terjadi. Jika perlu menjadi bagian dari segala cacat yang sebelumnya begitu menyebalkan tadi demi kenyamanan. Pilihan kedua ini, tentu membawa resikonya sendiri pula, yaitu saya bisa kehilangan diri saya sendiri termasuk potensi-potensi yang ada.
Kedua opsi di atas pernah saya coba semuanya. Dalam sebuah fragmen, menjadi pembangkang. Seolah-olah yang bisa dilakukan saat itu hanya ungkapan ketidaksetujuan. Maka jadilah saya individu yang tidak disukai, entah dalam perilaku keorganisasian maupun sebagai pribadi. Merasa kesepian, sesekali saya mengubah posisi menjadi pendukung status quo. Kawan-kawan mulai kembali mendekat, tapi saya kehilangan diri saya sendiri, sekaligus merasa begitu kejam karena membiarkan pelbagai masalah yang ada dalam tubuh JAM menumpuk tak terselesaikan. Kedua pilihan penyikapan awal tadi ternyata tidak menyelesaikan persoalan sama sekali. Lantas pertanyaan mengenai alasan bertahan mau tidak mau menyeruak. Untuk apa saya di sini? Bukankah posisi saya semula(sebagai sekadar orang luar) justru memberi keleluasaan berbuat lebih banyak? Bukankah pada posisi tersebut saya justru mampu menikmati JAM dengan lebih nyaman?
Namun kesadaran bahwa penyesalan tak pernah mampu memberi jawaban, menjadi alasan bertahan. Dan ini berarti siap membuka ruang toleransi yang seluas mungkin pada ketidaknyamanan. Berusaha mewujudkan pemakluman. Dari sanalah saat itu tanpa disadari saya pelan-pelan mendapatkan sesuatu. JAM memberikan ruang pembelajaran tentang kelapangan dada. JAM mengajari saya tentang kenyataan. Sekaligus membenarkan perkataan almarhum Kuntowijoyo, bahwa realitas memang kasar. Lebih-lebih realitas di mana persinggungan antar manusia terjadi dengan demikian massif bahkan merupakan prasyarat.
Benar. Persinggungan antar manusia di JAM membawa saya pada sebuah pemahaman tentang organisasi apa pun bentuk dan tujuannya. Bahwa organisasi dakwah sekalipun, karena memang diisi oleh manusia, watak manusiawi pasti akan muncul juga. Hal itu berarti sesuci apa pun misi organisasi tersebut, sesekali pasti bisa tampil sangat menyebalkan. Demikianlah JAM terkadang tampil kekanak-kanakan, untuk kemudian arogan, dan seketika bisa berubah drastis menjadi sangat cengeng.
Di titik pemahaman tadi rasa-rasanya yang perlu dilakukan bukan sekadar penerimaan atau penolakan melainkan sejenak mengambil jarak. Menggeser sedikit posisi berdiri untuk mendapatkan sudut pandang baru. Meletakkan beban amanah yang mulai terasa teramat menjemukan karena siklus rutinitas yang diciptakannya. Di titik ini, upaya merajut kenangan kembali dibangkitkan, mengingat awal cerita, mencurahkan perasaan dan uneg-uneg, mengenang nama-nama, untuk kemudian merangkaikannya dalam imajinasi. Sebab, rasa-rasanya inilah yang kurang dalam diri JAM sebagai lakon manusiawi.
***
Berikutnya adalah nama-nama. Siapa nama-nama yang berkelebat di pikiran anda saat bersinggungan dengan JAM? Siapa? Di pikiran saya beberapa nama ada yang lebih menonjol dari lainnya karena persinggungan dan impresi personalnya memang memendarkan cahaya. Cahaya nama-nama ini rasanya tidak perlu saya kotori dengan menyebutkannya satu-persatu karena mungkin saja nama-nama itu lebih hebat membawa berjuta narasi dari yang mungkin saya ceritakan. Untaian mutiara yang begitu tulus melakoni aktivitas agung bernama dakwah. Tanpa banyak bicara seperti saya. Tanpa banyak mengeluh seperti saya. Dan lakunya nyaris tak membersitkan arogansi seperti saya.
Cerita tentang JAM tentu saja tidak dapat dipisahkan dari nama-nama. Tentang lakon yang menari dalam panggung peristiwa. Tentang si “dia” yang ketabahannya mempermalukan kemampuan kawan-kawannya. Atau si “dia” yang amal rahasianya terungkap perlahan hingga menghentak rasa suci diri sejawatnya. Ini juga cerita tentang si “dia” yang akhirnya terkucil karena lingkungan ‘saudaranya’ sendiri berlaku ‘kejam’ padanya. Ada pula “dia” yang kecewa lalu larut dalam warna pembangkangan tak kunjung reda. Tapi ini semua proses dalam sejarah masing-masing nama. Si “dia”, “dia”, dan si “dia” masih mengukir tintanya, hidupnya, juga amalannya.
JAM dan nama-nama, mengisahkan kenangan yang sarat makna. Perpaduan antar ruang dan isi, latar dan komposisi. Ia juga berarti simponi dengan aneka notasi di mana keindahannya tersusun atas detail-detail unik yang terangkum pada tiap-tiap masa. Meskipun demikian, suratan takdir JAM sebagai lembaga dakwah dan nama-nama yang membawanya hingga hari ini tidak pernah menetapkannya sebagai lakon yang egoistik dan narsistik. Yang melulu bicara tentang dirinya sendiri, nasibnya sendiri, apalagi masalah-masalahnya sendiri. Sebab Ia lahir, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan yang sarat kegetiran dan ironi. Lingkungan di mana keterbelahan dan keterpecahan diri justru dirayakan sebagai unjuk eksistensi: FE UII.
Sebab itu pula, FE UII bagi JAM bagaikan keluarga yang harus diselamatkan. Meskipun hal itu berarti sesekali terlibat percekcokan dengan anggota keluarga lain, kasih sayang selalu coba ia curahkan. Berusaha menginspirasinya dengan akhlak maupun keteladanan. Merangkulnya dengan cinta dan pengorbanan. Mengajarinya makna kesabaran, keberanian dan harga diri.
Dengan demikian FE UII tidak hanya dipandang sebagai ruang menimba ilmu pengetahuan. Tidak pernah demikian. JAM bukan sosok oportunis yang menganut prinsip “habis manis sepah dibuang”. Keinginannya membantu dan memberi sebanyak-banyaknya pada FE UII agar cita-cita luhurnya tercapai. Itulah cinta JAM pada lingkungan tempatnya dilahirkan. Cinta yang begitu besar walaupun kadang bertepuk sebelah tangan.
Bagaimana tidak? Perayaan keterbelahan yang terjadi di FE UII mesti disikapi JAM dengan terus mengampanyekan integrasi kepribadian dalam bingkai keislaman. Sebuah kerja berat membangun kesadaran afiliasi keimanan yang mengharuskan totalitas pengerahan segenap kemampuan dari tangan-tangan mungil mereka. Di saat yang sama, atmosfer keterbelahan itu juga konsisten menampakkan isyarat rayuannya sendiri. Dari hari ke hari para pegiat JAM terus disuguhi atraksi sekularisasi dalam pelbagai wujud, entah berupa instrumen akademik, godaan penampilan, banalitas ekspresi, hingga parade hedonisme yang ber-haha hihi. Tarikan dan dorongan lingkungan dalam hal ini menjadi keniscayaan. Apakah harus meleburkan diri dalam gejolak arus keterbelahan tadi, atau tetap kekeuh memegang misi titah Ilahi.
Di lingkungan tersebut JAM akhirnya berada pada posisi yang serba sulit. Setidaknya itulah yang tervisualisasi di pikiran saya. Sulit, karena beban visinya yang terlampau tinggi itu terlanjur dijadikan wasiat turun-temurun. Sementara perangkat yang tersedia jauh dari memadai. Belum lagi wasiat visi JAM tidak pernah diimbangi dengan pewarisan ide dan gagasan. Oleh karenanya tidak jarang persoalan kesinambungan dalam mata rantai amal kerap mengemuka di sela-sela Musyawarah Besar pada setiap akhir periode kepengurusan.
Namun, jika toh hari ini nama-nama yang melekat di tubuh organisasi mungil tersebut terus berganti dan mengalami peremajaan, ini membuktikan bahwa semangat dan harapan memang jauh lebih penting bagi kehidupan daripada solusi-solusi praktis. Keduanya seolah-olah menjadi ruh yang menggerakkan segenap sel-sel tubuh JAM untuk setidaknya tetap menggulirkan roda kaderisasi, mengajak kampus FE mau sejenak bersujud dengan lantunan azannya, hingga berdiri gagah menyuarakan kebenaran.
***
JAM, nama-nama, dan lingkungan tempatnya berdiam, menjadi perpaduan yang masih terus mencarti titik keseimbangannya. Di saat visi luhur organisasinya belum lagi mampu diterjemahkan dengan baik dalam wujud kerangka rerja yang handal, problematika nama-nama satu persatu menyeruak kepermukaan. Begitupun lingkungan FE, dan UII sebagai ruang hidupnya tak henti-hentinya memproduksi aneka persoalan yang menagih jawaban.
Sebenarnya hal tersebut amatlah lumrah. Selama kehidupan masih ada, di sana persoalan akan terus tampil. Sebab cela manusia yang tak luput dari khilaf jelas akan memantik sebuah kasus yang dapat membesar tanpa mampu diprediksi sebelumnya. Namun yang terpenting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa JAM, nama-nama, dan lingkungannya memiliki keterkaitan. Penyelesaian persoalan di satu aspek tidak boleh mengabaikan wawasan mengenai aspek yang lain. Jika tidak demikian, jelas lingkaran persoalan yang membekap tiap entitas akan selalu sama dari periode ke periode tanpa membekaskan perbaikan yang berarti.
Karenanya JAM memang akan selalu membutuhkan medium pembelajaran untuk terus mengenal diri dan lingkungannya. Medium itu mungkin berupa saat-saat perenungan dalam kesendirian, forum-forum dialogis yang hangat akan nuansa ukhuwah, atau bahkan selepas perdebatan panas yang memicu adrenalin. Mengenali selalu merupakan usaha terus-menerus . Ia adalah semacam upaya menggali makna keberadaan di tengah-tengah realitas yang terus bergerak.
Ya itulah yang coba kembali saya lakukan saat ini. Kembali mengenali diri, mengenali JAM sebagai ruang kontribusi saya dahulu, untuk terus melanjutkan pada mengenali keseluruhan realitas demi sebuah kesyukuran atas kesempatan hidup yang diberikan Allah hingga detik ini[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar