UII memang akhir-akhir ini layak berbangga. Setelah Mahfud MD dipercaya sebagai ketua Mahkamah Konstitusi(MK), berikutnya Busyro Moqoddas memegang posisi yang amat menentukan nasib perjuangan pemberantasan korupsi di Indonesia sebagai ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Publik kini tinggal menunggu kiprah keduanya sebagai ujung tombak penegakan rasa keadilan yang hari ini kian sulit didapatkan. Ini juga merupakan ajang pembuktian bahwa institusi pendidikan Islam layak diharapkan melahirkan sarjana-sarjana yang mampu memberikan kontribusi bagi probematika kejujuran di tanah air.
Sejatinya jauh sebelum kedua jabatan penting penegakan hukum tersebut di tempati, jebolan UII memang dikenal luas memiliki wibawa tersendiri. Usia tua institusi yang menaunginya agaknya memang melahirkan kematangan tradisi yang khas, begitupula jumlah lulusannya yang bertebaran di seluruh penjuru nusantara. Jika pengakuan itu akhirnya datang, rasa-rasanya memang patut dipahami sebagai akumulasi dedikasi yang melahirkan kredibilitas. Ia dibangun tidak semalam dua malam melainkan puluhan tahun rentang pergulatan dengan kondisi keindonesiaan dengan segenap kompleksitasnya.
Dengan memerhatikan hal tersebut, sudah selayaknya civitas UII banyak-banyak berterima kasih kepada para pendahulu yang telah memantapkan sebuah tradisi pembelajaran sekaligus idealisme yang melatari keberhasilannya. Apalagi di era globalisasi saat ini yang mensyaratkan banyak persinggungan. Civitas UII pada khususnya hendaknya terus mengupayakan penggalian identitas otentik di mana resep keberhasilan yang dituai saat ini pernah mengalami kristalisasi. Sebab tidak sedikit institusi yang akhirnya ambruk lantaran menelantarkan jati dirinya sendiri kala berhadapan dengan pesona globalisasi dengan segenap janji-janjinya.
Di sini globalisasi memang perlu dipahami sebagai ruang pertarungan. Ia tidak perlu disikapi dengan ketertutupan atau pertahanan rapat, melainkan semangat memerjuangkan sebuah idealisme. Visi peradaban yang ada pada UII harus dijadikan bahan bakar demi tujuan tadi karena terkandung di dalamnya sebuah obsesi menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (baca:rahmatan lil alamin). Rahmatan lil alamin ini tentu saja bukan dipahami dengan tafsir dari ‘orang lain’ sebagaimana hari ini banyak dicatut para pengusung paham pesanan imperialis yang mengupayakan tersebarnya wacana relativitas agama, melainkan koheren dengan pemahaman awal generasi pendahulu UII sambil mengupayakan tajdid yang merupakan keniscayaan zaman.
Mengapa penulis kemudian memberikan titik-tekan pada persoalan ini? Pemicunya tidak lain adalah kondisi UII saat ini yang tengah mengalami euforia pasca keberhasilan beberapa jebolannya eksis di lembaga-lembaga tinggi Negara. Kesuksesan di satu sisi memang mampu memantik kebanggaan dan motivasi bagi keberhasilan lanjutan namun di lain sisi, rentan akan godaan yang boleh jadi menjerumuskan. Tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa keberhasilan UII saat ini berperan meningkatkan pamornya sekaligus potensi keuntungan lain di baliknya. Bersamaan dengan citra institusi yang kian bersinar, minat bergabung dari orang luar juga semakin tinggi. Orang luar di sini dapat berarti calon mahasiswa baru, korporasi, atau pihak-pihak lain yang membawa pelbagai kepentingan baik ideologis maupun non ideologis.
Sayangnya tidak semua pihak yang mendekat pada simpul-simpul keberhasilan membawa kebaikan. Pelbagai motivasi amat mungkin ada tidak terkecuali motiv menunggangi demi ambisi ideologis yang amat bertentangan dengan prinsip awal entitas yang ditunggangi. Dalam kasus ini, citra kesuksesan dan keberhasilan itulah yang menjadi incaran bagi tersebarnya sebuah paham atau keyakinan.
Modusnya bisa bermacam-macam. Mulai dari tawaran kerjasama, hingga iming-iming jaringan dan dana. Terlebih belakangan agresifitas UII mengejar peringkat dunia sepertinya terbaca sebagai pintu masuk bagi pelbagai tawaran yang menjanjikan percepatan perolehan sasaran yang diharapkan tersebut. Sebagaimana diketahui peringkat dunia atau yang lebih dikenal dengan atribut World Class University bukanlah gelar yang dapat dicapai dengan mudah dan murah. Serangkaian upaya menjadi syarat yang harus dipenuhi apabila suatu institusi pendidikan tinggi bermaksud masuk dalam kriteria tersebut. Ada standarisasi mencakup pelbagai perangkat akademik maupun non-akademik yang wajib diwujudkan jika ingin terus bersaing dikancah peringkat global.
Pertanyaannya, siapkah UII memenuhi sendiri segala syarat tersebut? Jika belum, amat wajar manakala strategi jaringan digunakan. Jaringan dalam hal ini mampu melengkapi kebutuhan UII akan perangkat yang dinilai masih kurang guna mencapai tujuan yang diidamkan. Namun jaringan juga harus disadari memiliki kepentingan. Di sinilah letak negosiasi dan kompromi terjadi. Tawar-menawar menyangkut ‘siapa-mendapat apa’ hendaknya perlu mengalami proses audit kepentingan yang ketat. Jangan sampai pertukaran yang terjadi demi sekadar atribut(aksidensi), mengorbankan idealisme institusi(substansi). Karena jika itu terjadi, dapat dipastikan suatu institusi akan menjadi entitas pragmatis yang mudah diombang-ambingkan oleh simpul-simpul kuasa yang perlahan tapi pasti menggerus visi dirinya sendiri.
Penggerusan visi akibat proses tawar-menawar bukan hanya akan membuyarkan cita-cita, namun juga mampu memandulkan bahkan meruntuhkan suatu keberadaan. Sebagaimana diketahui, eksistensi bukan saja dinilai dari sehebat apa citra yang disematkan melainkan juga kemampuan eksternalisasi filosofi diri dan kemampuan berkehendak. Jika filosofi dan kehendak diri itu hilang, tentu dapat dipastikan keberadaan suatu institusi dengan sendirinya akan melebur dalam ketiadaan.
UII mungkin perlu belajar kepada Al-Azhar di Mesir, atau ISTAC-IIUM di Malaysia mengenai hal ini. Sebagai institusi pendidikan tertua di dunia, usia bukan semata-mata dijadikan atribut kebanggaan oleh Al-Azhar. Lebih dari itu, konsistensi terhadap visi mengembangkan ilmu pengetahuan Islam telah memantapkan eksistensinya hingga hari ini. Kewibawaan al-Azhar dan lulusannya seolah menjadi jaminan kualitas pengetahuan dan pemahaman keislaman yang diakui di seluruh penjuru dunia. Seakan-akan seseorang belum mantap belajar Islam jika belum sempat menimba ilmu di Al-Azhar. Konsistensi yang sama juga terlihat pada ISTAC. Institut yang didirikan oleh Najib Al-Attas ini begitu percaya diri pada filosofi dan cita-cita awal didirikannya. ISTAC bahkan rela membatasi jumlah mahasiswanya konstan di angka100 setiap angkatannya demi sebuah kualitas yang diharapkan. Obsesi ISTAC membangkitkan kembali peradaban Islam rupa-rupanya begitu dijiwai hingga menghasilkan metode pembelajaran yang khas yakni tardib bukan sekadar tarbiyah apalagi sampai mengekor metode pembelajaran dari peradaban sekular.
Berkaca pada dua institusi pendidikan di atas, seyogyanya UII segera mengambil sikap. Terlebih dalam momentum citranya yang tengah naik daun di mata masyarakat. Inilah saat yang tepat bagi UII mengentalkan identitasnya sebagai perguruan tinggi Islam yang mampu menjadikan ideologinya sebagai bagian dari solusi kehidupan berbangsa dan bernegara. UII tidak boleh dilarutkan oleh gejala-gejala sumir semisal tren wacana atau agenda. Sebaliknya, dirinyalah yang harus terus produktif melahirkan tawaran wacana entah dalam bentuk solusi hingga sosialisasi paradigma alternatif yang berasal dari spirit ideologinya sendiri yakni Islam ,alih-alih menghabiskan energi demi sekadar mengejar peringkat dunia. Sebab penulis yakin bukan obsesi demikian yang sukses mencetak orang-orang semisal pak Mahfud dan pak Busyro[]
mantap dan..
BalasHapussmg bisa diikutin sama UGM