Ustadz, mengapa engkau belum pulang juga? Hari telah larut malam. Kawan-kawan telah berbalik ke peraduan. Ustadz, ustadz, mengapa lama sekali engkau meninggalkan kami tanpa kabar kali ini? Jemukah kau mengajar kami? Apapula salah kami hingga engkau urung memberikan kabar kapan akan kembali?
Ustadz, tidakkah kau rindukan kami Ustadz? Kami sadar kadang kami bengal. Namun mata kami pun mampu melihat kau terlalu sayang pada kami untuk meninggalkankan jika hanya itu alasannya. Matamu terlalu teduh bagi sebuah kebencian. Hatimu terlalu bening untuk menyembunyikan dendam. Tangan kurusmu seolah mengisyaratkan kelemahan menyakiti sekecil apa pun jika itu makhluk Tuhan. Tapi kenapa hingga larut malam ini tak juga kami dapati isyarat cintamu?
Di mana engkau Ustadz? Hening malam ini semakin menyayat. Sungguh rindu ingin segera tertambat. Di sini kami ingin ikhlas Ustadz. Sementara kau belum lagi merampungkan pelajaranmu pada kami ikhwal keikhlasan. Bagaimana kami bisa merelakan? Tiba-tiba saja kau menghilang petang itu. Padahal malamnya kami sudah menanti wejangan baru darimu. Kami menanti dan terus menanti kehadiranmu hingga larut yang akhirnya menyambangi. Sadarkah kau Ustadz? Kau berhutang pada kami!
Ada tanggungan yang belum kau tunaikan. Kau belum lagi rampung menyampaikan khazanah pengetahuanmu. Malam ini kami kembali menagihmu. Sebab pelajaranmu tentang amanah masih tersimpan dalam ingatan kami. Dulu kau pun selalu menjadikan dirimu sendiri sebagai papan tulis yang menghimpun kalam tentang bagaimana amanah seharusnya kami cengkram dengan geraham dan tangan tergenggam. Rasa haru kami tak tertahankan waktu kau dengan gamblang menjelaskan kemajuan pendidikan kami pada orangtua kami. Kaujabarkan aliran dana keluar dan masuk kas pesantren kita. Kautunjukkan bagaimana dana itu digunakan sampai ke urusan yang sebetulnya terlalu remeh untuk disampaikan. Kau perlihatkan pada kami pengabdianmu siang malam. Hingga kami nyaris tak pernah melihatmu beristirahat. Sebab kau selalu bangun lebih awal dan tidur di akhir penggal. Setiap subuh dengan sabar kau bangunkan kami satu per satu. Terkadang kau percikkan air ke wajah kami yang membuat santri-santrimu ini menggerutu. Demi amanah yang kau jaga, kau terima raut tak menyenangkan kami setiap pagi dengan senyuman. Demi Allah! Perlihatkanlah kekuatanmu menopang amanah pada kami sekali lagi Ustadz! Jangan biarkan kami mengambil keteladanan dari lakon sandiwara kekuasaan negeri ini. Yang hari-harinya diisi dengan menginjak-injak amanah demi sebuah kesan yang mendatangkan sanjungan dan tepuk tangan.
Pulanglah Ustadz!
Malam ini masjid pondok kita memanggil-manggilmu. Sedang sajadahmu masih saja terlipat rapi di sudut mihrabmu. Mushaf mungilmu menangisi kepergianmu. Mimbar ceramah kita kehilangan sahabatnya. Obatilah rindu mereka Ustadz! Mereka menanti lantunan tilawah dan bacaan sholatmu yang merdu. Yang tak kuasa kami berikan pada mereka.
Ustadz, belumkah juga kau merindukan anak istrimu? Kami dapati mereka kini semakin sering menangisimu. Kami kerap bertanya pada mereka ikhwal kepergianmu. Setiap itu terjadi mereka semakin sering menangis. Maka kami enggan bertanya lagi pada mereka. Ustadz, kau pun tahu, di antara kami ada yang pernah ditinggal pergi ayahnya. Ia katakan sakit rasanya. Terlebih jika alasan kepergian itu tak jelas. Ustadz, betapa kepergianmu meninggalkan berjuta tanya di hati keluargamu. Di manakah mereka harus mencari jawabnya? Apakah kau pun tak sempat meninggalkan barang secarik surat untuk mereka Ustadz?
Dari hari ke hari kami mencari kabar tentangmu. Kami takut sesuatu telah terjadi atas dirimu. Dari surat kabar, radio dan televisi kami baca dandengar orang-orang sepertimu telah dijadikan buruan dan sasaran tembak aparat negara tanpa pengadilan. Apakah itu alasan kepergianmu Ustadz? Kami tak sanggup membayangkan tubuhmu tertembus pelor, bersimbah darah. Kami ngeri membayangkan sosokmu yang ringkih harus berkejaran dengan tubuh-tubuh kekar. Kami gemetar membayangkan tiap malam kau harus kedinginan di luar sana berteman belukar. Kami tak tega membayangkan saat ini kau tengah mencengkram perutmu menahan lapar.
Ustadz, pulanglah ustadz!
Kami sudah sisakan makan malam untukmu di sini. Tiap malam kami selalu sediakan sepiring nasi, tempe, goreng lele, dan segelas teh hangat guna berjaga-jaga sandainya kau pulang tiba-tiba. Selimut pun telah kami siapkan di pojok masjid kita jika kau ragu memasuki rumahmu karena takut membangunkan istrimu yang telah terlelap seperti biasa. Air di bak kamar mandi sudah kami isi jika kau ingin bersuci sepulangmu nanti. Dan sebagian dari kami masih terjaga jika kau membutuhkan pijatan pelepas lelah.
Ustadz, adilkah membiarkan kami menunggumu seperti ini? Baru kemarin rasanya kami mendengarkan petuahmu untuk setia berbuat adil. Tapi sejak kepergianmu yang tanpa pamit itu, rasa keadilan kami tersakiti Ustadz. Di mana lagi kami mencari keteladanan yang melakoni keadilan kini? Dulu kau pernah berhasil menunjukkannya pada kami tatkala seorang santri anak pejabat mencuri di pondok ini. Tanpa pandang bulu kau hukum dia layaknya santri-santri lain kala berbuat serupa. Meskipun akhirnya kau harus berhadapan dengan caci maki orangtuanya yang tak terima, kau tetap bersabar menjelaskan duduk perkaranya. Bersabar menerima pukulan pengawal pejabat itu. Bersabar dalam keadilan yang kau yakini.
Semakin lama kami semakin memahami makna pelajaran darimu waktu itu. Ketika kami dapati koruptor gendut negeri ini melenggang bebas dengan tenang. Dan orang-orang sepertimu terancam mendekam di tahanan. Di sana keadilan justru semakin terdengar. Keadilan semakin tegas mengeras dalam dada kami Ustadz. Keadilan berbicara pada kami lewat pemberitaan penangkapan pejuang syariat. Keadilan berteriak di telinga kami teramat nyaring kala mendengar bandit pajak yang seharusnya berada dalam kurungan kedapatan menyaksikan pertandingan tenis di pulau tempat turis asing biasa mengumbar aurat, bermodal segepok uang suap senilai harga diri aparat. Di tempat yang berbeda, aktivis HAM yang mulutnya biasa berbusa entah karena berkoar-koar ataukah terlalu banyak menenggak minuman keras, bungkam. Telinga mereka tersumbat jika ada laporan pembantaian dan orang hilang berasal dari kalangan seperti kita. Sepertimu. Maka pelajaran darimu semakin bermakna ustadz. Semakin hidup!
Sekarang di mana kau Ustadz? Gunung-gunung sontak bergemuruh di seluruh penjuru negeri menyaksikan orang-orang sepertimu lenyap satu demi satu. Ada yang dibui. Ada yang ditembak mati. Gelombang laut tidak lagi bersahabat manakala mendengar fitnah atas orang-orang sepertimu. Fitnah yang juga sering kami dengar tentangmu menjelang kepergian dadakanmu dulu. Dengan raut kebencian komplotan yang mengaku pembela toleransi dan perdamaian memojokkanmu sebagai penebar kebencian. Gerahkah kau mendengarnya hingga membuatmu memutuskan untuk pergi? Sudah habiskah kesabaranmu yang dulu tak mampu kami lihat batas tepinya?
Ustadz, kami selalu menyaksikan ketabahanmu dalam diam. Kami tidak buta untuk melihat bahwa kau terlalu banyak menanggung beban. Kami paham semua bermula dari upayamu untuk senantiasa jujur di hadapan Tuhan. Jujur sebagai hamba yang mencoba menjalankan titah-Nya setiap saat.
Pondok ini menjadi saksi kekayaanmu ketika engkau dengan tegas menolak kucuran dana ratusan juta sebagai penukar kejujuranmu pada Allah. Kautampik bujukan, rayuan, tekanan, ancaman, demi nilai kejujuran. Seolah semua enteng di hadapanmu.
Kau tak pedulikan media massa yang menjuluki pondok kita sebagai tempat persemaian orang-orang fanatik, radikal, atau kolot. Begitu tenangnya dirimu waktu gerombolan penjual proposal program pemajemukan yang mengaku intelektual, ramai-ramai melecehkanmu sebagai sosok yang berpikiran sempit, pengekang nalar, diskriminatif, hingga kearab-araban. Ketenanganmu justru memperlihatkan wajah mereka sebagai fanatik, radikal, kolot, picik, dungu, dan kebarat-baratan. Betapa hebatnya kejujuranmu yang melahirkan ketenangan mampu menyingkap kedok makar setan.
Ah, ustadz, ustadz, andai saja kami mampu mewarisi ketenanganmu saat ini. Namun sungguh kami tak mampu. Sepeninggalmu bula lalu, beberapa kali kami dapati orang-orang tak dikenal berkeliaran di pondok ini. Tubuh mereka kekar, mata mereka liar, dan ruang kerjamu kerap mereka bongkar. Buku-bukumu mereka tebar dengan kurang ajar! Siapa mereka Ustadz? Tatapan mereka mengejar!
Ustadz, jika orang-orang inilah yang menjadi alasanmu tak kembali, janganlah kembali! Jangan sampai engkau didapati. Sebab kami punya naluri, nurani mereka telah mati. Kami tak sudi kau diintrogasi, dibui, atau ditembaki dengan keji.
Ustadz, LARI!

Keren2....
BalasHapusYang ini baru aku nyambung maksudnya...
hehe
Inspiratif dan realistis !
BalasHapus