Laman

Sabtu, 23 Februari 2013

Sintaksis dan Problem Rekonstruksinya: Sebuah Pengantar



Pertanyaan yang paling sering dimunculkan awak redaksi Majalah Sintaksis khususnya generasi angkatan 2006 ke bawah adalah, ke mana sebetulnya arah media tempat mereka berkiprah? Problem lain cenderung klise semisal masalah transformasi dari para pendahulunya yang dirasa minim, sistem pembinaan SDM yang belum baku serta pakem rubrikasi yang dirasa tidak begitu jelas batasannya. Selebihnya, keterampilan teknis seperti tulis-menulis dengan ragam jurnalistik, fotografi, layout, dan keahlian membuat proposal yang mampu menggerakkan calon pengiklan mungkin bisa dimasukkan dalam daftar persoalan.
            Tumpukan persoalan di atas memang menuntut jawaban jika ke depan media yang dirintis satu dekade lalu ini hendak melenggang maju. Sebabnya, nyaris problematika tersebut tidak mendapat respons memadai pada tiap periode kepengurusan hingga menyebabkan melemahnya arus transformasi di samping pewarisan masalah yang terus menumpuk. Oleh karena itu, tulisan ini dimaksudkan untuk merumuskan beberapa problem mendasar yang mungkin dibutuhkan oleh pegiat Sintaksis guna menyusun formulasi yang tepat mengenai apa itu Sintaksis dan ke mana sesungguhnya ia sebaiknya diarahkan. Karena itu pula tulisan ini menghindari sebisa mungkin paparan mengenai hal-hal yang bersifat teknis, namun lebih menekankan pada esensi problematika itu sendiri sebagai landasan memutuskan strategi maupun taktik untuk memecahkan problem-problem lain yang akan senantiasa muncul pada tiap zamannya.

Latar belakang

Entah kapan tepatnya Media Dakwah Kampus(MDK) pertama kali muncul. Boleh jadi kelahirannya tidak jauh dengan kemunculan Lembaga Dakwah Kampus(LDK) itu sendiri. Namun jika pertanyaannya diimbuhi, berapa banyak media dakwah kampus yang usianya mampu menempel usia sang induk(baca:LDK)? Jawabannya mungkin tidak ada. Persoalan kesinambunagan agaknya merupakan hal pelik yang paling sulit diatasi media jenis ini. Tidak jarang MDK yang bahkan gagal mencapai usia satu tahun.
Sebenarnya jika kita mencoba mendiagnosis, setidaknya ada dua penyebab pokok yang menghambat pelbagai upaya memerpanjag napas MDK. Pertama, MDK masih dianggap sebagai alternatif syiar hingga kerap diposisikan sebatas program kerja dalam departemen tertentu pada struktur LDK. Umumnya, MDK menjadi bagian dari program kepengurusan bidang semacam humas atau syiar di mana pengelolaannya masih disambi dengan sekian banyak program kerja lain. Hal ini menyebabkan MDK dikelola dengan manajemen yang buruk hingga mengakibatkan rendahnya performa. Sedangkan yang kedua, MDK kebanyakan tidak didasari landasan filosofi dan konseptual yang kokoh. Yang terakhir ini diindikasikan dengan minimnya visi jangka panjang serta format yang cenderung mengekor media dakwah mainstream.
Dua persoalan inilah yang kemudian memantik reaksi dari kepengurusan Sintaksis pada masa kepemimpinan Ridwan Hidayat sekitar enam tahun yang lalu hingga memengaruhi bentuk Sintaksis saat ini. Pada era kepemimpinan Ridwan, dibentuklah struktur redaksi Sintaksis yang dibedakan dengan pengurus Badan Khusus Media dan Informasi (BK.Medif) yang membawahinya. Perlu diterangkan di sini pada waktu itu Sintaksis masih menjadi program kerja dari divisi Medif. Itu artinya ia hanya satu dari beberapa program kerja yang perlu diselesaikan pada satu periode kepengurusan. Maka pembentukan struktur redaksi ini kemudian memunculkan stuktur dalam stuktur yang dimungkinkan karena BK.Medif merupakan badan khusus yang memiliki keleluasan dalam hal rekruitment. Apa yang dilakukan Ridwan dkk waktu itu segera menunjukkan tren positif dan menjadi cikal bakal metamorfosis Sintaksis dari sekadar program kerja menjadi Badan Khusus setingkat departemen. Perubahan inilah yang kemudian diwarisi oleh pegiat Sintaksis berikutnya, di mana mereka dapat lebih fokus bekerja dalam ruang lingkup yang lebih spesifik(baca:bermedia).
Tentu saja proses perubahan ini bukan tanpa resiko. Jika tidak didasari pemikiran mendalam, pembetukan sistem yang andal, dan sumber daya manusia yang memadai, transformasi dalam suatu organisasi dapat menjadi kontra-produktif. Hal ini cukup dimengerti oleh kepengurusan BK Sintaksis periode awal. Maka pada periode ini, yakni kepengurusan Anggia Paramitha, BK Sintaksis untuk kali pertama membuka penerimaan anggota secara mandiri. Sebelumnya, awak Sintaksis hanya terdiri dari anggota BK.Medif ditambah beberapa pengurus JAM yang memiliki ketertarikan di bidang jurnalistik. Kondisi ini jelas tidak memadai manakala Sintaksis membutuhkan input anggota dengan minat dan bakat di bidang jurnalistik. Realisasi jalur baru penerimaan anggota tadi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
            Namun langkah yang lebih strategis dan visioner sebetulnya terjadi pada kurun sebelumnya yakni dengan dimunculkannya inisiatif untuk membuat semacam modul panduan media lengkap dengan karakteristik serta pola pembinaan keanggotaan[1]. Dalam panduan tersebut diharapkan segenap pegiat Sintaksis dapat memiliki rujukan mengenai sejarah, filosofi dan visi media, kualifikasi dan jenjang keanggotaan, serta kurikulum pembinaan. Munculnya gagasan ini dikarenakan Sintaksis cenderung mengalami perubahan jati diri pada tiap pergantian kepemimpinan. Perubahan dalam suatu media tentu wajar terjadi namun jika perubahan tersebut bukanlah bermakna pertumbuhan dan tanpa landasan maka hal itu mengindikasikan ketidakmapanan tujuan media tadi. Kebutuhan lain yang coba untuk direspons melalui hadirnya panduan bermedia adalah demi menjawab tuntutan pewarisan pengetahuan. Yang terakhir ini merupakan problem klasik yang kerap diidap organisasi dakwah mahasiswa tidak terkecuali media dakwahnya. Ini juga yang menjadi sumber masalah setiap kali muncul pertanyaan mengenai Sintaksis dan warna jurnalismenya.
Sayangnya, meski gagasan mengenai pembuatan panduan ini terbilang baik, namun pengerjaannya tidaklah mudah. Sebab selama ini tradisi intelektual di tubuh organ yang menginduki Sintaksis sendiri bisa dibilang amat kurang. Ini misalnya dapat dilihat dari sulitnya melacak rumusan gagasan yang benar-benar solid tentang mengapa Sintaksis dibentuk bahkan penamaan media ini pun tidak disertai kisah yang memungkinkan rasa ingin tahu generasi Sintaksis terpuaskan. Lantas jika kemudian panduan baku ini dituntut untuk menampilkan pandangan filosofis dan konseptualnya, tentu membutuhkan lompatan intelektual yang jauh dari orang-orang yang diamanahi mengeksekusinya.
Walhasil, panduan itu gagal diwujudkan pada periode tersebut. Tapi untuk sementara  setidaknya secara kasar gagasan-gagasan dasar mengenai Sintaksis dan arah jurnalismenya cukup dipahami oleh mereka yang terlibat dalam kerja-kerja keredaksian. Hingga tibalah saat sebagian besar redaksi senior yang justru paling memahami narasi dasar itu harus meninggalkan posnya dikarenakan kesibukan akhir masa studi untuk kemudian kembali ke kampung halaman masing-masing pasca kelulusan. Dari sini pewarisan wawasan ‘kesintaksisan’, kembali menghadapi hambatan.

Pilihan Kutub-kutub Jurnalisme

Dari garis besar jabaran fase metamorfosa Sintaksis pada paparan sebelumnya, pembahasan mengenai signifikansi panduan bermedialah yang rasanya perlu dielaborasi lebih jauh, sebab dari sini rumusan perubahan Sintaksis dari generasi ke generasi hendak dimapankan dan dicari benang merahnya dalam sebuah rumusan konseptual. Kebingungan ikhwal apa makna media, berita, jurnalis, beserta sifat dan fungsinya bagi Sintaksis diharapkan dapat terjawab. Ini juga merupakan ikhtiar untuk menghindarkan pegiat MDK ini dari cara pandang yang diombang-ambingkan selera publik mengenai media dan posisi dirinya sebagai insan media itu sendiri.
Umum diketahui bahwa pengetahuan mengenai media dikalangan aktivis muslim cenderung terfragmantasi pada dua kutub. Di satu sisi media dianggap sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai normative, sedang di kutub lain ada pandangan yang memberatkan pada problem sosial dan budaya publik pembacanya(kontekstual).
Kutub pertama tidak jarang memberi tekanan yang lebih pada unsur-unsur doktriner dalam ajaran Islam beserta isu-isu eksklusifnya seperti jilbab, batasan interaksi dengan lawan jenis, masalah palestina dan seterusnya. Hal ini kemudian ditampilkan dalam bentuk jurnalisme monolog atau meminjam istilah Sudirman Tebba “menampilkan Islam sebagai rubrik” sebagai oposisi dari apa yang disebutnya “menampilkan Islam sebagai napas”[2]. Lembar jumat merupakan contoh yang paling mudah untuk menunjukkan model kutub pertama ini. Sintaksis sendiri pernah mempraktikkannya di masa-masa awal pembentukannya. Keunggulan jurnalisme semacam ini tentu ada. Selain nilai-nilai dapat disampaikan dengan jelas dan tegas, warna media yang bersangkutan juga dapat diidentifikasi lebih mudah. Dan disebabkan kemudahan pengenalan warna media tadi, generasi pengurus berikutnya dengan mudah pula dapat mencontoh dan meneruskan. Problem pewarisan pun bukan lagi sesuatu yang pelik.
            Namun demikian model jurnalisme ini memiliki kekurangan-kekurangan jika ditinjau dari perspektif komunikasi massa. Sebuah pesan, memiliki tingkat keberterimaan tinggi manakala ia mampu berdialog dengan pengalaman sosial dan budaya pembacanyanya. Di samping itu ternyata pembaca memiliki skala prioritas informasi yang tidak selalu sama dengan apa yang dianggap penting oleh pegiat media. Dalam konteks dakwah kampus sendiri persoalannya kemudian masih ditambah dengan kesamaan status di antara pegiat MDK dengan pembacanya yakni sama-sama berpredikat mahasiswa bahkan tidak jarang pula ia dikonsumsi oleh mereka yang notabene memiliki status akademik lebih tinggi seperti dosen atau rektor. Karena itu jika jurnalisme semacam ini hendak digunakan, pegiat Sintaksis tentu akan mendapatkan tuntutan, sorotan, hingga pertanyaan berkaitan dengan otoritas keilmuannya.
Di samping alasan tadi, ada hal lain yang patut menjadi pertimbangan. Jika kita hendak membuka mata, tantangan yang dihadapi kaum muda khususnya mahasiswa yang menjadi target pembaca MDK kini kian kompleks. Budaya konsumerisme, hedonisme, dan perayaan narsisme memerlukan perhatian tersendiri dari para pegiat dakwah kampus. Ini masih ditambah dinamika sosial dan ekonomi kontemporer yang kerap memengaruhi orientasi belajar seorang mahasiswa pada motif-motif yang cenderung materialistik. Tidak jarang pula motif-motif tersebut mendapat pembenaran hingga penekanan dari lingkungan tempat mereka mengenyam pendidikan tinggi. Perlu dipahami juga bahwa mahasiswa berada dalam kompleks informasi dan pengetahuan yang lebih luas dari sekadar lingkungan kampus. Mereka bisa berinteraksi dengan gemerlap dunia malam, memiliki akses pada opera sabun, pertandingan sepak bola, kontes menyanyi dan memasak, hingga mencermati isu-isu dunia dan kenegaraan mutakhir termasuk di dalamnya diskursus keagamaan sambil sesekali diselingi persuasi iklan di layar kaca. Kompleksitas semacam ini tentu menjadi pertimbangan lain jika hendak mempertahankan genre jurnalisme dakwah tradisional.
Kompleksitas tantangan di atas itulah yang hendak direspons oleh kutub kedua. Dengan berangkat dari problem sosial, Islam hendak ditampilkan sebagai landasan jurnalisme itu sendiri. Dalam perspektif ini, fungsi jurnalisme konvensional hendak diinjeksi dengan nilai-nilai yang bersumber dari ajaran normative islam. Islam dan keislaman dirasa tidak perlu secara eksplisit hadir, namun semangatnya dapat dirasakan berdasarkan pemilihan berita dan narasumber, penggiringan opini melalui framing, serta pelbagai solusi yang mungkin akan ditampilkannya. Sederhananya, jika media konvensional didaulat memiliki fungsi kultural, informasi, sosial, politik dan hiburan[3], media dakwah tinggal mendefinisikan ulang fungsi-fungsi tadi dalam bingkai Islam. Dengan demikian, media dakwah khususnya MDK dapat mengcover pelbagai tema sekaligus mampu menyajikan konten yang dekat degan pengalaman sosial pembacanya secara aktual sekaligus faktual.
Sungguhpun demikian, keunggulan jurnalisme model terakhir ini dapat menjadi kelemahannya. Pasalnya ikhtiar tersebut menuntut keterlibatan intensif pegiat MDK dengan lingkungan guna mendapatkan input yang presisi terkait problematika yang hendak diangkat. Keterlibatan di sini jika tidak didasari paradigma, prinsip, kekuatan gagasan, nalar kritis dan integritas individu yang kokoh, justru rentan menjadikan jurnalis MDK terperangkap dalam serangkaian apologi dan pembenaran atas sesuatu yang sebelumnya dianggap persoalan. Kasus Sintaksis edisi 44, tahun ke-VIII,Juli 2010 yang menyoroti kegandrungan UII terhadap tren World Class University(WCU) dapat menjadi contoh bahwa mode jurnalisme “napas” semacam ini membawa resikonya sendiri. Dalam edisi tersebut, opini media yang hendak disampaikan cenderung sumir. Bahkan pada cover edisi ini, judul “Menuju World Class University” lebih berasosiasi pada promosi ketimbang kritik.  Padahal, jika merunut proses perumusan masalah pada rapat-rapat redaksinya, gagasan mengenai persoalan WCU yang dapat mengancam cita-cita dan visi lembaga pendidikan tinggi Islam sudah cukup dielaborasi melalui serangkaian olah wacana. Rupanya pada tahap reportase lapangan, opini yang awalnya sudah terbentuk tak kuasa berhadapan dengan serangkaian argumentasi yang dibangun pihak-pihak yang dimintai keterangan yakni dosen maupun jajaran birokrasi kampus. Di sini nampak bahwa nalar kritis jurnalis Sintaksis belum mampu mengikuti model jurnalisme ini.
Lantas muncul pertanyaan, model jurnalisme mana yang sesungguhnya hendak diadopsi Sintaksis? Haruskah Sintaksis kembali “merubrikkan Islam” atau kekeuh “mengislamisasi rubrik” dengan konsekuensinya masing-masing? Atau sintaksis mungkin akan mencoba keluar dari kategori media islam ala Tebba tadi? Jawabnya kembali pada apa makna media bagi Sintaksis, di samping tentu saja pertimbangan strategik yang berkorespondensi dengan tantangan dakwah di lapangan.

Visi, Nama, dan Pembentukan Karakteristik

Sampai di sini kita mafhum, menentukan model jurnalisme saja tidak cukup untuk membentuk suatu identitas media. Ibarat sesosok manusia, model jurnalisme yang dipilih baru sekadar menampilkan postur namun belum lagi tersibak bentuk wajahnya. Perlu disadari, jati diri suatu media tersusun berdasarkan akumulasi kombinasi persamaan dan perbedaan dalam kategori-kategori yang terus mengerucut hingga sampai pada sebuah titik yang disebut “keunikan”.
            Keunikan media selalu menuntut penegasan karakteristik yang spesifik namun tetap dapat dikenali sebagai bagian dari kategori konvensi publik. Dalam hal ini Sintaksis perlu menampilkan diri dan dikenali pula sebagai media. Ia bukanlah sesuatu yang lain. Sebagai media ia tetap dapat memilih berada dalam kategori cetak atau elektronik, melingkupi area yang luas ataukah sempit, menargetkan publik dengan latar belakang homogen ataukah heterogen dan seterusnya. Namun pilihan-pilihan ini tentu harus didasari oleh tujuan yang benar-benar kuat hingga dapat dijiwai oleh seluruh aktivis sintaksis pada posisi apa pun dalam struktur organisasi.
Di sini signifikansi visi bagi pembentukan karakteristik media mengemuka. Perumusan visi sintaksis sendiri sebetulnya bukan sesuatu yang sulit. Visi JAM selaku induk organisasi hanya perlu diturunkan dan disesuaikan dalam konteks bermedia. Hanya saja guna menyokong pertumbuhan Sintaksis, verbalisasi visi ini haruslah kuat dan berkarakter obsesif. Kita tidak bisa lagi berharap pada visi-visi “melangit” yang umum didapati terpampang pada dinding-dinding organisasi dakwah. Visi Sintaksis haruslah dapat merangsang imajinasi pegiatnya tentang apa yang harus dilakukan guna mewujudkannya. “Menjadi opinion leader” misalnya, akan terasa lebih kuat dan mudah dibayangkan daripada “Mewujudkan khairu ummah”, kira-kira demikian.
Lantas apakah cukup verbalisasi visi sintaksis diderivasi dari visi JAM ? Belum. Hal lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana menghubungkan verbalisasi tadi dengan “unsur pengingat” sehingga ia dengan mudah bisa kembali dirujuk. Di sini kita dihadapkan pada sebuah masalah dikarenakan unsur pengingat visi media yang paling mudah tidak lain adalah nama media itu sendiri. Sintaksis sebagai brand sejatinya dapat juga difungsikan sebagai indeks sebuah visi. Namun sayang, sintaksis adalah sebuah konsep sekuler yang tidak merujuk pada suatu sistem nilai islam sementara nilai-nilai itulah yang berusaha di sampaikan melalui media ini. Mengganti nama media sebenarnya dimungkinkan namun ini hanya menjadikan media tersebut ahistoris disamping kurang strategik bagi penguatan posisinya dalam benak khalayak. Maka solusi yang layak untuk dicoba adalah melakukan islamisasi pada tataran semantik atas kata “Sintaksis”[4].
Dari penegasan visi, karakteristik akan lebih mudah dirumuskan. Kita tinggal memasukkan pertimbangan-pertimbangan stratejik dalam rangka mewujudkan visi yang ada. Pengenalan yang baik akan diri dan kondisi lapangan mutlak dibutuhkan dalam upaya mengukuhkan posisi Sintaksis di tengah khalayak pembacanya beserta medan komunikasi yang menjadi ruang hidup mereka. Dari sana tujuan media dapat didialogkan dengan kebutuhan serta selera pembacanya yang diidentifikasi tidak lagi hanya berdasarkan spekulasi. Penekanan pada pengenalan yang baik akan diri dan situasi lapangan ini memang perlu mendapatkan perhatian serius tidak hanya bagi MDK tapi juga LDK. Kemalasan interaksi dan bersosialisasi otomatis menjadi musuh yang harus dilawan oleh setiap pegiat dakwah di mana pun dan dalam medan apa pun. Apalagi dalam konteks ikhtiar mengukuhkan keunikan diri di tengah publik, keragaman dan warna-warni yang ada di sekitar seorang duat perlu menjadi wawasan yang tidak sekadar diketahui namun juga dirasakan. Jika tidak, sunatullah akan berlaku di sini, kita tidak akan dikenali jika tidak berupaya mengenali. Media Sintaksis tidak akan eksis tanpa mengakui eksistensi publik pembacanya terlebih dahulu yakni dengan mempelajari dan menjalin relasi yang tepat[]



[1] Pada periode kepengurusan 2007-2008 dibentuklah tim perumus buku panduan Sintaksis yang beranggotakan kombinasi antara redaksi lama dan baru diantaranya Anggia Paramitha, Marvita Widi Astari, Eka Prasetya, Wildan Taufiq, Mega Aisyah Nirmala, Desita Puspitasari, dan Dinda Jayanti.
[2] Lihat Sudirman Tebba, “Orientasi dan Visi Pers Islam” dalam Idi Subandi Ibrahim (ed), Media dan Citra Muslim:  Dari Spiritualitas Berperang Menuju Spiritualitas Untuk Berdialog (Yogyakarta: Jalasutra,2005), hlm. 480-481.
[3] Lihat Greme Burton, Yang Tersembunyi di Balik Media(terj),(Yogyakarta: Jalasutra, 2008), hlm. 87-89.
[4] Penjabaran Islamisasi makna “Sintaksis” akan diuraikan pada artikel yang berbeda demi menjaga fokus.

2 komentar: